Solokini.com – Melihat infrastruktur di Kota Surakarta (Solo), mungkin timbul pertanyaan: mengapa penanganan macet di Purwosari dan Manahan dengan jembatan layang (flyover), sedangkan di Simpang Joglo justru dengan menaikkan rel kereta (elevated rail) dan jalan bawah tanah (underpass)?
Meski ketiganya sama-sama bertujuan menghapus titik temu jalan raya dan rel kereta demi mengurai kemacetan, pilihan desain tersebut memiliki pertimbangan teknis masing-masing dari instansi terkait.
Berikut ini ringkasan mengapa simpang Joglo dibikin rel layang, lain dengan flyover Purwosari dan overpass Manahan.
- Kerumitan Simpang: Jalan Lurus vs. Simpang Tujuh
Kawasan Purwosari dan Manahan merupakan jalur lalu lintas perkotaan dengan pola yang relatif sederhana. Berdasarkan kajian Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta dalam dokumen Analisis Dampak Lalu Lintas (Amdal Lalin) tahun 2018 dan 2019, pembangunan flyover di Purwosari dan overpass di Manahan dinilai sudah sangat efektif memindahkan arus kendaraan ke atas tanpa perlu mengganggu struktur rel kereta di bawahnya.
Berbeda dari dua lokasi tadi, Simpang Joglo adalah persimpangan tujuh jalan yang sangat padat. Dalam keterangan resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2022, dijelaskan bahwa jika pemerintah memaksakan membangun flyover kendaraan di Joglo, konstruksinya akan sangat rumit, membutuhkan banyak tiang penyangga, serta memicu pembebasan lahan warga secara masif.
- Jenis Kendaraan dan Beban Jalan
Dari sisi beban lalu lintas, koridor Purwosari dan Manahan didominasi oleh kendaraan pribadi, sepeda motor, serta transportasi umum perkotaan dengan beban muatan harian standar.
Sementara itu, data dari Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Semarang / Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada rilis proyek tahun 2021 mencatat, Simpang Joglo merupakan jalur arteri nasional sekaligus urat nadi logistik Pulau Jawa. Setiap hari kawasan ini dilalui truk-truk berat, kontainer, dan bus antarkota. Mengangkat rel keretanya ke atas membuat permukaan jalan di bawahnya tetap rata dan aman disimulasikan untuk kendaraan berbobot besar.
- Efisiensi Ruang dan Solusi Kereta Api
Menurut penjelasan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub saat penandatanganan kerja sama dengan Pemkot Solo pada tahun 2022, mengangkat satu jalur rel kereta api sepanjang 1,3 kilometer jauh lebih efisien daripada harus menaikkan tujuh ruas jalan kendaraan yang sangat rumit.
Dengan mengangkat rel ke udara, ruang di bawahnya menjadi terbuka luas. Langkah ini memungkinkan Kementerian PUPR dan Pemkot Solo menata ulang persimpangan di bawahnya serta membangun underpass, sehingga kendaraan dari berbagai arah tidak lagi menumpuk dan saling mengunci di jalur kereta Solo–Semarang.
Ringkasan Perbedaan
Berikut ini perbedaan antara overpass Manahan, flyover Purwosari, dan simpang Joglo:
- Kawasan Manahan (Overpass, Kajian Dishub Surakarta 2018): Dirancang untuk memecah kepadatan di persimpangan kota berpola Y tanpa mengubah struktur rel.
- Kawasan Purwosari (Flyover, Amdal Lalin Dishub Surakarta 2019): Difokuskan untuk mengatasi antrean kendaraan di jalan arteri lurus akibat pintu lintasan kereta secara cepat dan efisien.
- Simpang Joglo (Rel Layang & Underpass, Proyek Kemenhub & PUPR 2022–2024): Menjadi solusi menyeluruh untuk mengurai persimpangan tujuh jalan yang rumit, menampung truk muatan berat, dan memisahkan jalur kereta api sepenuhnya dari lalu lintas darat.
Kesimpulan
Perbedaan desain infrastruktur di Solo bukan karena ketidakseragaman perencanaan, melainkan pendekatan rekayasa lalu lintas yang disesuaikan dengan kondisi lapangan berdasarkan kajian resmi Kemenhub, Kementerian PUPR, dan Dishub Surakarta.
Flyover Purwosari dan Overpass Manahan menyelesaikan masalah perlintasan kota yang sederhana, sementara Rel Layang dan Underpass Joglo menjadi jawaban atas kerumitan simpang tujuh dan jalur logistik nasional.














