Solokini.com — Secara Sumber Daya Alam (SDA), Kota Surakarta (Solo) bisa dikatakan minim. Namun, hampir setiap pekan selalu ada event, seperti, festival, konser, pameran, hingga pertunjukan budaya di kota ini.
Kota Surakarta (Solo) tidak memiliki tambang emas, minyak bumi, atau bentang alam pegunungan dan laut yang luas untuk dijadikan komoditas wisata alam.
Mengapa kota tanpa kekayaan SDA melimpah ini justru bertransformasi menjadi magnet event nasional bahkan internasional?
Strategi MICE dan Kota Pertunjukan
Keterbatasan geografis dan alam justru memaksa Pemerintah Kota Surakarta untuk memutar otak. Tanpa SDA, satu-satunya modal utama yang dimiliki Solo adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dan warisan budaya (SDA kultural).
Mengutip laman resmi Pemkot Solo, berdasarkan cetak biru pengembangan kota, Solo secara konsisten membranding diri sebagai kota Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) serta kota pertunjukan (City of Events).
Ketika sektor industri primer tidak bisa diandalkan, sektor jasa dan pariwisata berbasis event menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Event bukan sekadar hiburan, melainkan pemicu datangnya wisatawan yang akan membelanjakan uangnya di hotel, kuliner, transportasi, dan UMKM lokal.
Kreativitas di Tengah Keterbatasan
Fenomena ini sejalan dengan konsep Creative City (Kota Kreatif). Studi literatur di Jurnal Pariwisata Terapan memaparkan, kota-kota yang mengalami keterbatasan ruang fiskal dan kekayaan alam cenderung mengoptimalkan aset budaya berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible) milik mereka.
Solo memiliki keraton, koridor sejarah, dan komunitas seni yang sangat aktif. Sinergi antara kebijakan top-down dari pemerintah dan gerakan bottom-up dari pegiat seni inilah yang melahirkan event ikonik seperti Solo Solo Batik Carnival, Solo International Performing Arts (SIPA), hingga Rock in Solo.
Buku “Profil Pariwisata Surakarta” yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta juga menegaskan bahwa narasi “Solo Masa Lalu adalah Solo Masa Depan” diwujudkan dengan mengemas tradisi kuno ke dalam festival modern.
Pemerintah kota bertindak sebagai fasilitator dengan mempermudah izin pemanfaatan ruang publik seperti Benteng Vastenburg, Koridor Ngarsopuro, dan Taman Balekambang sebagai venue pertunjukan.
Efek Domino Ekonomi Kreatif
Menurut data capaian kinerja yang tercatat dalam Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, perputaran uang selama pelaksanaan event-event besar terbukti mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hotel dan restoran.
Saat SDA tidak bisa diperbarui atau dikuras habis, event budaya justru sebaliknya: semakin sering digelar dan diasah, nilainya justru semakin tinggi dan tak akan pernah habis.
Bagi Solo, ramai event bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah strategi bertahan hidup sekaligus pembuktian bahwa dengan kreativitas dan manajemen kota yang tepat, ketiadaan alam yang megah bisa digantikan dengan megahnya panggung budaya.














