Solokini.com – Ada satu hal mendasar yang perlahan hilang dari kehidupan anak-anak kita: waktu untuk bermain. Di tengah kepungan gawai, tekanan akademik yang kian dini, dan menyusutnya ruang terbuka hijau di perkotaan.
Padahal, bermain bukanlah sekadar pengisi waktu luang atau hiburan tanpa makna. Bermain adalah hak mutlak, fondasi tumbuh kembang, dan bahasa universal anak-anak di seluruh dunia.
Guna menegaskan kembali pentingnya hal ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah resmi menetapkan tanggal 11 Juni sebagai Hari Bermain Internasional (International Day of Play).
Momentum global ini menjadi alarm pengingat bagi para orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan, bahwa membiarkan anak bermain adalah investasi masa depan, bukan kesia-siaan.
Mengapa PBB Sampai Turun Tangan?
Penetapan hari khusus ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan data dari United Nations Children’s Fund (UNICEF), bermain adalah hak yang sah dan dilindungi oleh Pasal 31 Konvensi PBB tentang Hak Anak.
Sayangnya, realitas global menunjukkan kondisi memprihatinkan. UNICEF mencatat, jutaan anak di seluruh dunia menghadapi keterbatasan akses untuk bermain dengan aman akibat konflik, kemiskinan, pekerja anak, hingga modernisasi yang menghabiskan ruang publik.
Melalui Hari Bermain Internasional, dunia disadarkan untuk menciptakan ekosistem yang aman, inklusif, dan mendukung anak-anak untuk kembali ke dunia mereka yang alami.
Manfaat Nyata Bermain Menurut Sains dan Medis
Bermain sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang tua yang menuntut anaknya untuk cepat pintar membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Padahal, asosiasi medis terbesar di dunia, American Academy of Pediatrics (AAP), justru menyarankan para dokter anak untuk “meresepkan” waktu bermain pada setiap kunjungan pemeriksaan anak.
Menurut riset yang dirilis oleh lembaga internasional Lego Foundation bersama kemitraan global, bermain memiliki dampak multidimensi yang tidak bisa digantikan oleh lembar kerja akademik. Dampak tersebut di antaranya:
- Sisi Kognitif dan Otak: Bermain, terutama permainan imajinatif dan eksploratif, memicu pembentukan koneksi sinapsis baru di otak. Hal ini meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) dan fungsi eksekutif otak anak.
- Kesehatan Mental dan Emosional: Organisasi medis kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas mengungkapkan, bermain memiliki kekuatan terapeuti luar biasa. Bermain dapat membantu anak mengelola stres, menurunkan kecemasan, bahkan memulihkan trauma pada anak-anak yang berada di area konflik atau bencana.
- Kemampuan Sosial: Melalui permainan kelompok (seperti petak umpet, bentengan, atau permainan tradisional), anak belajar bernegosiasi, mengendalikan emosi, berempati, dan bekerja sama dengan orang lain.
Suara Pemerintah Indonesia: Anak Bahagia, Negara Kuat
Sejalan dengan komitmen global, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) terus mengampanyekan pentingnya pemenuhan hak anak secara holistik.
KemenPPPA menegaskan bahwa pemenuhan hak bermain merupakan salah satu indikator utama dalam mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).
Bermain yang berkualitas tidak harus menggunakan mainan mahal. KemenPPPA dan para praktisi pendidikan anak usia dini di Indonesia sangat mendorong dihidupkannya kembali permainan tradisional dan pemanfaatan loose parts (benda-benda alami di sekitar rumah seperti ranting, batu, atau tutup botol) untuk merangsang kreativitas tanpa batas.
Apa yang Bisa Kita Lakukan di Rumah?
Merayakan Hari Bermain Internasional tidak butuh perayaan mewah di pusat perbelanjaan. Sebagai orang tua, langkah kecil ini bisa membawa perubahan besar, di antaranya:
- Sediakan Waktu Khusus Tanpa Gawai (Screen-Free Time): Dedikasikan minimal 30 menit sehari bagi anak untuk bermain bebas tanpa intervensi layar digital.
- Temani dan Terlibat: Masuklah ke dalam dunia mereka. Jika anak mengajak bermain peran, jadilah karakter yang mereka inginkan. Kehadiran emosional orang tua saat bermain adalah pupuk terbaik bagi rasa percaya diri anak.
- Manfaatkan Alam Terbuka: Ajak anak bermain di halaman rumah, taman kota, atau area terbuka hijau terdekat. Biarkan fisik mereka bergerak aktif untuk mendukung kesehatan motorik kasar mereka.
Bermain adalah hak, bukan hadiah yang hanya diberikan saat anak mendapatkan nilai bagus di sekolah. Mari bersama-sama mengembalikan keceriaan, ruang, dan waktu bermain yang aman bagi anak-anak kita. Selamat Hari Bermain Internasional!














