
SEMARANG, Solokini.com – Perekonomian Jawa Tengah (Jateng) tetap menunjukkan ketahanan dan daya tahan (resiliensi) yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jateng berhasil mencatatkan pertumbuhan kuat sebesar 5,71 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Capaian pertumbuhan ekonomi Jateng tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa secara keseluruhan yang sebesar 5,65 persen (yoy), maupun pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen (yoy).
Kinerja impresif tersebut dipaparkan dalam gelaran Media Briefing Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) se-Jateng yang dihadiri oleh jajaran pimpinan KPwBI Provinsi Jateng, KPwBI Solo, KPwBI Tegal, dan KPwBI Purwokerto, Kamis (13/8/2026).
Agenda kolaboratif ini diselenggarakan sebagai langkah penguatan sinergi komunikasi kebijakan BI sekaligus untuk menyampaikan perkembangan dinamika perekonomian serta berbagai langkah strategis di Jawa Tengah.
KPw BI Jateng, M. Noor Nugroho, mengungkapkan, kinerja ekonomi daerah yang tetap solid ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, investasi yang terus berlanjut, serta terjaganya kinerja sektor-sektor usaha utama.
Konsumsi dan Investasi Jadi Penopang Utama Sisi Permintaan
Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2026 didorong oleh tiga komponen utama pengeluaran, yaitu konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Berikut rinciannya:
- Konsumsi Rumah Tangga: Tumbuh sebesar 4,31 persen (yoy). Kinerja konsumsi masyarakat ini ditopang oleh meningkatnya mobilitas warga selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan libur panjang sekolah.
- Investasi (PMTB): Mencatatkan kenaikan kuat sebesar 8,84 persen (yoy). Pertumbuhan investasi ini berjalan seiring dengan akselerasi pembangunan berbagai kawasan industri baru serta keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jawa Tengah.
- Konsumsi Pemerintah: Mengalami lonjakan signifikan sebesar 15,69 persen (yoy), yang turut memberikan stimulus penting bagi penyerapan anggaran dan aktivitas perekonomian di tingkat daerah.
Sektor Akomodasi dan Perdagangan Tumbuh Melesat
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Jateng disokong oleh kinerja positif sektor-sektor unggulan:
- Industri Pengolahan: Sebagai tulang punggung PDRB daerah, sektor manufaktur ini tumbuh sebesar 5,03 persen (yoy).
- Perdagangan: Mengalami pertumbuhan pesat sebesar 7,52 persen (yoy).
- Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum: Mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 12,80 persen (yoy). Tingginya angka pertumbuhan sektor ini sejalan dengan maraknya aktivitas pariwisata, event olahraga (sport tourism), dan mobilitas masyarakat.
Stabilitas Inflasi Terjaga Melalui Strategi 4K
Keberhasilan dalam menjaga stabilitas makroekonomi daerah juga tercermin dari angka inflasi Jateng. Pada Juli 2026, inflasi Jateng tercatat sebesar 2,60 persen (yoy). Angka ini sangat terjaga karena berada di dalam rentang sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy) serta lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi nasional sebesar 2,88 persen (yoy).
BI bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun 35 kabupaten/kota se-Jateng terus bersinergi memperkuat pengendalian inflasi secara end-to-end, khususnya pada komoditas pangan strategis.
Pengendalian inflasi ini mengimplementasikan strategi 4K, yakni:
- Keterjangkauan Harga
- Ketersediaan Pasokan
- Kelancaran Distribusi
- Komunikasi Efektif
Strategi ini tidak hanya difokuskan untuk merespons gejolak harga jangka pendek, tetapi juga dirancang untuk memperkuat struktur pasokan dan distribusi secara berkesinambungan. Langkah konkrit yang ditempuh meliputi:
- Peningkatan produktivitas pertanian dan komoditas pangan strategis.
- Perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD) antara wilayah surplus dan defisit.
- Penguatan peran outlet pangan dan BUMD sebagai penampung hasil panen (offtaker).
- Digitalisasi data pasokan sebagai sistem peringatan dini (early warning system).
Kewaspadaan Risiko dan Upaya Menjaga Momentum Pertumbuhan
Meskipun capaian ekonomi menunjukkan tren positif, BI mengimbau agar berbagai risiko global maupun domestik tetap dicermati. Hasil penelusuran (liaison) BI kepada para pelaku usaha pada triwulan II 2026 mengindikasikan bahwa sebagian besar dunia usaha masih optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan.
Namun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian serius, di antaranya:
- Kenaikan biaya produksi dan pembiayaan.
- Keandalan dan ketahanan pasokan energi.
- Dinamika perdagangan global yang belum menentu.
Oleh karena itu, penguatan permintaan domestik, keberlanjutan investasi, serta penciptaan iklim usaha dan pembiayaan yang kondusif menjadi kunci utama untuk memelihara momentum pertumbuhan.
