Solokini.com – Sebutan Surakarta (Solo) sebagai kota slow living, yakni sebuah kota denan gaya hidup lambat atau santai. Mengapa demikian?
Sebutan tersebut lahir dari kombinasi antara tata kota yang humanis, biaya hidup yang terjangkau, serta falsafah hidup masyarakat Jawa yang melekat kuat.
Di tengah gempuran urbanisasi yang serbacepat, Solo berhasil mempertahankan ritme hidup yang tenang dan minim tekanan.
Berikut adalah beberapa faktor utama mengapa Solo dijuluki sebagai kota slow living:
- Falsafah Budaya Jawa yang Menjunjung Ketenangan
Masyarakat Solo hidup dengan berpegang pada prinsip-prinsip hidup Jawa, seperti “Alon-alon waton kelakon” (biar lambat asal selamat/tercapai) dan “Nrimo ing pandum” (menerima apa adanya dengan penuh rasa syukur).
Falsafah ini menciptakan atmosfer sosial yang minim ambisi meledak-ledak dan mengutamakan harmoni serta kesabaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Mengutip Raina dalam “Integrating Culture and Technology in Smart Tourism: A Case Study of Solo” (2024), kebudayaan dan pola pikir masyarakat ini berakar kuat dari sejarah Surakarta sebagai pusat peradaban dan pelestari budaya Jawa.
- Tata Kota yang Humanis dan Aksesibel
Solo merupakan kota berukuran sedang (mid-sized city) yang dirancang dengan konsep ruang publik yang ramah pejalan kaki.
Keberadaan fasilitas seperti Solo City Walk di sepanjang Jalan Slamet Riyadi memberikan ruang bagi warga untuk berjalan santai, berinteraksi, dan menikmati kota tanpa perlu terburu-buru oleh kemacetan yang parah.
Penelitian mengenai Livability (daya hidup) menunjukkan bahwa jalur pedestrian seperti Solo City Walk berhasil memberikan tingkat kenyamanan yang tinggi bagi pergerakan warga kota.
Hal tersebut diungkap oleh Irfanda, M. A., dalam “Daya Hidup pada Solo City Walk Koridor Slamet Riyadi, Kota Surakarta”, Jurnal Desain Kawasan Kota, Universitas Sebelas Maret
- Dinobatkan sebagai Salah Satu Kota Paling Layak Huni
Ritme slow living di Solo juga divalidasi oleh indeks resmi. Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) dalam studinya mengenai Most Livable City Index (MLCI) berulang kali menempatkan Solo di peringkat teratas sebagai kota paling nyaman dan layak huni di Indonesia.
Indikator yang dinilai meliputi aspek fisik kota, fasilitas publik, ruang terbuka hijau, biaya hidup, hingga rendahnya tingkat kriminalitas.
Berdasarkan data indeks Indonesia’s Most Livable City yang dirilis oleh Ikatan Ahli Perencanaan, Solo secara konsisten menduduki nilai indeks kenyamanan tertinggi dengan skor 66,9, jauh melampaui kota-kota metropolitan lainnya.
- Biaya Hidup yang Terjangkau
Gaya hidup slow living sulit diterapkan di kota dengan tekanan ekonomi yang tinggi. Solo menawarkan alternatif berupa biaya hidup yang relatif rendah, mulai dari kuliner legendaris yang murah hingga akomodasi yang terjangkau.
Hal ini membuat warganya tidak terjebak dalam pusaran hustle culture (budaya kerja berlebihan) demi menutupi biaya hidup yang tinggi.
Menurut IAP dalam Kriteria Livable City (2023), variabel ekonomi seperti kesesuaian tingkat pendapatan dengan biaya hidup menjadi salah satu pilar penentu mengapa Solo diakui sebagai wadah menetap yang minim stres.














