Solokini.com — Mengapa suhu udara di Solo terasa dingin banget pada malam hari selama bulan Juni hingga Juli? Fenomena penurunan suhu yang signifikan di pertengahan musim kemarau ini dikenal luas oleh masyarakat Jawa dengan istilah bediding.
Perbedaan cuaca yang kontras, di mana siang hari terasa terik sementara malam hingga dini hari justru dingin menusuk, memang kerap memicu rasa penasaran warga Surakarta dan sekitarnya.
Bagi warga lokal, fenomena bediding sebenarnya bukan hal baru. Namun, tidak sedikit yang heran, mengapa justru saat musim kemarau, ketika sengatan matahari siang terasa begitu membakar, suhu udara malam harinya malah bisa merosot tajam?
Musim Dingin Australia “Jalan-Jalan” ke Tanah Jawa
Secara ilmiah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa penyebab utama hawa dingin ini adalah pergerakan Angin Monsun Australia.
Pada periode Juni hingga Agustus, Benua Australia yang berada di belahan bumi selatan sedang mengalami puncak musim dingin. Hal ini memicu terbentuknya pusat tekanan udara tinggi di Australia.
Massa udara yang dingin dan kering tersebut kemudian terdorong dan berembus melintasi wilayah Indonesia di selatan khatulistiwa, mulai dari Nusa Tenggara, Bali, hingga Pulau Jawa.
Uniknya, angin yang bertiup dari Australia ini membawa sedikit sekali uap air. Alhasil, udara dingin yang menyelimuti Kota Solo terasa kering dan menusuk tulang. Sangat berbeda dengan udara dingin saat musim hujan yang cenderung lembap.
Langit Tanpa “Selimut” Awan
Faktor kedua yang tak kalah penting adalah minimnya tutupan awan di langit Solo selama musim kemarau. Menurut BMKG, awan di atmosfer sebenarnya berfungsi layaknya “selimut” yang menjaga kehangatan bumi.
Di siang hari, tanpa halangan awan, daratan menyerap radiasi sinar matahari secara maksimal. Namun saat malam, panas bumi yang tersimpan tersebut langsung dilepaskan kembali ke atmosfer luar dengan cepat karena tidak ada awan yang menahannya.
Proses pelepasan panas bumi secara mendadak inilah yang membuat suhu daratan Solo anjlok drastis, terutama menjelang subuh.
Posisi Matahari yang Menjauh
Selain pengaruh angin dan tutupan awan, BMKG juga mencatat dampak dari posisi semu matahari. Sepanjang Juni hingga Juli, matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU).
Kondisi ini membuat wilayah Pulau Jawa menerima pancaran sinar matahari dengan sudut yang lebih miring. Akibatnya, jumlah energi panas yang diterima daratan relatif lebih sedikit dibandingkan saat matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa.
Jadi, kalau belakangan ini kamu malas mandi pagi atau harus mengenakan jaket tebal saat keluar malam, tak perlu heran. Ini adalah tanda alami bahwa puncak musim kemarau sedang berlangsung, membawa hembusan angin dingin dari daratan Australia langsung ke Kota Bengawan.
Jangan lupa untuk selalu menjaga daya tahan tubuh dan penuhi asupan air putih harianmu, ya!