Lima Langkah Strategis KPwBI se-Jawa Tengah
Untuk mendukung momentum pertumbuhan berkelanjutan, KPwBI se-Jateng menjalankan lima fokus program kerja utama:
- Asesmen dan Riset Ekonomi: Pelaksanaan asesmen ekonomi triwulanan secara rutin, penyusunan riset daya saing kawasan industri, ketahanan pasokan telur dan daging ayam, serta studi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Selain itu, dilakukan quick survey untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap inflasi pangan dan pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT).
- Pengembangan Usaha Unggulan: Pelaksanaan survei guna menyediakan data dan rekomendasi pengembangan Komoditas/Produk/Jenis Usaha Unggulan (KPJU) se-Jawa Tengah.
- Pengembangan UMKM & Pembinaan Pesantren: Pelaksanaan program pendampingan bersinergi dengan mitra kerja (onboarding digital, UMKM ekspor, klaster ketahanan pangan, kemandirian ekonomi pesantren, sertifikasi halal, dan pembentukan UMKM hijau).
- Akselerasi Digitalisasi Daerah: Penguatan fungsi advisory kepada Pemda dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) untuk perluasan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) serta penguatan ekosistem QRIS.
- Pengelolaan Uang Rupiah (CBP Rupiah): Menjaga kualitas kelayakan uang edar hingga wilayah terluar melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di Kepulauan Karimunjawa.
Pengguna QRIS Jateng Tembus 9,08 Juta, Terbanyak Ke-3 Nasional
Sejalan dengan komitmen kebijakan yang mendukung pertumbuhan (pro-growth), BI mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran. Akselerasi ini terbukti meningkatkan efisiensi dan efektivitas transaksi dari sisi biaya maupun waktu.
Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Jawa Tengah telah mencapai 9,08 juta pengguna. Angka ini menempatkan Jateng sebagai wilayah dengan jumlah pengguna QRIS terbesar ke-3 secara nasional. Dari sisi merchant, tercatat sebanyak 4,52 juta merchant telah mengadopsi QRIS (terbanyak ke-4 secara nasional).
Momentum akseptasi digital terus dipacu melalui gelaran Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 pada 11–17 Agustus 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81. Berbagai kegiatan literasi dan sport tourism turut digelar untuk memperluas penggunaan pembayaran digital, seperti Rupiah Borobudur Playon, Adipati QRIS Run di Solo, Tegal City Run di Tegal, serta QRIS Purwokerto Run di Purwokerto.
Sementara itu, pada paruh pertama 2026, BI telah menggelar 49 kegiatan edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang melibatkan 29.909 peserta, sekaligus menyalurkan Rp3,62 miliar uang layak edar ke empat pulau di kepulauan terluar.
Ekosistem Syariah Diperkuat Lewat Program SPES dan FAJAR 2026
Bank Indonesia juga menaruh perhatian besar pada pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar). KPwBI se-Jateng berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng membentuk Sekolah Pelopor Ekonomi Syariah (SPES). Program ini menginisiasi hadirnya zona Kuliner Halal Aman dan Sehat (KHAS) di lingkungan sekolah.
Selain itu, pendampingan sertifikasi halal secara masif diberikan kepada penyelia, auditor, juru sembelih, pelaku usaha, hingga Rumah Potong Hewan/Unggas (RPH/RPU).
Di tingkat regional, berbagai festival ekonomi syariah diselenggarakan sebagai wadah integrasi dan sosialisasi:
- Jawa Tengah: Gelaran Olimpiade Aksi dan Syiar Ekonomi Syariah (OASE) 2026 dan Festival Jateng Syariah (FAJAR) 2026.
- Solo Raya (KPwBI Solo): Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren Solo Raya (SYEKATEN).
- Banyumas Raya (KPwBI Purwokerto): Semarak Festival Ekonomi Syariah (SELARAS).
- Ex-Karesidenan Pekalongan (KPwBI Tegal): Syariah Festival Ekonomi Tegal (SYAFAAT).
Sinergi Berkelanjutan Demi Kesejahteraan Masyarakat
Rangkaian kebijakan dan program yang dijalankan oleh BI merupakan implementasi nyata dari bauran kebijakan yang pro-stability sekaligus pro-growth.
Noor Nugroho menegaskan, ke depan BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan lintas wilayah bersama pemerintah daerah serta seluruh mitra strategis. Sinergi ini difokuskan pada upaya menjaga stabilitas harga, memperluas digitalisasi, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi Rupiah, serta mengoptimalkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Sinergi yang solid menjadi kunci utama agar kinerja tinggi ekonomi Jawa Tengah tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang inklusif, berdaya tahan, dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat,” pungkasnya.












