Klub Buku Soloraya Gelar Baca Serentak dan Donasi NTT di Balekambang Solo

Ratusan pecinta literasi yang tergabung dalam berbagai komunitas klub buku di wilayah Soloraya bersama masyarakat umum melakukan kegiatan membaca hening dan mengumpulkan donasi untuk korban bencana gempa NTT, di Taman Balekambang Solo, Sabtu (22/8/2026). (dok)

SOLO, Solokini.com — Ratusan pecinta literasi yang tergabung dalam berbagai komunitas klub buku di wilayah Soloraya bersama masyarakat umum memadati kawasan Taman Balekambang, Surakarta (Solo), Sabtu (22/8/2026).

 Kehadiran mereka bukan sekadar untuk bersantai menikmati suasana akhir pekan, melainkan menggelar aksi kolaboratif bertajuk Independence Day Book Party. Acara ini menggabungkan gerakan baca buku serentak serta penggalangan donasi sosial untuk korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Agenda edukatif yang penuh nilai kemanusiaan ini menjadi salah satu bagian utama dalam rangkaian acara Weekend Balekambang Green Creative Market. Inisiatif positif ini digagas oleh komunitas bermain anak Hompimpa Solo dengan merangkul sejumlah jaringan klub buku lintas daerah di Soloraya.

Beberapa komunitas literasi yang turut ambil bagian secara aktif dalam momentum ini antara lain Boyolali Book Club, Bacamorfosis, Solo Book Party, Klaten Book Club, serta keterlibatan antusias dari deretan masyarakat umum.

Menghubungkan Ruang Gerak Komunitas Literasi Soloraya

Ketua Komunitas Hompimpa Solo, Dyah Bodrohini menjelaskan, gerakan kolaboratif ini tidak hanya dirancang sebagai wadah rekreasi edukatif bagi masyarakat, tetapi juga dimaknai sebagai langkah nyata dalam menunjukkan kepedulian sosial lintas komunitas. Melalui aksi penggalangan donasi, para aktivis literasi membuktikan bahwa minat membaca dapat berjalan beriringan dengan kepekaan sosial.

Dyah mengungkapkan, selama ini pegiat dan komunitas klub buku di berbagai kabupaten/kota wilayah Soloraya cenderung berjalan sendiri-sendiri dalam menyelenggarakan kegiatan. Oleh karena itu, acara Independence Day Book Party hadir untuk menjembatani ruang perjumpaan antar-komunitas.

“Selama ini saya melihat kegiatan baca buku di sejumlah wilayah di Soloraya sudah berjalan sendiri-sendiri. Jadi, kami ingin mengajak mereka selain untuk berkumpul bersama saling mengenal, juga untuk merayakan kemerdekaan dalam membaca serta memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia,” jelas Dyah di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, Dyah menekankan pentingnya memaknai kebebasan membaca secara mendalam di era modern saat ini. Menurutnya, kondisi hari ini sudah jauh berbeda dibanding era masa lalu, di mana aktivitas membaca atau ruang gerak buku tertentu sempat dibatasi dan dibayang-bayangi oleh ancaman pembredelan.

Baca Juga :  Meriahnya HUT Ke-81 RI di Neo Solo Grand Mall Gandeng Komunitas

Kebebasan mengakses berbagai sumber literatur serta menjelajahi ruang ide dan gagasan harus dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat. Hal ini dinilai penting demi meningkatkan indeks literasi, mengasah daya kritis, serta membangun fondasi berpikir mandiri di tengah derasnya arus informasi.

Membawa Budaya Membaca ke Ruang Publik

Sementara itu, Ketua Acara Independence Day Book Party Niva Ni’matul Faizah, menerangkan, konsep acara dikemas secara santai, ramah, dan terbuka untuk siapa saja. Pendekatan ini sengaja dipilih guna mengikis stigma bahwa aktivitas membaca buku adalah kegiatan yang terkesan kaku, formal, atau eksklusif.

Pemilihan Taman Balekambang Solo sebagai lokasi acara juga memiliki alasan strategis. Pihaknya sengaja memanfaatkan ruang publik terbuka hijau agar masyarakat luas terbiasa melihat pemandangan orang yang sedang membaca buku secara alami.

Menurut Niva, melihat seseorang membaca buku cetak di tempat umum sejatinya adalah hal yang lumrah dan setara dengan aktivitas orang yang tengah membaca atau mencari informasi melalui perangkat gawai (smartphone).

