
SOLO, Solokini.com – Kubu PB XIV Purboyo tetap bersikukuh menggelar tingalan jumenengan di Keraton Kilen, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Rencana tersebut tetap berjalan meski kawasan Keraton Kilen saat ini dipagari seng untuk persiapan revitalisasi. Kubu Purboyo bahkan meminta agar pengerjaan fisik di lokasi tersebut ditangguhkan sementara demi kelancaran prosesi adat.
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo, GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, menegaskan pihaknya masih berkoordinasi dengan kontraktor pelaksana dan Kementerian Kebudayaan. Ia juga meminta akses menuju lokasi prosesi dibuka.
Berikut lima fakta terkait rencana Tingalan Jumenengan kubu PB XIV Purboyo di tengah revitalisasi Keraton Kilen.
1. Tingalan Jumenengan Dijadwalkan 5 November 2026
Kubu PB XIV Purboyo berencana menggelar tingalan jumenengan pada Kamis, 5 November 2026. Agenda tersebut akan berlangsung di lingkungan Keraton Kilen, yang saat ini menjadi salah satu area pengerjaan revitalisasi Keraton Solo.
Rumbay menegaskan pihaknya masih berencana melaksanakan kegiatan adat tersebut. Kubu Purboyo juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar prosesi dapat berlangsung sesuai rencana.
“Sampai sekarang kami masih berencana menyelenggarakan kegiatan adat di lingkungan keraton di Keraton Kilen,” kata Rumbay, Kamis, 22 Oktober 2026.
2. Keraton Kilen Masih Dipagari Seng
Pemasangan pagar seng di kawasan Keraton Kilen menjadi kendala yang disoroti kubu PB XIV Purboyo menjelang Tingalan Jumenengan. Pagar tersebut dipasang sebagai bagian dari persiapan pekerjaan fisik revitalisasi keraton.
Rumbay mengungkapkan pihaknya telah meminta kontraktor membuka akses menuju Sasana Sewaka agar prosesi adat dapat berlangsung di lokasi tersebut. Ia berharap akses menuju area yang dibutuhkan bisa dibuka sebelum pelaksanaan tingalan jumenengan.
Apabila akses tidak memungkinkan untuk dibuka, kubu Purboyo mempertimbangkan lokasi alternatif untuk menggelar prosesi.
3. Kubu Purboyo Minta Revitalisasi Ditangguhkan
Kubu PB XIV Purboyo meminta agar pekerjaan revitalisasi, khususnya di area pendopo Keraton Kilen, ditangguhkan sementara. Permintaan itu disampaikan agar kegiatan adat yang telah direncanakan bisa berlangsung tanpa terkendala pekerjaan fisik.
Rumbay mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan kontraktor pelaksana dan Kementerian Kebudayaan, termasuk pejabat pembuat komitmen (PPK).
“Kami meminta agar pekerjaan revitalisasi, khususnya di bagian pendopo Keraton Kilen, ditangguhkan terlebih dahulu agar kegiatan adat dapat dilaksanakan,” ujar Rumbay.
Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan gambar rencana revitalisasi yang diterima pihaknya, bagian barat kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi taman, area parkir, dan pendopo baru.
4. Kuasa Hukum Sebut Revitalisasi Belum Mendapat Izin PB XIV Purboyo
Kuasa hukum SISKS Pakoe Boewono XIV Purboyo, KPAA Ferry Firman Nurwahyu, menegaskan pihaknya tidak menolak revitalisasi Keraton Solo. Namun, ia mempersoalkan pelaksanaan pekerjaan yang menurutnya belum memperoleh izin resmi dari PB XIV Purboyo.
Ferry meminta kontraktor berkoordinasi dengan pihak yang disebutnya sebagai pemilik kawasan, termasuk menyampaikan metode pengerjaan secara transparan sebelum melaksanakan pekerjaan fisik.
“Bukan menolak revitalisasi dan sebagainya. Namun, semua ada aturannya. Kami minta semua dikomunikasikan,” kata Ferry.
Ia juga mendesak penghentian aktivitas fisik yang dinilai dilakukan secara sepihak di kawasan Keraton Kulon atau Keraton Kilen.
5. LDA Sebut Pagar Seng untuk Keamanan Revitalisasi
Ketua Lembaga Hukum sekaligus Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, memberikan penjelasan berbeda mengenai pemasangan pagar seng. Menurutnya, pagar pengaman sementara tersebut merupakan bagian dari persiapan awal pekerjaan fisik revitalisasi.
Pemasangan pagar dilakukan secara bertahap di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan museum, Keraton Kilen, area Pakubuwanan, dan beberapa koridor penghubung lainnya.
Eddy menjelaskan pemasangan pagar bertujuan menerapkan prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sekaligus melindungi bangunan serta material bersejarah di kompleks keraton.
Ia juga menyoroti tenggat waktu pengerjaan revitalisasi yang semakin dekat. Berdasarkan perhitungan yang dibahas, pada 16 Oktober 2026 tersisa 86 hari untuk menyelesaikan revitalisasi Keraton Kilen.
“Metode pemasangan dirancang agar tidak merusak struktur asli maupun material bersejarah bangunan,” jelas Eddy.










