Memahami Esensi Hari Bipolar Sedunia, Mengenang Van Gogh dan Menghapus Stigma

Solokini.com – Tiap tanggal 30 Maret, dunia sejenak menoleh pada sebuah misi penting, meningkatkan kesadaran tentang gangguan bipolar. Tanggal ini bukan dipilih tanpa alasan. Ia merupakan hari lahir sang maestro pelukis pasca-impresionis, Vincent van Gogh.

Meski hidup di era yang belum mengenal terminologi psikiatri modern, Van Gogh secara anumerta didiagnosis mengidap gangguan bipolar. Hal ini menjadikan Van Gogh simbol ketahanan sekaligus perjuangan melawan gejolak batin yang hebat.

Lebih dari Sekadar “Mood Swing” Biasa

Sering kali, istilah “bipolar” digunakan secara sembarangan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan perubahan suasana hati yang cepat.

Namun, mengutip National Institute of Mental Health (NIMH), gangguan bipolar adalah kondisi medis serius pada otak yang menyebabkan pergeseran tidak biasa dalam suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas yang jauh lebih ekstrem daripada naik-turunnya emosi normal manusia.

Seseorang dengan gangguan bipolar akan melewati dua fase utama, yakni:

  • Mania: Fase di mana energi melonjak tajam, perasaan sangat gembira (euforia), atau justru sangat sensitif dan mudah marah.
  • Depresi: Fase sebaliknya, di mana muncul perasaan putus asa, kehilangan minat pada aktivitas apa pun, hingga kelelahan yang luar biasa.
Baca Juga :  Memperingati Hari Film Nasional: Menjaga Api Kreativitas Sinema Indonesia

Tantangan Global dalam Angka

Berdasarkan data yang dihimpun oleh World Health Organization (WHO), gangguan bipolar kini menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia.

Prevalensi globalnya diperkirakan berkisar antara 1% hingga 2%, bahkan dalam beberapa penelitian bisa menyentuh angka 5%.

Meskipun angka ini cukup signifikan, tantangan terbesar yang dihadapi pasien bukan hanya gejalanya, melainkan stigma sosial.

Banyak penyintas yang ragu mencari bantuan karena takut dianggap “gila” atau tidak stabil secara mental.

Maka dari itu, kolaborasi internasional antara International Society for Bipolar Disorders (ISBD), Asian Network of Bipolar Disorder (ANBD), dan International Bipolar Foundation (IBPF) memandang penting peringatan Hari Bipolar Sedunia.

Baca Juga :  Mengenal Purple Day atau Hari Kesadaran Epilepsi Internasional yang Diperingati Tiap 26 Maret

Tujuan peringatan Hari Bipolar Sedunia adalah untuk membawa pemahaman global terhadap kondisi ini dan mengeliminasi stigma sosial melalui edukasi.

Mengubah Pandangan: Medis, Bukan Karakter

Pesan utama dari peringatan tahun ini adalah penegasan bahwa gangguan bipolar adalah kondisi medis yang dapat dikelola.

Melalui kombinasi terapi psikologis dan pengobatan medis yang tepat, para penyintas dapat menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna.

Edukasi masyarakat menjadi kunci.

Memahami bahwa perubahan perilaku pada pasien bipolar adalah manifestasi biologis dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi mereka, keluarga, dan tenaga kesehatan yang mendampingi.

Hari Bipolar Sedunia bukan sekadar peringatan medis, melainkan perayaan atas ketangguhan manusia.

Seperti karya-karya Van Gogh yang tetap indah di tengah badai emosinya. Para penyintas bipolar pun memiliki potensi luar biasa jika dunia bersedia membuka mata dan memberikan dukungan tanpa prasangka.

Berita sebelumyaMemperingati Hari Film Nasional: Menjaga Api Kreativitas Sinema Indonesia
Berita berikutnya5 Cafe Kopi Solo di Gatsu yang Lagi Hits, Menu Lengkap Andalan dan Rating Google