5 Fakta Pagar Seng Keraton Kilen yang Dipersoalkan Kubu PB XIV Purboyo

Pemasangan pagar seng di kawasan Keraton Kilen, Keraton Solo, memicu keberatan dari kubu Paku Buwono (PB) XIV Purboyo.
Pemasangan pagar seng di kawasan Keraton Kilen, Keraton Solo, memicu keberatan dari kubu Paku Buwono (PB) XIV Purboyo.

SOLO, Solokini.com – Pemasangan pagar seng di kawasan Keraton Kilen, Keraton Solo, memicu keberatan dari kubu Paku Buwono (PB) XIV Purboyo. Persoalan ini mencuat menjelang rencana Tingalan Jumenengan atau peringatan kenaikan takhta yang dijadwalkan pada 5 November 2026.

Kubu PB XIV Purboyo menilai pemagaran berpotensi menghambat pelaksanaan upacara adat. Sementara itu, Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo menyebut pemasangan seng berkaitan dengan proyek revitalisasi yang harus mengejar tenggat anggaran APBN. Berikut lima fakta di balik polemik tersebut, Kamis 22 Oktober 2026.

1. Pagar Seng Terpasang Sejak Pagi

Kubu PB XIV Purboyo mempersoalkan pemasangan pagar seng di Keraton Kilen pada Rabu (21/10/2026) pagi. Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo, GKR Panembahan Timoer Rumbay, mengaku petugas pengamanan belum menemukan aktivitas pengelasan saat berkeliling dini hari.

“Pengamanan kami jam 01.00, jam 02.00 itu keliling, itu belum ada orang untuk ngelas. Nah, tadi kita bangun jam berapa itu tadi jam 06.00 itu sudah di-las,” ujar Rumbay.

Baca Juga :  Keraton Solo Serahkan Arsip Ngupadi Sekar Wijayakusuma ke Pemkab Cilacap

2. Kubu PB XIV Purboyo Khawatir Upacara Tingalan Jumenengan Terganggu

Pemagaran tersebut dipersoalkan menjelang Tingalan Jumenengan atau peringatan kenaikan takhta PB XIV Purboyo yang direncanakan pada 5 November 2026. Rumbay meminta pengerjaan revitalisasi ditunda sementara atau dialihkan ke lokasi lain agar upacara adat dapat berlangsung.

“Tolong enggak apa-apa direvitalisasi, tapi tolong biarkan kami melakukan upacara adat dulu. Jadi kami minta supaya dipending dulu, dikerjakan di tempat lain dulu,” katanya.

3. Rumbay Menduga Ada Upaya Menggagalkan Acara

Rumbay menilai pemasangan pagar seng berpotensi menghambat agenda Tingalan Jumenengan. Ia menduga ada indikasi upaya menggagalkan acara tersebut karena akses menuju kawasan yang direncanakan sebagai lokasi upacara tertutup.

“Tingalan Jumenengan tanggal 5 November. Dan ini memang sepertinya indikasinya memang ingin menggagalkan,” ungkap Rumbay.

4. LDA Sebut Pemagaran Bagian dari Revitalisasi

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan pemagaran berkaitan dengan proyek revitalisasi. Ia menyebut perbedaan pandangan mengenai pekerjaan tersebut memicu kesalahpahaman dan mengatakan akses Keraton Kilen kembali dibuka pada siang hari untuk keperluan pengawasan.

Baca Juga :  Solo Gratiskan Air Bersih untuk Tempat Ibadah, Target Berjalan Awal 2027

“Kita maunya membuka seluruh akses kaitan sama revitalisasi. Mereka mungkin belum sepenuhnya sependapat. Sehingga ya ada sedikit kesalahpahaman,” ujar Eddy.

5. LDA Kejar Target Revitalisasi dan Belum Berkomunikasi soal Jumenengan

Eddy menjelaskan, proyek revitalisasi harus segera diselesaikan karena menggunakan anggaran APBN dengan target penyelesaian pada akhir tahun. Ia juga mengaku belum menerima komunikasi resmi dari kubu PB XIV Purboyo mengenai rencana Tingalan Jumenengan.

“Anggaran APBN memiliki batas waktu. Pada akhir tahun, pekerjaan harus selesai. Paling ada sedikit toleransi hingga Januari,” kata Eddy.

Terkait kedudukan raja, Eddy menegaskan bahwa menurut pandangan LDA, Keraton Solo telah memiliki raja definitif, yakni PB XIV Hangabehi.

Berita sebelumyaKeraton Solo Gelar Peringatan Setahun Surud Dalem PB XIII, Terbuka untuk Umum