IAPVC 2026 Solo Safari: Lomba Foto Satwa & Edukasi Konservasi

SOLO, Solokini.com – Ajang kompetisi visual satwa bergengsi International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) kembali dihelat di Solo Safari, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Mengusung tema besar “From Lens to Legacy”, ajang tahunan ini bukan sekadar panggung bagi fotografer untuk memamerkan skill secara teknis. Lebih dari itu, IAPVC menjadi gerakan edukasi publik sekaligus langkah nyata dalam melestarikan keanekaragaman hayati melalui seni visual.

Tentang IAPVC 2026

Perhelatan IAPVC 2026 yang berlangsung di Kota Surakarta ini menghadirkan rangkaian acara menarik yang dikemas secara terstruktur dan inklusif. Berikut adalah rincian utama mengenai pelaksanaan kompetisi tersebut:

  • Tanggal & Waktu: Sabtu, 29 Agustus 2026, mulai pukul 09:00 WIB hingga selesai.
  • Lokasi: Area konservasi terbuka Solo Safari, Surakarta.
  • Tema Utama: “From Lens to Legacy” – Sebuah pengingat mendalam bahwa setiap bidikan lensa hari ini akan menjelma menjadi jembatan edukasi serta rekam jejak digital berharga bagi generasi mendatang.
  • Rangkaian Destinasi Roadshow: Diadakan di tiga lokasi utama Taman Safari Indonesia Group, yaitu Taman Safari Bogor, Solo Safari (berlangsung selama 2 hari pada 29–30 Agustus 2026), dan Taman Safari Prigen.
  • Penyelenggara Utama: Taman Safari Indonesia (TSI) Group yang berkolaborasi erat dengan Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ).
  • Batas Pendaftaran: Pendaftaran karya masih dibuka hingga 30 September 2026 melalui tautan resmi bit.ly/JoinIAPVC2026.
  • Jumlah Peserta: Sebanyak 200 peserta antusias memadati kawasan Solo Safari untuk berburu momen visual terbaik.

Sinergi Tokoh Penting dan Dewan Juri

Keberhasilan pelaksanaan Roadshow IAPVC 2026 di Kota Solo berdiri kokoh di atas sinergi dan kolaborasi erat antara pemerintah daerah, lembaga konservasi, pengamat fotografi profesional, serta dukungan penuh dari sektor swasta. Acara ini dihadiri oleh jajaran pemangku kepentingan utama yang terus mengawal perkembangan ekowisata dan konservasi di Surakarta, antara lain:

  • Maretha Dinar Cahyono – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta.
  • Agus Santoso – Board Member / Board Advisor Taman Safari Indonesia (TSI) Group sekaligus Ketua Yayasan Konservasi Margasatwa Indonesia (YKMI).
  • Achmad Syukri Prihanto (Pak Anto) – Direktur Utama Perumda Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) / Solo Safari.
  • Muhamad Firdaus – Kepala Cabang Bank BTN.
  • Rosa Rebella – Area Manager Aice.
  • Arbain Rambey – Fotografer Senior Indonesia yang bertindak sebagai Ketua Dewan Juri sekaligus Penasihat Komunitas Fotografi IAPVC.
  • Marta Suherman – Fotografer Profesional yang hadir sebagai Dewan Juri utama dan narasumber teknis fotografi/videografi.

Dukungan Pemerintah Kota Surakarta untuk Konservasi Visual

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan TSI Group yang kembali memilih Solo Safari. Keberlanjutan ajang yang telah konsisten berjalan selama 35 tahun ini dinilai sebagai kehormatan besar bagi Kota Solo.

Baca Juga :  UNS Peduli Salurkan Bantuan Gempa Flores NTT Sasar 163 KK

Pemkot Solo menekankan bahwa IAPVC bukan sekadar ajang perlombaan mencari pemenang, melainkan sebuah gerakan edukasi, wadah kreativitas, dan wujud kepedulian terhadap lingkungan. Di era serba digital saat ini, karya foto dan video memiliki kekuatan narasi visual yang sangat efektif dalam menyuarakan pesan-pesan perlindungan satwa secara universal.

Sebagai kota yang kental akan budaya dan nilai kreatif, Solo memiliki ekosistem komunitas yang solid sehingga menjadi ruang ideal untuk menyebarkan kampanye kelestarian alam ke tingkat yang lebih luas.

“IAPVC bukan sekadar kompetisi fotografi biasa, melainkan sebuah gerakan edukasi dan kepedulian lingkungan. Di era digital saat ini, karya foto dan video memiliki kekuatan luar biasa untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi satwa tanpa perlu kata-kata,” tegas Maretha Dinar Cahyono.

Pemkot Solo juga menggarisbawahi pentingnya edukasi sejak dini bagi generasi muda. Menanamkan kesadaran untuk memelihara satwa dan menjaga ekosistem adalah tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya beban pemerintah atau lembaga konservasi semata.

Melalui IAPVC, diharapkan terbangun wadah kolaborasi berkelanjutan antara Pemkot Surakarta, Taman Safari Indonesia, para pelaku ekonomi kreatif, media massa, serta komunitas pecinta alam.

