Solokini.com – Lebaran yang akan datang sebentar lagi seharusnya mendapat sambutan antusias, namun justru muncul fenomena malas mudik di kalangan anak muda.
Dewasa ini, fenomena malas mudik hingga enggan bertemu keluarga besar merupakan sebuah realitas sosial yang nyata di kalangan Milenial dan Gen Z.
Sebab, alih-alih menjadi momen silaturahim, kumpul keluarga sering kali berubah menjadi ajang “interogasi terbuka” mengenai pencapaian hidup.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Budaya Kolektivisme vs Privasi Individu
Secara sosiologis, Indonesia adalah penganut budaya Kolektivisme yang kental. Merujuk pada teori dimensi budaya Geert Hofstede, dalam masyarakat kolektif, batas antara urusan pribadi dan urusan bersama sangat tipis.
Bagi generasi boomer atau X, bertanya “Kapan nikah?” atau “Gajinya berapa?” adalah bentuk perhatian dan upaya menyambung silaturahmi.
Namun, bagi Milenial dan Gen Z yang lebih menghargai Individualisme dan privasi, pertanyaan tersebut terasa seperti invasi terhadap ruang personal yang sakral.
Tekanan Social Comparison (Perbandingan Sosial)
Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain.
Saat lebaran, perbandingan ini dipicu secara paksa oleh pertanyaan keluarga.
Ketika sepupu sebaya sudah punya rumah atau anak, sementara kita masih berjuang dengan karier atau kesehatan mental, muncul perasaan tidak nyaman yang membuat kita malas bertemu keluarga besar.
Kita merasa sedang “dihakimi” berdasarkan standar sukses orang lain.
Social Fatigue dan Batasan Emosional
Kumpul keluarga besar membutuhkan energi sosial yang luar biasa besar.
Istilah Social Fatigue atau kelelahan sosial terjadi ketika interaksi menuntut kita untuk selalu tampil “sempurna” dan menjawab rentetan pertanyaan yang sama berulang kali.
Banyak anak muda lebih memilih merayakan Lebaran secara tenang (low-key) demi menjaga kesehatan mental daripada pulang ke rumah namun merasa “terkuras” secara emosional.
Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama
Jika kamu akhirnya memutuskan untuk tetap mudik, bekali dirimu dengan strategi berikut agar tetap waras.
- Tentukan safety zone.
Cari sepupu atau anggota keluarga yang “satu frekuensi” untuk menjadi teman mengobrol agar kamu tidak merasa sendirian di tengah keramaian.
- Siapkan jawaban “template“.
Siapkan jawaban singkat, padat, dan diplomatis. Contoh: “Doakan saja yang terbaik ya, Bude. Masih proses, nih.” Lalu segera alihkan pembicaraan ke topik makanan atau hobi mereka.
- Berikan batasan waktu.
Kamu tidak harus berada di tengah kerumunan selama 24 jam. Ambil waktu untuk menyendiri di kamar atau sekadar jalan-jalan keluar rumah untuk “menghirup nafas” sejenak.














