Solokini.com – Umat Islam atau muslim selalu melaksanakan ibadah salat Jumat atau Jumatan setiap hari Jumat. Yuk simak sejarah Jumatan berikut ini.
Bagi umat Islam, hari Jumat bukan sekadar penutup hari kerja dalam sepekan, melainkan “Sayyidul Ayyam” atau penghulu segala hari. Pelaksanaan salat Jumat merupakan kewajiban bagi laki-laki muslim yang telah memenuhi syarat.
Terdapat alasan di balik pelaksanaan ibadah Jumatan tersebut, mencakup dimensi teologis, historis, dan kosmologis yang mendalam.
Perintah Langsung dalam Al-Qur’an
Dasar utama pelaksanaan ibadah ini adalah wahyu Allah dalam kitab suci umat Islam, Al-Qur’an, Surat Al-Jumu’ah ayat 9.
Dalam ayat tersebut, umat beriman diperintahkan untuk segera meninggalkan segala bentuk perniagaan dan urusan duniawi ketika azan Jumat dikumandangkan demi mengingat Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)
Signifikansi Historis dan Kosmologis
Berdasarkan Hadis Riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa hari Jumat adalah hari terbaik di mana matahari terbit. Terdapat beberapa peristiwa besar yang terjadi pada hari Jumat, di antaranya:
- Penciptaan manusia pertama, Adam.
- Nabi Adam dimasukkan ke dalam surga.
- Nabi Adam diturunkan ke bumi untuk menjalankan misi sebagai khalifah.
- Kehancuran alam semesta atau hari kiamat kelak. (Shahih Muslim, No. 854).
Simbol Persatuan dan Kesetaraan
Secara sosiologis, salat Jumat berfungsi sebagai sarana berkumpulnya umat (jamaah) secara rutin. Berbeda dengan salat lima waktu yang bisa dilakukan secara individu, salat Jumat harus dilakukan secara berjamaah di masjid jami.
Menurut penjelasan dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah karya Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri, ibadah ini bertujuan memperkuat ikatan sosial dan menunjukkan kesetaraan di hadapan Tuhan.
Di mana seluruh lapisan masyarakat duduk berdampingan tanpa memandang status sosial untuk mendengarkan khutbah yang berisi nasihat moral dan ketakwaan.
Pembeda dengan Umat Sebelumnya
Dalam literatur hadis yang termaktub dalam Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Allah telah menetapkan hari-hari besar bagi umat sebelum Islam.
Kaum Yahudi memiliki hari Sabtu dan kaum Nasrani memiliki hari Minggu. Maka, Allah membimbing umat Islam untuk memilih hari Jumat sebagai hari raya mingguan mereka.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis:
“Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita dari hari Jumat. Bagi kaum Yahudi adalah hari Sabtu, dan bagi kaum Nasrani adalah hari Minggu, lalu Allah mendatangkan kita dan memberi hidayah untuk memilih hari Jumat.” (HR. Muslim, No. 855)














