PMI Solo Kirim Tim Kesehatan Tanggap Darurat Bencana ke Nagekeo NTT

Pelepasan Tim Tanggap Darurat Bencana (TDB) Kesehatan dari markas PMI Solo ke Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (22/8/2026).

SOLO, Solokini.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta (Solo) mengirimkan Tim Tanggap Darurat Bencana (TDB) Kesehatan ke Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (22/8/2026).

Tim medis ini diterjunkan untuk memberikan layanan kesehatan darurat bagi korban dan pengungsi terdampak gempa bumi di wilayah terpencil.

Langkah cepat PMI Surakarta ini bertujuan untuk memperkuat akses pelayanan medis dan bantuan kesehatan primer bagi masyarakat terdampak serta ribuan pengungsi yang ada di wilayah terpencil.

Komposisi Personel dan Pasokan Obat Darurat

Dalam misi kemanusiaan ke NTT, PMI Kota Surakarta memberangkatkan sebanyak lima personel pilihan yang memiliki kualifikasi teknis di bidang medis dan penanggulangan bencana. Personel yang diterjunkan terdiri atas:

  • 1 orang dokter yang bertanggung jawab atas pemeriksaan klinis, diagnosis, dan tindakan medis darurat.
  • 2 orang perawat yang mengurusi perawatan pasien, penanganan luka, serta pendampingan tindakan medis.
  • 1 orang apoteker yang mengelola distribusi, penyiapan, dan keamanan pemakaian obat-obatan di lapangan.
  • 1 orang staf Humas yang bertugas mengelola dokumentasi, ketersediaan informasi, serta koordinasi alur komunikasi publik.

Selain membawa tenaga medis yang kompeten, tim PMI Solo membawa logistik obat-obatan darurat yang difokuskan untuk menangani keluhan kesehatan umum di area pengungsian.

Jenis obat-obatan yang disiapkan meliputi antibiotik, obat antinyeri, obat gangguan pencernaan, hingga obat antidiare guna mengantisipasi penyakit menular akibat penurunan kualitas sanitasi di tempat pengungsian.

Rute Perjalanan dan Strategi Pelayanan Mobile Clinic

Menurut jadwal, tim berangkat dari Kota Solo menuju Surabaya pada Minggu malam, 23 Agustus 2026. Perjalanan berlanjut via jalur udara menuju Labuan Bajo sebelum akhirnya menempuh jalur darat dan penyeberangan menuju titik penugasan utama di Kabupaten Nagekeo.

Ketua Umum PMI Surakarta, Sumartono Hadinoto menegaskan, penempatan tim di Nagekeo didasarkan pada hasil pemetaan serta koordinasi intensif bersama PMI Provinsi NTT dan PMI Pusat. Wilayah Nagekeo menjadi salah satu titik terdampak paling signifikan dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 5.000 jiwa.

Guna menjangkau titik pengungsian yang tersebar dan minim akses angkutan, PMI Surakarta memprioritaskan metode Mobile Clinic atau klinik keliling. Strategi “jemput bola” ini dinilai efektif untuk menembus lokasi-lokasi terisolasi tempat warga mengungsi.

Baca Juga :  Green Impact Project 2026 UNS: Inovasi Mahasiswa untuk Lingkungan

“Setelah koordinasi kami akan ditempatkan di kecamatan Nagekeo yang mana ada 5.000 jiwa yang terdampak. Dan kami berharap bisa membawa mobil klinik. Bahwa kebutuhan kesehatan ini sampai di tempat-tempat terpencil, kami akan jemput bola,” tutur Sumartono saat pelepasan tim di Markas PMI Surakarta.

Sumartono menambahkan, pendekatan aktif ini krusial agar tidak ada satupun korban gempa yang terlewat dari bantuan medis dasar hanya gara-gara kendala jarak, keterbatasan kendaraan, maupun infrastruktur jalan yang rusak pascagempa.

Masa Penugasan dan Kaji Cepat Kebutuhan (Asesmen)

Misi tanggap darurat bencana ini direncanakan berlangsung selama 21 hari, terhitung mulai 22 Agustus hingga 12 September 2026. Selama rentang waktu tiga minggu tersebut, tim akan mengitari berbagai titik pengungsian secara berkala.

