
SOLO, Solokini.com – K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X bersama ibunda, G.K.P. Mangkoenagoro IX, mengikuti rangkaian pemasangan Bleketepe, pembukaan Singup Tuwuhan, hingga Adang Sepisan di Pura Mangkunegaran, Rabu (4/11/2026). Prosesi ini menjadi bagian dari persiapan Hajad Dalem Dhaup Ageng Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.
Keluarga mengawali rangkaian dengan memasang Bleketepe dan membuka Singup Tuwuhan di Bangsal Tosan. Mereka memasang Bleketepe berupa anyaman daun kelapa sebagai penanda dimulainya hajatan sekaligus simbol perlindungan. Sementara itu, Tuwuhan yang terdiri dari tanaman dan hasil bumi membawa doa tentang kesuburan, pertumbuhan, serta kehidupan baru yang baik bagi kedua temanten.
Setelah menyelesaikan prosesi di Bangsal Tosan, keluarga melanjutkan rangkaian adat ke Pawon Ageng melalui Adang Sepisan. Dipandu R.Ay.T. Anna Hoedoko, Mangkoenagoro X bersama ibunda menuangkan beras ke dalam dandang sebagai bagian dari tata cara menanak nasi untuk pertama kalinya dalam rangkaian hajatan.
Prosesi Adang Sepisan menggunakan dua piranti masak pusaka Mangkunegaran, yakni Nyai Dandang dan Nyai Sumyang. Dalam Dhaup Ageng yang kembali digelar setelah 18 tahun, penggunaan kedua pusaka tersebut juga menghubungkan hajatan keluarga saat ini dengan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa Adang Sepisan memiliki makna lebih luas daripada sekadar kegiatan memasak. Tradisi ini menjadi simbol kesiapan keluarga untuk menyelenggarakan hajatan, menerima tamu, dan berbagi jamuan sebagai wujud keramahan Mangkunegaran.
“Ini menjadi perlambang bahwa kami siap menerima tamu dan menyelenggarakan Dhaup Ageng,” ujar Ayu.












