“Saking Pintarnya Jadi. . . Bodoh”

Ilustrasi orang sedang pidato. foto: freepik.com
Ilustrasi orang sedang pidato. foto: freepik.com

Semula saya memberi judul tulisan ini : “Saking Pintarnya Jadi Goblok”. Kenapa? Sekadar mengikuti yang sedang trending saat ini.  Kata “goblok” banyak dibahas di medsos.  Anda tahulah, mengapa kata ini menjadi trending atau viral. Ya,  gegara ada pemimpin kita bilang “saking pintarnya jadi goblok”.

Namun etikawan membisiki saya,  terlalu kasarlah, pilih yang lebih sopan.  Maka,  saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Padanan dari goblok apa saja? Bodoh, tolol, dungu, panda atau pandir, bebal, dan bloon.

Ah sudahlah saya pilih saja : bodoh.  Kata KBBI,  bodoh adalah tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu, atau tidak dapat mengerjakan sesuatu (contoh: tidak bisa menghitung penjumlahan dasar); tidak memiliki pengetahuan, pendidikan, atau pengalaman; dan terserah!

Sementara goblok bentuk kata sifat (adjektiva) yang memiliki arti: bodoh sekali (contoh: goblok engkau! masa lima ditambah lima saja tidak tahu).

Sejatinya kata goblok yang diucapkan pemimpin kita itu muncul sebagai penggalan.  Kalimat utuhnya: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” Pernyataan tersebut disampaikan ketika sang pemimpin membahas kritik yang menurut penilaiannya telah masuk ke dalam tudingan yang ia kategorikan sebagai fitnah.

Baca Juga :  Apa itu Mindfulness? Belajar dari Kontroversi Maudy Ayunda

Setelah mengucapkan pernyataan tersebut, sang pemimpin  kembali berbicara mengenai pentingnya kejujuran intelektual. Ia menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki kepintaran atau kepakaran tetap harus menjunjung kejujuran sebagai seorang cendekiawan. Tanpa kejujuran intelektual maka “saking pintarnya jadi goblok”.

Apapun konteksnya, ketika seorang pemimpin mengucapkan kata goblok, maka ia jelas-jelas mengabaikan etika komunikasi. Aristoteles dan Socrates merupakan tokoh klasik yang meletakkan dasar moral, retorika, dan etika dalam penyampaian pesan di depan publik. Merujuk pada kedua tokoh itu, secara etika komunikasi tentu tidak etis dan tidak pantas, terutama bila diucapkan oleh figur publik, pejabat negara, atau dalam forum resmi.

Baca Juga :  Gibran Lebih Pilih Kantin Sekolah & UMKM Kelola MBG

Ditambahkan oleh filsuf berikutnya, pejabat publik atau tokoh masyarakat terikat oleh norma moral dan etika keteladanan. Penggunaan kata kasar justru merendahkan wibawa jabatan yang diemban.

Ingat,  ucapan seorang pemimpin menjadi sorotan publik luas, termasuk anak-anak dan pelajar, sehingga kata-kata kasar berpotensi menjadi contoh komunikasi yang buruk bagi generasi muda.

Unen-unen Jawa juga mengingatkan, “ajining diri ono ing lathi”. Ungkapan yang berarti harga diri atau kehormatan seseorang terletak pada mulut atau perkataannya.  Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang menunjukkan kualitas jiwa, sifat, dan kepribadiannya. Orang yang bijak dinilai dari bagaimana ia menjaga lisannya. Perkataan yang jujur, santun, dan menyejukkan akan membuat seseorang dihormati. Sebaliknya, perkataan kasar atau tidak sopan dapat menjatuhkan martabat diri sendiri. (*)

 

Toto TIS Suparto,  wartawan senior.

Berita sebelumyaSensasi Kuliner Prancis Mewah Hadir di Grand Mercure Solo Baru