Kategori Kompetisi IAPVC 2026

IAPVC 2026 terus berkembang dengan menambah variasi perlombaan. Pada edisi kali ini, penyelenggara menghadirkan beberapa kategori kompetisi utama serta kategori baru yang dirancang untuk merangkul berbagai latar belakang peserta:

Kategori Lomba Deskripsi & Target Peserta Kriteria Penilaian & Perangkat
Wildlife Photo Story Fotografer Profesional & Umum Keterampilan teknis, ketajaman detail, serta kedalaman storytelling momen alami satwa.
Wildlife Short Video Story Videografer & Content Creator Sinematografi, alur cerita visual, kualitas audio-visual, dan pesan konservasi.
Wildlife Young Creator Anak-anak & Remaja (Generasi Muda) Eksplorasi rasa ingin tahu, pengenalan satwa, dan penanaman kesadaran lingkungan.
Wildlife Roadshow Story Challenge Peserta Khusus Roadshow (Solo, Bogor, Prigen) Kejelian menangkap momen berkesan dan pengalaman berinteraksi langsung di lokasi roadshow.
Wildlife Journalist Story (Kategori Baru) Jurnalis & Pewarta Foto Kedalaman nilai berita, keautentikan karya, dan narasi pesan konservasi.
People’s Choice Awards (Kategori Baru) Kategori Favorit Publik Berdasarkan apresiasi dan jumlah penikmat visual di ruang publik/media digital.

Visi Konservasi dan Warisan Digital

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan direksi TSI Group, Agus Santoso, membedah filosofi mendalam di balik tema “From Lens to Legacy”.

Ia menegaskan, setiap karya visual yang diunggah dan dibagikan ke ruang publik akan menjelma menjadi warisan digital yang tak bernilai harganya. Melalui medium gambar, publik diajak mengenal lebih dekat karakteristik unik satwa—mulai dari momen berburu, kepakan sayap di udara, hingga kehangatan interaksi antar-kelompoknya.

“Nanti suatu hari Saudara setelah memotret, Saudara masih punya legacy, karena ada rekam jejak Saudara-saudara di media sosial, di media digital kita. Kita di Taman Safari pun masih menyimpan koleksi digital puluhan tahun lalu tersimpan lengkap,” paparnya.

Baca Juga :  Boyolali Gelontorkan Rp10,7M untuk Seragam dan LKS Gratis untuk Siswa SD-SMP

“Kami ingin melalui IAPVC, masyarakat tidak hanya melihat satwa sebagai objek foto, tetapi juga memahami cerita dan pentingnya menjaga keberadaan mereka. Kehadiran roadshow di Solo menjadi kesempatan untuk mempertemukan semangat berkarya dengan pengalaman melihat satwa secara langsung,” tambah Agus Santoso.

Bagi pengelola Solo Safari dan Taman Safari Indonesia Group, fungsi lembaga konservasi merupakan fondasi paling mendasar. Sebagai salah satu situs konservasi kelas dunia yang menampung lebih dari 9.325 hewan dari 409 spesies, TSI Group telah memainkan peran penting sejak 1980 dalam menyelamatkan, merehabilitasi, dan melepasliarkan satwa ke alam bebas.

Seni dan Strategi Menaklukkan Tantangan Fotografi Satwa

Mengabadikan momen kehidupan liar (wildlife photography) membawa tantangan tersendiri yang amat berbeda jika dibandingkan dengan fotografi potret manusia. Keberhasilan dalam menangkap gambar yang memukau dan bercerita sangat bergantung pada beberapa faktor penentu di lapangan:

  • Navigasi Perilaku Alami: Satwa bergerak murni berdasarkan insting tanpa bisa diatur posenya. Fotografer dituntut peka dan mampu memprediksi pergerakan objeknya.
  • Kekuatan Kesabaran: Menunggu momentum langka—seperti momen satwa mengepakkan sayap atau tatapan tajam karnivora—membutuhkan ketenangan dan alokasi waktu yang tidak singkat.
  • Kesiapan Teknis dan Alat: Perubahan cuaca serta dinamika intensitas cahaya terbuka mengharuskan peserta cekatan mengoperasikan lensa telephoto.
  • Kemudahan Teknologi Modern: Kehadiran smartphone berfitur cerdas memberikan ruang luas bagi peserta pemula untuk berkarya tanpa perlu terhambat rumitnya pengaturan diafragma manual.

“Memotret satwa itu tidak mudah karena mereka tidak bisa diatur, dan triknya, ekspresinya juga harus ditunggu. Sehingga kalau memang ada rezeki buat Saudara-saudara sekalian, ya mudah-mudahan mendapat momentumnya. Memang ini perlu: satu, kesabaran; yang kedua, teknik foto; dan juga cuaca yang mendukung,” jelas Agus Santoso mengenai dinamika tantangan memotret satwa.

Untuk menyambut antusiasme yang luar biasa, ada terobosan berbeda pada gelaran IAPVC tahun ini. Pihak penyelenggara menyediakan fasilitas penyewaan kamera di lokasi bagi masyarakat umum yang ingin berpartisipasi namun terkendala ketersediaan alat fotografi.

Apresiasi dan Dukungan Solid dari Mitra Sponsor

Langkah besar IAPVC 2026 sebagai ajang fotografi satwa kelas dunia kian solid berkat dukungan kuat para mitra sponsor yang memiliki komitmen serupa dalam mendorong kesadaran konservasi. Dukungan ini diwujudkan melalui penyediaan berbagai bentuk apresiasi prestisius bagi para pemenang kompetisi, dengan hadiah utama berupa satu unit mobil Wuling.

Keterlibatan antusias dari 200 peserta kompetisi membuktikan bahwa batas antara karya seni visual dan aksi nyata pelestarian alam dapat menyatu dengan harmonis. Lewat setiap jepretan kamera yang tercipta di Solo Safari, pesan perlindungan konservasi akan terus bergema lebih jauh, mengedukasi masyarakat, dan menginspirasi lebih banyak pasang mata di seluruh penjuru negeri.

Berita sebelumya7 Warung Makan Murah di Solo, Menu di Bawah Rp25 Ribu
Berita berikutnyaApa Itu Manifestasi? Konsep, Tren, dan Cara Menerapkannya