Listyo S Prabowo Menyadap Prabowo, Buat Siapa?

foto: Instagra/listyosigitprabowo
foto: Instagra/listyosigitprabowo

Selasa kemarin menjadi hari penuh teka-teki. Pagi hari sekali,  di grup WA jurnalis,  telah berseliweran rumor empat jenderal ditangkap.  Salah satunya jenderal bintang empat.

Jurnalis di media mainstream lebih menahan diri sembari menggali fakta di balik rumor itu. Mereka melakukan konfirmasi untuk memecahkan teka-teki empat jenderal dimaksud. Namun media sosial langsung gas,  rumor itu diposting dengan segala bumbunya. Jadilah Selasa mengguncang.  Rumor empat jenderal menenggelamkan kasus Raffi Ahmad yang sedang diterjang boikot,  dan keengganan Menteri Nusron Wahid datang ke KPK.

Malam harinya teka-teki itu akhirnya terjawab. Kepolisian membenarkan ikhwal empat jenderal ditangkap.  Bahkan,  sebagaimana disampaikan Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin dalam keterangan pers di Mabes Polri, penyidik telah menetapkan tersangka terhadap LSP, ASN, dan EH.

Kasusnya? Dugaan tindak pidana penyadapan secara ilegal dan penghapusan data elektronik serta illegal access. Tak tanggung-tanggung, yang disadap adalah Presiden Prabowo Subianto.  Target lain,  sejumlah menteri dan petinggi parpol.

Memang, skandal penyadapan telepon Kepala Negara Indonesia bukanlah hal baru. Pada 2013 terbongkar penyadapan telepon Presiden Indonesia dengan sejumlah pejabat yang dilaksanakan pada tahun 2009. Pelakunya adalah Defence Signals Directorate (DSD) Australia. Targetnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, serta sejumlah menteri kabinet.

Baca Juga :  Ndarboy Genk Batal Meriahkan Panggung GSI Youth Fest Solo

Dalam kasus Presiden SBY itu pelakunya adalah pihak luar.  Namun dalam kasus Prabowo,  pelakunya adalah orang dekatnya,  pejabat yang dia pilih sendiri. Tentu ini mengejutkan,  ada musuh dalam selimut. Ngeri!

Skandal LSP ini akan memanas jika terus diungkap sampai tuntas

Ya,  orang-orang dekat bisa berubah mengerikan.  Ketika dulu saya belajar filsafat,  menemukan analogi  “The Porcupine Dilemma” dari filsuf Arthur Schopenhauer. Analogi “Dilema Landak” mengajak kita untuk membayangkan sekelompok landak di malam yang dingin. Mereka ingin mendekat agar saling berbagi kehangatan dan saling melindungi, tetapi jika terlalu dekat, duri-duri mereka justru akan melukai.

Alih-alih melindungi, LSP justru menjadi duri bagi Presiden Prabowo. LSP alias Listyo Sigit Prabowo jelas orang dekat Presiden Prabowo. Sekarang LSP sebagai Kepala Kantor Staf Presiden.  Ini lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

Baca Juga :  Dua Mahasiswa UNS Sumbang Medali di ASIAN Para Games 2026

Sebelumnya Presiden Prabowo malah mempertahankan LSP sebagai Kapolri dalam kabinetnya.  Tidak serta merta mencopot LSP sebagai Kapolri begitu Prabowo menjadi presiden. Menjelang dua tahun jabatan Presiden, barulah Kapolri diganti. Begitu Kapolri diganti,  mencuatlah skandal penyadapan ini.  Pada 30 Oktober 2026 ada laporan dari petugas di lapangan kepada petinggi Kepolisian.  Sampai akhirnya LSP jadi salah satu tersangka.

Salah satu pertanyaan banyak orang,  LSP memerintahkan anak buahnya melakukan  penyadapan, lalu hasil sadapan buat siapa? Masyarakat sangat mudah menjawabnya jika dikaitkan dengan perjalanan karier LSP.  Tahun 2011 LSP ini menjadi Kapolresta Surakarta.  Hubungan kerja terjalin dengan Walikota Solo saat itu.  Siapa sangka Sang Walikota itu jabatannya terus meningkat dan mengerek LSP sampai Kapolri.

Skandal LSP ini akan memanas jika terus diungkap sampai tuntas. Siapakah yang memerintahkan LSP? Buat apa hasil penyadapan itu? Dan, buat siapa? Harapan kita,  semua itu terjawab secara hukum,  bukan sekadar duga menduga sebagaimana hari ini merebak di platform berita.  (*)

Toto TIS Suparto,  wartawan senior.

Berita sebelumyaCara Masuk Solo Safari, Tiket, Rute, dan Aturan yang Perlu Kita Tahu
Berita berikutnyaJadwal Lengkap Dhaup Ageng Mangkunegaran 2026, Termasuk Prosesi dan Lokasinya