Mengapa Kirab Malam 1 Suro di Solo Identik dengan Kebo Bule?

Solokini.com, Solo — Setiap momen Kirab Malam 1 Suro, iring-iringan sekelompok kerbau albino (kebo bule) menjadi ikon penting yang ditunggu ribuan orang di kawasan Alun-Alun Kidul hingga Keraton Kasunanan Surakarta.

Mereka rela menunggu berjam-jam demi menyaksikan hewan unik yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kebo Bule Kyai Slamet tersebut setiap malam 1 Suro.

Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan ikon utama yang sangat lekat dengan tradisi pergantian tahun baru Jawa di Solo.

Mengapa malam 1 Suro begitu identik dengan kebo bule? Berikut sejarah dan makna filosofi kebo bule secara ringkas.

Sejarah Penunjuk Arah Istana Baru

Hubungan erat antara kebo bule dan Keraton Surakarta berakar dari sejarah masa lalu. Leluhur kerbau albino ini awalnya merupakan hewan peliharaan kesayangan Raja Susuhunan Pakubuwana II.

Dalam buku “Manajemen Risiko Tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta” (Yohana Maya Lalita, 2019) dijelaskan, pada 1745, saat Pakubuwana II mencari lokasi untuk memindahkan istana dari Kartasura yang hancur akibat geger pecinan, leluhur kebo bule tersebut sengaja dilepas bebas. Para abdi dalem kemudian berjalan mengikuti ke mana pun kerbau itu melangkah.

Baca Juga :  Mengenal Malam Kirab 1 Suro di Solo: Sejarah, Makna, dan Uniknya Kebo Bule

Perjalanan panjang tersebut akhirnya berhenti di sebuah lahan yang kini menjadi lokasi berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Karena dianggap membawa petunjuk keselamatan bagi kelangsungan kerajaan, eksistensi kebo bule pun terus dirawat dan disakralkan secara turun-temurun.

Filosofi “Cucuk Lampah” atau Pembuka Jalan

Dalam pelaksanaan upacara adat, kawanan kebo bule memegang peran penting sebagai cucuk lampah, yang berarti pembuka jalan atau pemimpin barisan terdepan dari seluruh rangkaian kirab.

Di belakang barisan kebo bule, barulah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) dan abdi dalem berbaris rapi membawa berbagai pusaka keramat milik keraton secara khidmat dalam keheningan (tapa bisu).

Menariknya, prosesi kirab ini tidak dimulai berdasarkan jam dinding, melainkan dinamika dari sang kerbau sendiri.

Melansir laman resmi Pemkot Solo, kawanan kebo bule biasanya akan keluar dari kandangnya di Gurawan menuju halaman keraton dengan sendirinya tanpa perlu digiring paksa jika waktunya sudah tiba.

Baca Juga :  Hari Bermain Internasional: Saatnya Kembalikan Hak Bermain yang Terampas dari Anak-Anak

Makna Simbolis dan Tradisi “Ngalap Berkah”

Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Solo dan sekitarnya, kebo bule bukan sekadar hewan ternak biasa, melainkan simbol keselamatan yang disakralkan.

Nama “Kyai Slamet” yang melekat pada mereka secara harfiah memiliki arti doa agar selalu diberikan keselamatan dan kemakmuran oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Fakta Unik Kirab Malam 1 Suro

Saat kirab berlangsung, banyak warga yang saling berebut untuk menyentuh badan kerbau, mengambil sisa makanannya, bahkan mengumpulkan kotoran kerbau. Aktivitas ini kerap disebut sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari keberuntungan.

Meskipun bagi sebagian orang awam tradisi ini bernuansa mistis, esensi mendasar dari ritual budaya ini adalah wujud penghormatan terhadap warisan leluhur (nguri-nguri budaya).

Kehadiran Kebo Bule Kyai Slamet dalam Kirab Malam 1 Suro menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu mawas diri, menjaga harmoni dengan alam, dan memohon keselamatan dalam memasuki lembaran tahun yang baru.

Berita sebelumyaIndosat, Adobe dan Kemenparekraf Luncurkan Kolaborasi Strategis Berbasis AI, Ubah Kreativitas Jadi Peluang Nyata