Para peserta yang hadir diajak membawa buku favorit mereka masing-masing dari rumah. Mereka kemudian duduk bersantai menggelar tikar di area hijau Taman Balekambang, menikmati momen silent reading (membaca hening) bersama, lalu dilanjutkan dengan diskusi santai mengenai buku yang dibaca.

“Kami ingin membawa budaya membaca keluar ke ruang publik agar masyarakat luas bisa melihat bahwa membaca itu menyenangkan dan inklusif. Selain aktivitas membaca hening dan diskusi buku yang dibawa, kami juga membuka donasi untuk saudara yang terkena gempa di NTT. Kami percaya bahwa semangat kemerdekaan dan literasi harus berjalan beriringan dengan rasa empati sosial,” ungkap Niva.

Niva menegaskan, acara ini dirancang untuk menciptakan ruang aman (safe space) dan menyenangkan bagi setiap individu yang ingin menikmati keindahan isi buku tanpa diskriminasi. Ia meyakini bahwa peringatan hari kemerdekaan bangsa tidak boleh berhenti pada seremoni fisik semata, melainkan harus menyentuh ranah pembebasan cara berpikir dan kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan.

“Dulu, buku-buku tertentu kerap dihantui ancaman pembredelan atau pembatasan. Melalui Independence Day Book Party, kami ingin merayakan kebebasan membaca tanpa rasa takut. Kita punya hak sepenuhnya untuk menjelajahi ide dan pengetahuan,” tambahnya secara meyakinkan.

Baca Juga :  Sinergi FORPAMNAS dan 4 PDAM Soloraya Tingkatkan Mutu Layanan Air

Ilmu Pengetahuan Sebagai Alat Pembebasan Hakiki

Apresiasi tinggi datang dari para peserta yang memadati kawasan Taman Balekambang Solo. Salah seorang peserta perwakilan dari Klaten Book Club, Ahmad Rivai, menyampaikan rasa bangganya dapat terlibat dalam acara kolaboratif yang menggabungkan aspek literasi dan solidaritas sosial tersebut.

Rivai bahkan mengusulkan agar agenda Independence Day Book Party ini dapat dijadikan sebagai kalender acara tahunan rutin. Agenda semacam ini terbukti efektif menjadi ajang silaturahmi berkala bagi para pecinta buku, sekaligus penggerak literasi di Soloraya.

Dalam pandangannya, Rivai menguraikan keterkaitan erat antara tradisi membaca dengan hakikat kemerdekaan sebuah bangsa. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh dari membaca adalah instrumen atau alat pembebasan hakiki bagi manusia.

Ia memaparkan bahwa membaca pertama-tama membebaskan manusia dari cengkeraman kebodohan dan keterbelakangan pemikiran. Selanjutnya, literasi membebaskan manusia untuk mampu berpikir mandiri secara kritis serta berani mengimajinasikan tatanan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Memperingati kemerdekaan bagi saya tidak kaffah jika tidak dirayakan dengan buku dan membaca, sebab founding father kita, misalnya, Mohammad Hatta, adalah pembaca buku yang tekun,” pungkas Rivai.

Menggalang Kepedulian untuk Bencana NTT

Selain menjadi ajang selebrasi literasi, kehadiran posko penggalangan donasi untuk korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat sambutan hangat dari para pengunjung Taman Balekambang. Bantuan berupa uang tunai maupun bahan kebutuhan dasar berhasil dikumpulkan selama kegiatan berlangsung untuk selanjutnya disalurkan kepada para korban terdampak.

Melalui perpaduan antara semangat kebebasan berpikir dan aksi kepedulian sosial, kolaborasi klub buku se-Soloraya ini membuktikan bahwa gerakan literasi mampu menjadi motor penggerak perubahan sosial yang berdampak nyata di tengah masyarakat.

Event Independence Day Book Party di Taman Balekambang Solo ini pun ditutup dengan sesi foto bersama, pertukaran rekomendasi buku antar-peserta, serta komitmen bersama untuk terus merawat nyala api literasi di seluruh penjuru wilayah Soloraya.

Berita sebelumyaPMI Solo Kirim Tim Kesehatan Tanggap Darurat Bencana ke Nagekeo NTT
Berita berikutnyaGreen Impact Project 2026 UNS: Inovasi Mahasiswa untuk Lingkungan