
Michael, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Keolahragaan (FKOR) UNS, mencatatkan tolakan terbaik sejauh 12,85 meter pada percobaan pertama. Ia mencatatkan hasil tersebut dari enam kesempatan yang tersedia. Meski belum meraih emas, atlet berusia 26 tahun itu tetap bersyukur atas pencapaiannya dalam penampilan perdana di Asian Para Games.
Michael memiliki alasan khusus untuk mempersembahkan medali peraknya. Ia mendedikasikan prestasi tersebut untuk Indonesia, keluarganya, dan mendiang pelatihnya, Slamet Widodo. Sang pelatih telah mendampingi perjalanan karier Michael sejak 2019 dan berperan penting dalam membantunya mengembangkan kemampuan sebagai atlet.
“(Medali perak) saya persembahkan pertama untuk Indonesia, orang tua, serta almarhum Pak Slamet (Widodo),” ujar Michael, Rabu, 28 Oktober 2026.
Michael juga mengenang momen menyedihkan menjelang keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut. Slamet masih memberikan motivasi sebelum Michael berangkat, tetapi sang atlet harus menerima kabar duka beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Nagoya. “Pak Slamet terus memotivasi saya, tetapi beberapa hari sebelum ke sini (Nagoya), beliau sudah tidak ada,” ungkapnya.
Dua Medali dari Evi
Sementara itu, Karisma Evi Tiarani turut mengharumkan nama Indonesia melalui prestasinya di cabang para atletik. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS tersebut meraih medali emas nomor lari 100 meter putri T63 di Stadion Atletik Nagoya City Mizuho Park, Jepang, Rabu, 21 Oktober 2026.
Evi, sapaan akrab Karisma Evi Tiarani, menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 14,59 detik. Hasil tersebut mengantarkannya meraih medali emas pada nomor yang diikutinya. Ia juga menambah koleksi medali Indonesia melalui nomor lompat jauh putri sebelum meraih emas lari 100 meter.
Pada nomor lompat jauh, Evi bersaing dengan atlet yang tergabung dalam klasifikasi gabungan T42, T44, T61, T62, T63, dan T64. Persaingan tersebut mengantarkannya meraih medali perunggu. Dua medali dari nomor berbeda itu memperkuat kontribusinya bagi Indonesia dalam ajang olahraga atlet disabilitas tingkat Asia.
Keberhasilan Michael dan Evi menunjukkan kemampuan mahasiswa UNS dalam bersaing di kompetisi internasional. Keduanya menempuh perjuangan melalui cabang olahraga masing-masing dan berhasil membawa pulang medali untuk Indonesia. Prestasi tersebut sekaligus menambah kebanggaan bagi kampus dan masyarakat Indonesia.
Capaian Michael dan Evi diharapkan mendorong masyarakat untuk semakin mendukung perkembangan atlet disabilitas. Prestasi mereka juga menegaskan pentingnya kesempatan yang setara bagi setiap atlet untuk mengembangkan potensi, mengikuti kompetisi, dan meraih prestasi. Dukungan terhadap olahraga inklusif diharapkan terus tumbuh agar semakin banyak atlet Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.












