
Solokini.com — Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyampaikan bahwa pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) akan lebih optimal jika memberdayakan kantin sekolah serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar lingkungan sekolah.
Wapres Gibran mengemukakan pandangan pribadinya terkait skema evaluasi program MBG tersebut pasca insiden keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara.
Kunjungan kerja Wapres ke RS Efarina Etaham dan RSU Amanda Berastagi tersebut telah berlangsung pada Jumat, 11 September 2026 lalu.
Dalam kunjungan itu, Gibran berinteraksi langsung dengan para siswa serta orang tua korban, sekaligus menyampaikan permohonan maaf resmi atas nama pemerintah atas peristiwa yang terjadi.
Selain memastikan ketersediaan obat-obatan, Wapres juga menginstruksikan tim medis untuk menyediakan fasilitas rujukan ke RS bagi pasien yang membutuhkan perawatan intensif lanjutan.
Disampaikan Secara Tidak Resmi
Gibran menyampaikan pernyataan terkait skema teknis pengelolaan MBG tersebut secara tidak resmi.
Jika permohonan maaf dan pemantauan medis dilakukan secara langsung di lapangan, pandangan mengenai pengoptimalan kantin dan UMKM justru disampaikan Wapres secara tidak resmi saat membalas komentar warganet di akun Instagram resminya, @gibran_rakabuming.
Dalam unggahan dokumentasi kunjungannya ke Karo di Instagram, seorang warganet (@diyah.syk) memberikan tanggapan di kolom komentar sebagai berikut:
“mungkin jika dapurnya di sekolh makanan lebih fresh tdk melalui perjalanan, tanggung jawab sekolah seperti negara sudah”.
Membalas tanggapan tersebut pada Rabu, 16 September 2026, Wapres RI menuliskan:
“@diyah.syk siap pak 🙏 menurut saya pribadi lebih baik mengoptimalkan fungsi kantin sekolah dan umkm sekitar sekolah. Tentunya dengan pengawasan ketat dari pihak sekolah dan melibatkan orang tua murid. Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini 🙏” — @gibran_rakabuming
Pangkas Rantai Pasok dan Perketat Pengawasan Orang Tua
Melalui interaksi singkat di media sosial tersebut, Gibran menekankan pentingnya menggeser fokus penyediaan makanan ke ranah komunitas terdekat sekolah.
Langkah memanfaatkan kantin sekolah dan pedagang lokal dinilai dapat memperpendek rantai distribusi makanan sehingga kebersihan dan kesegaran hidangan lebih terjaga, sekaligus meminimalisir risiko basi akibat durasi pengiriman yang terlalu panjang.
Sebagai langkah antisipasi selama masa pemulihan dan evaluasi total, pemerintah daerah beserta pihak sekolah sementara waktu mengimbau para orang tua untuk membawakan bekal makanan mandiri dari rumah bagi para siswa.
Selain itu, perlu keterlibatan aktif dari pihak sekolah dan orang tua murid untuk mengawasi secara ketat higienitas serta kualitas gizi makanan yang disajikan kepada anak-anak.
Opini terkait pelibatan kantin sekolah dan UMKM sekitarnya diharapkan menjadi salah satu solusi konkret dalam evaluasi nasional program MBG. Guna memastikan keamanan pangan peserta didik sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku usaha kecil di sekitar sekolah.











