Fenomena Jumat Berkah di Solo, Solidaritas dari Masjid ke Jalanan

Gerakan Jumat Berkah dari organisasi sosial Infaq Dakwah Center. (dok. IDC)

Solokini.com — Istilah “Jumat Berkah” kini telah menjadi bagian erat dari denyut nadi masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah Solo Raya.

Berakar dari konsep ziyadatul khair atau bertambahnya kebaikan dalam Islam, hari Jumat diyakini sebagai Sayyidul Ayyam (pemimpin hari) yang penuh keutamaan.

Manifestasi dari keyakinan ini mewujud nyata dalam gerakan sosial kemasyarakatan, khususnya berupa pembagian makanan gratis kepada jemaah masjid maupun masyarakat luas yang membutuhkan.

Merunut sejarahnya, akar tradisi berbagi makanan di Solo sebenarnya sudah berlangsung lama, namun awalnya lebih melekat pada momen adat atau bulan suci.

Salah satu contoh ikonik adalah tradisi pembagian Bubur Samin gratis di Masjid Darussalam, Jayengan, yang rutin digelar setiap bulan Ramadan.

Memasuki medio 2016 hingga 2018, gerakan membagikan makanan khusus di hari Jumat mulai terorganisasi secara rutin melalui komunitas sosial. Salah satu pelopor gerakan ini adalah komunitas SiJum (Nasi Jumat).

Berdasarkan dokumentasi organisasi sosial And We Care (andwecare.com), program nasi Jumat berkah di area Solo Raya mulai berjalan secara berkala dengan menyasar pekerja jalanan seperti tukang becak, pemulung, dan ojek online.

Baca Juga :  Solo Keroncong Festival 2026, Padukan Musik Keroncong Tradisional dan Modern

Di masa-masa tersebut, beberapa masjid mulai mengadopsi gerakan serupa secara mandiri.

Ledakan tren pembagian makanan gratis ini kemudian menjamur secara masif di banyak masjid di Solo pasca-pandemi COVID-19, tepatnya mulai tahun 2021 ke atas.

Faktor pemulihan ekonomi memicu gelombang solidaritas yang tinggi di tingkat akar rumput. Masjid-masjid, mulai dari masjid bersejarah seperti Masjid Al-Wustho Mangkunegaran hingga masjid perkampungan, mulai rutin menyediakan ratusan porsi makanan gratis setelah salat Jumat.

Gerakan ini terus berkembang dan bertransformasi tidak hanya dalam bentuk nasi kotak di masjid, tetapi juga merambah ke program pemberdayaan lingkungan dan instansi.

Mengutip rilis resmi Universitas Muhammadiyah Karanganyar, salah satu contoh inovasi gerakan ini terlihat di Masjid Al Munir UMPKU Surakarta.

Tak hanya konsisten membagikan ratusan paket nasi setiap pekan, masjid tersebut juga mengintegrasikan hasil panen sayur hidroponik binaan jemaah untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Rayakan Piala Dunia, SOCreative dan Pemkot Solo Gelar "Surakarta World Cup FanFest 2026" di Balai Kota

Di sisi lain, instansi pemerintah dan aparat penegak hukum di Solo juga turut mengadopsi kultur ini untuk mendekatkan diri kepada warga.

Berdasarkan laporan berkala di situs resmi Polresta Surakarta, institusi kepolisian melalui Tim Sparta Satuan Samapta serta Bhabinkamtibmas di berbagai kelurahan, seperti Semanggi, Kerten, dan Jagalan, rutin menggelar aksi Jumat Berkah.

Aksi tersebut diwujudkan mulai dari pembagian puluhan kotak makanan siap saji untuk pekerja informal, paket sembako bagi warga kurang mampu, pembagian sayur gratis, hingga penyediaan layanan cek kesehatan keliling.

Melalui sinergi antara manajemen takmir masjid, organisasi sosial, dan instansi formal, Jumat Berkah di Solo kini bukan lagi sekadar aksi sosial musiman.

Fenomena ini telah menjelma menjadi kultur gotong royong modern yang menjaga jaring pengaman sosial sekaligus menghidupkan ruang-ruang rumah ibadah di Kota Bengawan.

Berita sebelumya6 Tempat Makan Selat Solo Paling Terkenal dan Nikmat, Wajib Masuk Daftar Kulineran!