Mengenang Pengorbanan di Bukit Golgota: Esensi Jumat Agung dalam Balutan Libur Nasional 2026

Ilustrasi Jumat Agung.

Solokini.com – Memasuki awal April, masyarakat Indonesia memperingati Wafat Yesus Kristus atau Jumat Agung hari ini, Jumat (3/4/22026).

Momen yang menjadi salah satu pilar terpenting dalam kalender liturgi Kristiani ini bukan sekadar tanggal merah. Melainkan ruang bagi refleksi mendalam mengenai pengorbanan dan kasih.

Peristiwa Golgota, atau yang secara liturgis diperingati sebagai Jumat Agung, merujuk pada rangkaian kejadian penyaliban Yesus Kristus di luar tembok kota Yerusalem sekitar dua milenium lalu.

Melansir PGI, secara ringkas, berikut adalah alur peristiwa Golgota:

  • Penyaliban di Bukit Tengkorak. Setelah melalui rangkaian persidangan, Yesus dibawa ke sebuah tempat bernama Golgota (dalam bahasa Aram berarti “Tengkorak”). Di sana, Ia disalibkan di antara dua orang penjahat.
  • Tujuh Ucapan Terakhir. Selama kurang lebih enam jam tergantung di kayu salib, tercatat ada tujuh ucapan yang disampaikan Yesus. Mencakup pengampunan bagi mereka yang menyalibkan hingga penyerahan nyawa kepada Sang Pencipta.
  • Fenomena Alam. Peristiwa ini ditandai dengan fenomena alam yang luar biasa, yakni kegelapan yang menyelimuti daerah tersebut selama tiga jam serta gempa bumi.
  • Kematian dan Tabir Bait Suci. Saat Yesus mengembuskan nafas terakhir, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah. Momen ini secara simbolis dianggap sebagai runtuhnya penghalang antara manusia dan Tuhan.
  • Pemakaman. Menjelang malam, karena hari berikutnya adalah hari Sabat, tubuh Yesus diturunkan dari salib oleh Yusuf dari Arimatea dan dimakamkan di sebuah kubur batu yang baru.
Baca Juga :  Magister Dikdas UMS Gelar Seminar Self-Healing Bersama dr. Aisah Dahlan, Tingkatkan Resiliensi Emosi

Bagi umat yang merayakan, Jumat Agung adalah waktu untuk mengenang kembali peristiwa di Bukit Golgota.

Mengutip Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, hari ini merupakan peringatan atas puncak kasih tertinggi melalui penyaliban Yesus Kristus sebagai bentuk penebusan.

Peristiwa ini dianggap sebagai titik terendah dalam sejarah iman Kristiani (kematian). Namun sekaligus menjadi fondasi bagi harapan akan kebangkitan yang dirayakan pada hari Paskah.

Berbagai gereja di bawah naungan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia biasanya menggelar ibadah yang bersifat meditatif. Berbeda dengan perayaan lain yang meriah, Jumat Agung ditandai dengan suasana hening.

Di berbagai sudut Indonesia, umat mengikuti prosesi Jalan Salib, sebuah napak tilas penderitaan yang penuh makna, serta ibadah perjamuan kudus yang sakral.

Baca Juga :  Memahami Esensi Hari Bipolar Sedunia, Mengenang Van Gogh dan Menghapus Stigma

Pemerintah Republik Indonesia jauh-jauh hari telah menetapkan hari ini sebagai hari libur nasional.

Mengutip Kemenkoinfra.go.id, penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yakni, Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan MenPAN-RB).

Bahwa tanggal 3 April 2026 secara resmi menjadi waktu bagi umat Kristiani untuk menjalankan ibadah dengan tenang.

Bank Indonesia juga mencatatkan periode ini sebagai rangkaian libur panjang. Mengingat peringatan ini akan berpuncak pada Hari Kebangkitan Yesus Kristus atau Paskah yang jatuh pada Minggu, 5 April mendatang.

Di luar aspek religius, suasana libur nasional ini menjadi potret nyata keberagaman di Indonesia.

Melalui siaran resmi Kemenag RI, pemerintah senantiasa menekankan bahwa pengakuan hari besar keagamaan seperti Jumat Agung adalah sarana memperkuat moderasi beragama.

Negara melalui Kementerian Ketenagakerjaan juga memastikan bahwa hak setiap warga negara untuk beribadah dan beristirahat terpenuhi dengan baik.

Di tengah kesibukan awal tahun 2026, Jumat Agung hadir sebagai jeda sejenak untuk menoleh kembali pada nilai-nilai kemanusiaan, kesabaran, dan solidaritas antar sesama.

Berita sebelumyaMengapa Muslim Salat Jumat? Sejarah Pelaksanaan Ibadah Jumatan