SOLO, Solokini.com — Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwana XIV (PB XIV) Hangabehi, secara spontan hadir di tengah-tengah kerumunan masyarakat yang sedang menikmati gelaran budaya bertajuk “Kamis di Sriwedari”.
Momen langka tersebut menjadi pemandangan luar biasa dan tak terduga mewarnai kawasan Taman Sriwedari, Kota Surakarta (Solo), Kamis (23/9/2026) malam.
Tanpa protokol maupun pengawalan ketat, kehadiran PB XIV yang langsung berbaur dengan warga menciptakan suasana hangat, akrab, sekaligus meriah. Momen ini mempertegas kembali fungsi historis kawasan Sriwedari sebagai ruang publik tempat bertemunya kebudayaan, seni, dan masyarakat di Kota Solo.
PB XIV Awalnya Hendak Nonton Wayang Orang
Kedatangan orang nomor satu di Keraton Surakarta tersebut ke acara Kamis di Sriwedari sejatinya tidak masuk dalam agenda resmi. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh adik sepupu PB XIV Hangabehi, Braj Lung Ayu, yang mendampingi beliau di lokasi.
Menurut Braj Lung Ayu, PB XIV Hangabehi pada awalnya hanya berencana untuk menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari secara pribadi.
Namun, ketika kendaraan yang membawa rombongan melintas di area depan Gapura Sriwedari, Sinuwun melihat keramaian masyarakat yang tengah menikmati acara ruang terbuka tersebut.
“Acara ini sebenarnya dadakan. Kebetulan Sinuwun kepengin nonton wayang orang, kemudian pas lewat ternyata ada acara Kamis di Sriwedari, jadi sekalian mampir,” ungkap Braj Lung Ayu, Kamis (23/9/2026) malam.
Keputusan spontan sang Raja untuk turun dan mampir ini langsung disambut antusiasme luar biasa dari warga yang ada di sekitar lokasi.
Raja Berbaur Tanpa Sekat, Warga Antusias Berebut Foto
Kehadiran PB XIV Hangabehi malam itu menjadi gambaran nyata bagaimana nilai-nilai kebudayaan adiluhung Kraton Surakarta dapat hadir secara terbuka di tengah masyarakat modern. Tidak ada panggung khusus, tidak ada kursi VIP, dan tidak ada pidato penyambutan.
PB XIV Hangabehi berjalan santai menyapa para pengunjung, menikmati suasana malam Kota Solo, dan menyimak hiburan musik yang sedang berlangsung.
Kehadiran tanpa jarak ini dimanfaatkan oleh warga sekitar yang kaget sekaligus gembira. Banyak warga menyapa, bersalaman, hingga mengabadikan momen langka tersebut menggunakan ponsel pintar mereka.
Para pengunjung secara tertib namun antusias bergantian meminta foto bersama sang Raja. Kehangatan interaksi antara pemimpin adat dan rakyatnya ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Solo tetap hidup dan relevan di ruang-ruang publik.

Disambut Disbudpar dan Dihibur Musik Nostalgia Koes Plus
Kunjungan spontan PB XIV Hangabehi mendapat sambutan hangat dari jajaran Pemerintah Kota Surakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, hadir secara langsung mendampingi dan menyambut kedatangan Sinuwun di kawasan Sriwedari.
Suasana malam di sekitar Gapura Sriwedari semakin semarak berkat penampilan grup musik Kidung Riang. Kelompok musik ini menyuguhkan deretan lagu nostalgia dan tembang kenangan bagi warga Solo, termasuk karya-karya populer dari grup musik legendaris Indonesia, Koes Plus.
Alunan musik tembang kenangan yang dipadukan dengan ramainya aktivitas warga dan kehadiran tokoh penting Kraton Surakarta menjadikan kawasan Sriwedari malam itu terasa sangat hidup dan penuh kenangan nostalgia.
Menghidupkan Ekosistem Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif Solo
Program Kamis di Sriwedari yang digelar secara rutin setiap pekan bukan sekadar panggung hiburan biasa bagi masyarakat lokal. Lebih dari itu, acara ini dirancang sebagai salah satu strategi Pemkot Solo untuk memperkuat ekosistem pariwisata berbasis seni, budaya, dan ekonomi kreatif (ekraf).
Keberadaan acara rutin di area publik memberikan berbagai dampak positif lintas sektor, yakni:
- Ruang Ekspresi Seniman: Menjadi wadah bagi komunitas seni, musisi lokal, serta pelaku seni tradisi untuk tampil dan menyapa penikmatnya secara langsung.
- Pemberdayaan UMKM: Mendorong pergerakan roda ekonomi bagi para pedagang kuliner, pengrajin souvenir, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar area Taman Sriwedari.
- Destinasi Alternatif Wisatawan: Memberikan pilihan destinasi wisata malam yang terjangkau, edukatif, dan sarat nilai budaya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara
- Aktivasi Ruang Publik: Mengembalikan fungsi historis Taman Sriwedari sebagai pusat perjumpaan sosial dan kebudayaan masyarakat Solo.
PB XIV Beri Apresiasi Khusus untuk Pemkot Surakarta
Di sela-sela kunjungannya, PB XIV Hangabehi menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemkot Solo, khususnya Disbudpar, yang telah menginisiasi serta mempertahankan keberlanjutan program Kamis di Sriwedari.
Menurutnya, inisiatif seperti ini sangat penting untuk mendekatkan kembali generasi muda dan masyarakat luas dengan kekayaan seni budaya daerah. Budaya tidak boleh hanya dipandang sebagai sesuatu yang kaku dan formal di dalam benteng Keraton, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
PB XIV Hangabehi juga berpesan dan mengajak seluruh warga Solo untuk secara konsisten menjaga, merawat, serta melestarikan budaya adiluhung warisan leluhur agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Sriwedari: Magnet Baru Pariwisata Malam Kota Solo
Momen mengejutkan hadirnya PB XIV Hangabehi di Kamis di Sriwedari menjadi pertanda positif bagi kebangkitan kawasan bersejarah ini.
Ketika pemerintah daerah, pemangku adat yakni Kraton Surakarta, pelaku seni, serta masyarakat bergerak bersama, ruang publik seperti Sriwedari mampu bertransformasi menjadi magnet wisata yang kuat.
Melalui konsistensi penyelenggaraan acara seni budaya yang dipadukan dengan potensi ekonomi kreatif lokal, Sriwedari kini tidak lagi sekadar tempat perlintasan. Kawasan ini telah menjelma menjadi ruang pertunjukan seni, interaksi sosial, produk kreatif lokal, serta kehangatan khas Kota Solo.
Kejutan kecil dari seorang raja yang mau hadir dan berbaur malam itu membuktikan satu hal, di Kota Solo, kebudayaan selalu menemukan caranya sendiri untuk menyatukan masyarakat secara akrab dan harmonis.













