Solokini.com – Hari Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijah menjadi momen berdoa yang tepat untuk mengetuk pintu langit. Di momentum paling agung dalam kalender Islam ini, jutaan jemaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan inti dari ibadah haji, yaitu wukuf.
Namun, keistimewaan Hari Arafah tidak hanya monopoli bagi mereka yang sedang berhaji. Bagi umat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, hari ini menjadi waktu yang sangat mustajab untuk memperbanyak doa, zikir, dan melaksanakan puasa sunah Arafah.
Mengapa Doa di Hari Arafah Begitu Mustajab?
Pentingnya memperbanyak doa pada hari ini bersumber langsung dari penegasan Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadis yang sangat populer, Rasulullah SAW menyebutkan, kualitas doa terbaik adalah doa yang dipanjatkan pada Hari Arafah.
Hadis Riwayat Imam At-Tirmidzi (Hadis Nomor 3585):
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku dan para nabi sebelumku katakan adalah: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir’.” (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh para ulama).
Mengutip Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI (Kemenag), kemuliaan hari ini juga terletak pada luasnya ampunan Allah SWT.
Hari Arafah adalah hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba-Nya dari siksa api neraka dibandingkan hari-hari lainnya. Oleh karena itu, memohon ampunan (istighfar) menjadi menu doa yang sangat dianjurkan.
Bacaan Doa Hari Arafah
Berdasarkan tuntunan sunah, ada dua kategori doa yang bisa kita amalkan pada Hari Arafah:
- Kalimat Tauhid (Zikir Utama Rasulullah)
Sesuai dengan kelanjutan Hadis Riwayat Imam At-Tirmidzi Nomor 3585, kalimat ini merupakan zikir sekaligus doa pokok yang dibaca oleh Nabi Muhammad SAW dan para nabi terdahulu:
{لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ}
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir.
Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
- Doa Sapu Jagat dan Pengampunan Diri
Selain zikir tauhid, umat Muslim dianjurkan meminta kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 201:
{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
Rabbana aatina fid-dunya hasanatan wa fil-akhirati hasanatan wa qina ‘adzaban-naar.
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Melansir Lajnem Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama RI (Kemenag RI) dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah oleh Ditjen PHU, jemaah yang wukuf maupun umat Muslim di rumah juga disarankan memperbanyak doa pengakuan dosa (Sayyidul Istighfar) agar pulang dari Hari Arafah dalam keadaan bersih dari dosa.
Waktu Terbaik Memanjatkan Doa
Kapan waktu paling afdal untuk mulai memfokuskan diri berdoa di Hari Arafah?
Berdasarkan penjelasan ilmiah dan fikih yang dirilis oleh Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU), waktu mustajab Hari Arafah dimulai sejak tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) pada tanggal 9 Zulhijah hingga terbenamnya matahari (waktu Magrib).
Bagi kita yang berada di Indonesia (yang tidak sedang berhaji), rentang waktu antara ba’da Zuhur sampai menjelang Magrib di hari tersebut harus dimanfaatkan secara optimal.
Untuk doa di Hari Arafah sangat dianjurkan untuk:
- Mengambil wudu dan menjaga kesucian diri.
- Menghadap kiblat.
- Mengangkat kedua tangan dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati.
- Memulai doa dengan memuji Allah (Tahmid) dan bersalawat kepada Nabi SAW.
Kesimpulan
Hari Arafah adalah kesempatan emas yang datang hanya sekali dalam setahun. Baik sedang di Padang Arafah atau duduk di atas sajadah di rumah, Allah SWT membuka lebar pintu langit bagi siapa saja yang mengetuknya dengan keikhlasan.
Mari hiasi Hari Arafah dengan lisan yang basah oleh zikir dan hati yang pasrah dalam untaian doa.














