
Solokini.com — Hubungan antara Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo (Rudy) dan Joko Widodo (Jokowi) pernah dikenal luas saat keduanya memimpin Kota Surakarta (Solo) sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota.
Namun, dalam perkembangannya, muncul dinamika serta sudut pandang berbeda dari Rudy, tokoh senior yang menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Surakarta selama 25 tahun itu, terkait perjalanan politik dan narasi publik yang terbangun selama ini.
Dalam wawancara di saluran YouTube Akbar Faizal Uncensored (AFU), Rudy menyampaikan sejumlah pandangan dan membeberkan rekam jejak kerja sama serta pergeseran peta politik di lingkaran Solo.
Prinsip Organisasi dan Loyalitas Partai
Rudy menegaskan komitmennya terhadap ideologi dan aturan organisasi PDIP Solo, tempat ia bernaung sejak tahun 1986. Dalam podcast tersebut, ia membagikan pandangan hidupnya melalui filosofi akar:
“Jadilah seperti akar yang berjuang mencari air menembus tanah yang keras bahkan bebatuan demi sebatang pohon. Ketika pohon tumbuh, berdaun lebat, dan berbunga elok, pohon yang mendapat pujian, agar tetap dibuat tanpa pernah mengeluh.”
Filosofi ini dijelaskan Rudy sebagai pijakan dalam mendampingi langkah politik Jokowi sejak awal diperkenalkan pada tahun 2004 hingga memimpin Solo.
Pernyataan Seputar Sejumlah Narasi Publik
Di podcast yang diunggah tanggal 28 Juli 2026 tersebut, Rudy membeberkan beberapa catatan dan penjelasan terkait peristiwa serta program yang pernah menjadi sorotan publik, di antaranya:
- Proses Relokasi PKL Banjarsari
Menanggapi narasi pertemuan hingga 54 kali dalam proses relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) Banjarsari, Rudy menjelaskan bahwa angka tersebut lebih merupakan bagian dari pembentukan opini publik. Menurut penjelasannya, Jokowi hadir sebanyak dua kali dalam dialog langsung, sementara proses negosiasi dan pendampingan teknis di lapangan sebagian besar ditangani oleh dirinya.
- Riwayat Pengalaman Digusur
Rudy juga menguraikan narasi mengenai pengalaman digusur sebanyak tiga kali. Ia menyatakan, riwayat penggusuran dari Magersari, bantaran Sungai Bengawan Solo di Pucang Sawit, hingga lahan pemukiman merupakan pengalaman hidup pribadinya, bukan riwayat perjalanan hidup Jokowi.
- Latar Belakang Mobil Esemka
Mengenai Mobil Esemka yang dipromosikan sebagai proyek mobil nasional, Rudy menjelaskan, kendaraan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran siswa SMK. Sasis kendaraan yang berasal dari Tiongkok dirakit dan disesuaikan oleh bengkel lokal di Solo. Ia juga menuturkan pandangannya terkait wacana kerja sama dengan produsen asal Malaysia, Proton, yang dinilainya tidak sejalan dengan semangat awal pengembangan potensi lokal.
- Tagihan Listrik Pemkot Solo Tahun 2011
Rudy menceritakan situasi tata kelola keuangan Pemkot Solo pada tahun 2011 saat menghadapi ancaman pemadaman listrik akibat tunggakan pembayaran ke pihak PLN. Ia membeberkan momen ketika dirinya bersama Jokowi mendatangi langsung kantor PLN Purwosari untuk menyerahkan pembayaran secara tunai guna melunasi kewajiban tersebut.
Dinamika Pencalonan dan Arah Politik
Mengenai hubungan politik terkini, Rudy menyoroti tahapan pencalonan Gibran Rakabuming Raka, putra pertama Jokowi, dalam Pilkada Solo tahun 2019. Menurutnya, langkah tersebut berhadapan dengan hasil proses internal DPC PDI Perjuangan Surakarta yang sebelumnya telah mengusung pasangan Achmad Purnomo–Teguh Prakosa.
Kendati memiliki pandangan internal yang berbeda, Rudy menyatakan tetap menjalankan keputusan dan mengamankan kemenangan Gibran setelah rekomendasi resmi dari DPP PDI Perjuangan diterbitkan, sebagai bentuk kepatuhan terhadap hierarki partai.
Dinamika berlanjut pada perkembangan politik nasional, termasuk perubahan ketentuan syarat usia calon wakil presiden melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) serta arah politik Gibran dan Bobby Nasution yang kini tidak lagi sejalan dengan PDI Perjuangan.
Pandangan Terhadap Komitmen Organisasi
Rudy menyampaikan bahwa komunikasi pribadinya dengan Jokowi telah berkurang seiring perkembangan dinamika politik yang terjadi. Ia menekankan pentingnya menjaga komitmen serta etika berorganisasi bagi seluruh kader:
“Saya kan sudah berkali-kali menyampaikan: jangan mengkhianati Ketua Umum. Kalau mengkhianati Ketua Umum, itu hukumannya tidak ringan.”
Mengakhiri wawancara sekitar satu jam tersebut, Rudy menganalogikan prinsip hidupnya seperti pengalaman kerjanya sebagai mantan tukang las, yaitu berupaya menyatukan dua elemen yang keras menjadi satu ikatan yang kuat dan bermanfaat.













