Abaikan Wanti-wanti Tedjowulan, PB XIV Purboyo Gelar Grebeg Besar Sendiri

SISKS Paku Buwono XIV Purboyo Kukugkan Bebadan Keraton Surakarta yang baru, Rabu (26/11).
SISKS Paku Buwono XIV Purboyo Kukugkan Bebadan Keraton Surakarta yang baru, Rabu (26/11).

Kubu Paku Buwono XIV Purboyo memastikan tetap akan menggelar Grebeg Besar Idul Adha 2026 pada 27 Mei mendatang. Pernyataan itu disampaikan Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbai, meski sebelumnya KGPH Panambahan Agung Tedjowulan meminta agar Grebeg Besar hanya digelar satu kali demi menjaga kesatuan keluarga keraton.

Rumbai menyebut rangkaian Grebeg Besar tahun ini tetap berlangsung seperti tradisi sebelumnya, yakni kirab gunungan dari keraton menuju Masjid Besar untuk didoakan sebelum dibagikan kepada masyarakat. Ia menegaskan pelaksanaan Grebeg merupakan dhawuh dalem atau perintah raja.

Baca Juga :  Lomba Desain Seragam Parkir Solo Tuai Polmik, Warganet Justru Soroti Tata Kelola Parkir

“Kalau di Keraton Grebeg Iduladha itu seperti gunungan biasa, lalu dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan, katanys saat ditemui di Kori Talang Paten, Selasa, 19 Mei 2026.

Terkait penentuan tanggal 27 Mei 2026, Rumbai menilai keputusan itu telah sesuai dengan penanggalan Jawa. Rumbai bahkan mengeluarkan legitimasi penyelenggaraan Grebeg oleh Tedjowulan. Menurutnya, Grebeg merupakan agenda resmi kerajaan yang hanya bisa dilaksanakan berdasarkan titah raja yang sah.

“Kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sapa? Kan Gusti Tejo bukan Raja,” ujarnya.

Baca Juga :  Hasil Sidang Isbat, Pemerintah Umumkan Idul Adha 2026 27 Mei 2026

Menanggapi ajakan Tedjowulan agar Grebeg Besar diselenggarakan bersama dalam satu acara, Rumbai justru mempersilakan pihak Tedjowulan bergabung dengan Grebeg yang digelar kubu PB XIV Purboyo. Ia menilai persoalan suksesi di internal keraton sudah selesai karena telah ada pihak yang dinobatkan sebagai raja.

Sebelumnya, pihak Tedjowulan melalui juru bicara Kanjeng Pakoenegoro meminta seluruh keluarga besar keraton menghentikan ego kelompok dan tidak lagi menggelar Grebeg Besar secara terpisah.  Menurutnya, langkah itu penting demi menjaga kekhidmatan tradisi dan mencegah konflik internal di lingkungan Keraton Solo.

Berita sebelumyaPersita vs Persis Digelar Tanpa Penonton, Alasannya Faktor Keamanan
Berita berikutnyaMakna Hari Kebangkitan Nasional di Era Digital, Menolak Lupa Akar Kebangsaan