Solokini.com – Bagi kamu mahasiswa baru, perantau, maupun wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke Kota Surakarta (Solo), memahami bahasa dan kebiasaan lokal adalah kunci agar cepat akrab.
Selain terkenal ramah dan bertutur kata halus, warga Solo punya banyak kosa kata unik dan istilah khas Solo yang kerap dipakai dalam percakapan sehari-hari.
Menguasai ragam istilah daerah ini tidak hanya memudahkanmu saat berinteraksi, tetapi juga bikin pengalaman merantau jadi lebih seru. Agar tidak kebingungan saat ngobrol dengan warga lokal, yuk pahami 7 istilah khas Solo yang wajib kamu ketahui berikut ini!
- Hik
Jika di kota lain kamu mengenal istilah Angkringan, di Solo warung tenda pinggir jalan ini lebih populer disebut hik. Konon, hik merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung. Tempat ini jadi muara beragam kalangan untuk menikmati nasi kucing (sego kucing), aneka sundukan, gorengan hangat, dan teh khas Solo sambil mengobrol santai.
- Mondho
Pernah memesan makanan atau minuman manis, tapi manisnya terasa menggantung alias tanggung? Orang Solo menyebut kondisi ini dengan istilah Mondho (atau mondho-mondho). Istilah ini menggambarkan rasa manis yang pas-pasan, tidak tawar, tapi juga belum bisa dikategorikan manis mantap.
- Ginastel
Kalau ke Solo, belum afdal kalau belum merasakan teh khasnya. Orang Solo punya standar khusus untuk rasa teh yang mantap, yaitu ginastel, singkatan dari GI (legi/manis), NAS (panas), dan TEL (kentel/kental). Kombinasi racikan beberapa merek teh tubruk lokal inilah yang bikin cita rasa teh Solo tiada tandingannya!
- Sundukan
Saat nongkrong di hik, kamu bakal menemukan berbagai jejeran sate-satean. Di Solo, aneka sate pendamping nasi kucing ini, mulai dari sate usus, telur puyuh, kikil, sampai sate kerang, disebut dengan istilah sundukan. Istilah sundukan berasal dari kata sunduk yang artinya tusuk.
Contoh penggunaan dalam percakapan sehari-hari: “Mas, sundukane dibakar sek ya.” (Mas, satenya dibakar dulu ya.)
- Oglangan
Kalau di daerah lain orang sebut mati lampu atau pemadaman listrik, warga Solo punya sebutan khusus, yaitu oglangan! Kata ini merujuk pada pemadaman listrik. Jadi kalau tiba-tiba tempatmu gelap gulita atau mati listrik, siap-siap dengar tetangga atau kawan Solomu nyeletuk “Walah, oglangan!”
- Bangjo
Di Solo, kalau orang lokal kasih petunjuk arah, mereka jarang bilang “lampu lalu lintas” atau “traffic light”. Mereka hampir selalu menyebutnya Bangjo, yang merupakan akronim khas Jawa: aBANG (merah) dan iJO (hijau).
Contoh: “Ngiwo bar bangjo ngarep kuwi, ya.” (Belok kiri setelah lampu merah depan itu, ya.)
- Teh Kampul / Krampul
Ingin pesan Lemon Tea versi kearifan lokal Solo saat nongkrong di hik? Pesanlah Teh Kampul! Kampul sendiri berasal dari kata kemampul yang artinya mengapung. Es teh mani ini diberi potongan/perasan jeruk nipis atau jeruk peras yang dibiarkan mengapung di dalam gelas, memberikan perpaduan rasa sepet, manis, dan segar yang khas.
Tips buat Pendatang
Jangan ragu untuk mencoba menggunakan istilah-istilah di atas saat bertransaksi di pasar tradisional atau nongkrong di hik. Warga lokal pasti akan tersenyum bangga melihat usahamu berbaur dengan budaya Solo!