Mengingat adanya batasan kapasitas bagasi penerbangan, jumlah obat-obatan awal yang dibawa dari Solo masih terbatas pada kebutuhan krusial jangka pendek. Oleh sebab itu, tim kesehatan akan melakukan needs assessment (asesmen kebutuhan) secara intensif begitu tiba di Nagekeo.

“Yang dibawa adalah 1 dokter, 2 perawat, 1 apoteker, dan 1 humas beserta obat-obatan. Karena naik pesawat kami tidak bisa membawa dalam jumlah besar, tapi ini nanti di sana kami asesmen di lokasi membutuhkan apa bisa kita kirimkan,” terang Sumartono.

Pengurus Bidang Markas PMI Kota Surakarta, Moeljoto Soetikno Siek, menyoroti tantangan operasional yang dihadapi tim di lapangan. Menurutnya, kesiapan fisik dan mental personel menjadi kunci keberhasilan pelayanan mobile selama di pengungsian.

“Kita akan bertugas keliling mobile untuk di setiap pengungsian yang membutuhkan. Nanti kita muter selama 24 hari. Jadi kita berlima berangkat. Mohon doanya semua supaya tim dari PMI Surakarta dalam keadaan sehat, kuat, dan bisa melayani kebutuhan selama di pengungsian,” ungkap Moeljoto.

Respon Kerusakan Fasilitas Kesehatan Lokal

Dampak gempa bumi tidak hanya merusak pemukiman warga, tetapi juga melumpuhkan sebagian sarana dan prasarana kesehatan lokal.

Baca Juga :  Puncak HUT ke-94 PMS Meriah dengan Eksibisi Gamelan, Wawali Astrid Tampil

Banyak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) maupun Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Nagekeo yang belum bisa beroperasi secara optimal akibat kerusakan fisik bangunan atau keterbatasan tenaga kesehatan setempat yang juga menjadi korban bencana.

Kepala Seksi Penanggulangan Bencana PMI Surakarta, Jumadi menyebutkan, kehadiran tim PMI Surakarta dirancang untuk menutup celah gap pelayanan medis primer tersebut.

“Prioritas utama kami adalah mendekatkan pelayanan medis kepada para pengungsi. Karena banyak faskes setempat yang belum beroperasi, layanan Mobile Clinic menjadi tumpuan agar warga terdampak segera mendapatkan pengobatan medis secara merata,” ujar Jumadi.

Masalah sanitasi lingkungan pengungsian yang kurang memadai kerap memicu munculnya wabah penyakit pascabencana seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga penyakit kulit.

Ketersediaan stok obat-obatan spesifik yang dibawa PMI Surakarta diharapkan mampu menekan risiko pemburukan kondisi kesehatan masyarakat di pos penampungan.

Sinergi Lintas Sektor dan Kepercayaan Publik

Keberangkatan tim tanggap darurat PMI Surakarta tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam sistem penanggulangan bencana nasional.

PMI Surakarta terus menjalin komunikasi terpadu bersama PMI Provinsi NTT, PMI Pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta jajaran pemerintah daerah setempat agar seluruh bantuan terdistribusi secara akurat dan tepat sasaran.

Sumartono menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap masyarakat Kota Solo dan para donatur yang konsisten menyalurkan kepercayaan serta dukungannya melalui PMI Surakarta. Dukungan publik inilah yang menjadi fondasi utama PMI Solo untuk selalu sigap hadir di setiap arena bencana alam di tanah air.

“Jadi kami PMI Surakarta berterima kasih selalu dipercaya dan selalu mendapatkan amanah tugas-tugas yang sangat mulia. Karena kami merasa sangat dipercaya masyarakat Solo sehingga kami sangat mudah untuk melakukan apapun tugas-tugas yang diemban oleh PMI Surakarta,” tutup Sumartono.

Lewat pengiriman Tim TDB Kesehatan ini, PMI Kota Surakarta berharap penanganan medis pascabencana gempa di Nagekeo dapat berjalan lebih cepat, teratur, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan penanganan medis darurat.

Berita sebelumyaApa Itu Cancel Culture? Definisi, Dampak Positif dan Negatifnya
Berita berikutnyaKlub Buku Soloraya Gelar Baca Serentak dan Donasi NTT di Balekambang Solo