SOLO, Solokini.com — Menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, tantangan utama generasi muda hari ini bukan lagi sekadar mencari inspirasi, melainkan bagaimana mengubah inspirasi tersebut menjadi keberanian aksi nyata.
Menjawab kebutuhan tersebut, Gerakan Solusi Indonesia (GSI) mengumumkan perhelatan akbar GSI Youth Fest – Hero Summit 2026 yang bakal dihelat di GOR Indoor Manahan, Surakarta, pada Minggu, 8 November 2026 mendatang. Hal itu disampaikan saat konferensi pers di Selasar Kafe, Solo, Sabtu (19/9/2026).
GSI hadir membawa narasi utama “Pemuda Adalah Solusi”, sebuah keyakinan bahwa anak muda bukan sekadar penonton atau objek pembangunan, melainkan penggerak utama perubahan di masyarakat.
Ketua Umum GSI, Dr. Aninda Elok Maharani, S.H., M.H., menekankan pentingnya peran pemuda penggerak dalam mematahkan rasa insecure atau kurang percaya diri di kalangan anak muda saat ini.
“Pemuda juga menjadi solusi untuk pemuda yang lain. Dari satu orang ini menggeret teman-temannya yang lain untuk bisa menularkan energi positifnya agar dapat sesukses orang tersebut. Peran media sosial dan pemerintah daerah juga sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri agar anak muda tidak insecure,” ujar Dr. Aninda.
Berawal dari Keresahan dan Aksi Nyata di Lapangan
Gerakan Solusi Indonesia (GSI) dibentuk sebagai gerakan kolektif kebangsaan yang berlandaskan pada tiga nilai utama: Kepedulian, Kolaborasi, dan Berdampak.
Beranjak dari keprihatinan sosial, GSI memosisikan diri sebagai jembatan (bridging) yang menghubungkan potensi anak muda di daerah dengan sumber daya nyata, seperti dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan maupun kemitraan BUMN.
CEO GSI, Hendri Tri Asmoro, menjelaskan bahwa keterpaparan dan eksposur menjadi kunci utama untuk membangkitkan potensi pemuda daerah yang selama ini belum tersentuh.
“Setelah keliling bareng Pak Anas ke kota-kota kecil sampai ke pedalaman, kami melihat banyaknya anak muda yang justru sudah punya solusi, tapi belum terekspos. Di sinilah fungsi Gerakan Solusi Indonesia membantu untuk lebih meviralkan dan membuat virus positif ini disebarkan ke seluruh Indonesia,” ungkap Hendri.
Dalam setahun terakhir, tim GSI telah aktif bergerak di puluhan kabupaten/kota di Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Berbagai program strategis berbasis pemecahan masalah telah dijalankan, di antaranya:
- Inovasi Geospasial Pendaki: Co-Founder GSI, Anas Syahirul, menuturkan aksi konkret timnya saat memberikan peta digital jalur pendakian di Gunung Mongkrang. “Tim GSI ada yang pakar geospasial, kita memetakan jalur pendakian yang aman dan selamat. Naik gunung itu asyik, tapi juga harus safety,” jelas Anas.
- Aksi Peduli Lingkungan: GSI rutin mengajak anak muda menjaga alam. “Kemarin kita membawa trash bag saat naik gunung dan turun membawa sampah kembali. Kita coba kampanye hal kecil, tapi berdampak,” tambah Anas.
- Edukasi & Pendampingan Hukum Gratis: Dr. Aninda Elok Maharani menyoroti sosialisasi sadar hukum terkait pinjol ilegal, judi online, penipuan AI, hingga kekerasan seksual. “Banyak kasus menimpa anak di bawah umur. Jika korban belum mendapat pendampingan, kami dampingi secara gratis. Di GSI ada banyak lawyer yang siap menghibahkan waktu dan tenaganya,” tegas Dr. Aninda.
- Fasilitator Beasiswa Daerah: Ketua Dewan Pembina GSI, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi, S.H., M.H., menyoroti banyaknya alokasi beasiswa daerah yang belum tersosialisasi dengan baik, seperti anggaran Rp7,5 miliar per tahun di Wonogiri.
“Di pemerintah kabupaten dan provinsi ada program beasiswa kuliah S1 sampai S3, tapi tidak banyak yang tahu. Kalau Anda merasa berprestasi tapi mengalami kesulitan finansial, sampaikan ke kita. Nanti ada yang membantu memfasilitasi. Kuncinya kita tidak punya kepentingan selain 2045 Indonesia Emas,” pangkas Prof. Pujiyono.
Mengapa Kota Solo Menjadi Titik Awal Movement?
Pemilihan Kota Solo (Surakarta) sebagai titik mula pendorong (start point) gerakan nasional ini memiliki alasan historis yang kuat. Solo memegang simbol perjuangan pemuda Indonesia yang terefleksikan pada Tugu Lilin sebagai monumen peringatan pergerakan kebangsaan.
Sebagai bentuk refleksi sejarah, Anas Syahirul menyampaikan bahwa GSI akan menggelar acara tumpengan refleksi menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda di kawasan Tugu Lilin Sondakan. Dari titik historis Solo ini, GSI menargetkan ekspansi gerakan secara bertahap ke Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, hingga Bali, NTB, dan NTT.
Rangkaian Utama GSI Youth Fest – Hero Summit 2026
Diproyeksikan bakal dihadiri oleh sekitar 10.000 anak muda, GSI Youth Fest tidak sekadar menjadi ajang panggung hiburan, melainkan ruang bertumbuh yang konkret. Hendri Tri Asmoro menegaskan, “Konser ini sebenarnya sebagai penutup atau pelengkap, tapi yang lebih penting adalah inspiration talk-nya dan solusi apa yang bisa kita hadirkan bareng-bareng kepada anak muda.”
Berikut lima agenda utama dalam perhelatan tersebut:
- Youth Insight Leader Forum: Sesi dialog inspiratif yang menghadirkan Bayu Skak (Sutradara/Kreator), Putri Pariwisata Indonesia 2026, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi, Wali Kota Solo Respati Ardi, dan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani.
- Indonesia Youth Movement (Grand Launching Platform GSI): Peluncuran platform ekosistem digital GSI yang bakal dihadiri oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Dewan Pembina GSI Glenny Kairupan & Reda Mantovani, serta Raffi Ahmad.
- Awarding 35 Local Hero Jawa Tengah: Apresiasi bagi 35 tokoh muda penggerak di bidang kewirausahaan, pertanian organik, hingga pemberdayaan masyarakat.
- Job Fair Berdampak: Bursa kerja hasil kerja sama dengan Kita Kerja yang menggandeng 35 perusahaan ternama di Jawa Tengah untuk lulusan SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi.
- Youth Celebration & Concert: Penutup kemeriahan festival yang menghadirkan penampilan spesial dari Ndarboy Genk.
Menghubungkan Anak Muda Melalui Aplikasi Keanggotaan
Guna memastikan keberlanjutan jejaring, GSI telah meluncurkan platform dan aplikasi keanggotaan digital yang kini telah diakses oleh ribuan anak muda, termasuk mahasiswa Indonesia di Cardiff University hingga Australia.
Anas Syahirul menutup dengan optimisme tinggi terhadap peran pemuda.
“Gerakan itu mengandung kata bahwa ada aksi nyata yang dilakukan, bukan sekadar kumpul-kumpul. Kuncinya adalah pemuda berdampak,” pungkasnya.












