Solokini.com – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Momentum ini bukan sekadar rutinitas upacara bendera, melainkan refleksi historis atas lahirnya kesadaran kolektif sebagai satu bangsa.
Penetapan tanggal ini merujuk pada berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada 20 Mei 1908 oleh para mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia.
Bagaimana sejarah mencatat pergerakan ini, dan bagaimana relevansinya di era digital sekarang?
Titik Balik Perjuangan: dari Senjata ke Pena
Sebelum tahun 1908, perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan bersifat kedaerahan, sporadis, dan mudah dipatahkan oleh politik pecah belah (devide et impera).
Kehadiran Budi Utomo mengubah peta perjuangan tersebut.
Menurut “Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia” yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan (1997), Budi Utomo menjadi organisasi modern pertama yang memiliki struktur kepengurusan formal, tujuan yang jelas, dan tidak berbasis pada kekerasan fisik, melainkan melalui jalur pendidikan dan diplomasi.
Meskipun pada awalnya keanggotaan Budi Utomo masih terbatas pada golongan priayi dan penduduk Jawa-Madura, organisasi ini berhasil menyemaikan ide pembaharuan.
Gagasan dasar yang diusung oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo mengenai dana pendidikan (studiefonds) berhasil menggerakkan para mahasiswa muda seperti Soetomo untuk melihat bahwa kebodohan adalah akar utama penjajahan
Mengutip laman resmi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, esensi dari kebangkitan nasional adalah fase merintis kesadaran nasionalisme melalui persatuan, kesatuan, dan cinta tanah air yang sebelumnya tidak terorganisasi dengan baik.
Penetapan Harkitnas: Simbol Persatuan Bangsa
Mengapa Budi Utomo yang dipilih, padahal ada organisasi lain yang lebih bersifat massal seperti Sarekat Islam atau lebih politis seperti Indische Partij?
Keputusan menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional diambil oleh Presiden Soekarno pada tahun 1948.
Dalam catatan sejarah yang dirilis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pada tahun 1948 Indonesia sedang menghadapi krisis internal pasca-kemerdekaan, termasuk oposisi politik yang tajam dan agresi militer Belanda.
Soekarno membutuhkan sebuah simbol historis yang dapat menyatukan seluruh fraksi politik yang terpecah.
Budi Utomo dipilih karena dianggap sebagai “bapak” dari segala pergerakan nasional yang polanya kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi setelahnya.
Penetapan ini kemudian diperkuat melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Relevansi Harkitnas di Era Digital
Di abad ke-21, tantangan bangsa tidak lagi berupa kolonialisme fisik, melainkan kolonialisme informasi, kesenjangan digital, dan disintegrasi sosial melalui media sosial.
Kebangkitan nasional saat ini harus diartikan sebagai perjuangan melawan kebodohan digital, penyebaran berita bohong (hoaks), dan polarisasi.
Berdasarkan kajian dalam jurnal ilmiah yang dipublikasikan di laman resmi Kemendagri, literasi digital dan penguasaan teknologi menjadi pilar baru dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Jika mahasiswa STOVIA pada tahun 1908 menggunakan pers dan diskusi ruang kelas untuk membangkitkan kesadaran, generasi masa kini dituntut menggunakan ruang digital secara sehat demi kemajuan ekonomi kreatif dan inovasi teknologi nasional.
Hari Kebangkitan Nasional adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang diskusi anak muda yang gelisah melihat kondisi bangsanya. Menjaga api kebangkitan berarti terus merawat persatuan di atas segala perbedaan.














