Solokini.com — Istilah Londo Ireng mendadak ramai diperbincangkan publik setelah disebut oleh Presiden Prabowo Subianto saat pidato pada peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Dalam konteks tersebut, istilah ini digunakan sebagai kiasan untuk menggambarkan pihak-pihak dalam negeri yang dinilai lebih mengabdi pada kepentingan asing dibandingkan bangsa sendiri.
Meskipun saat ini lebih sering terdengar dalam percakapan politik, istilah Londo Ireng sebenarnya memiliki akar sejarah yang nyata dan cukup panjang di Nusantara.
Sejarah Perekrutan Serdadu Afrika dalam KNIL
Mengutip buku “Mengungkap Hilangnya Jejak Londo Ireng Tentara Asal Afrika di Purworejo” karya Riska Ari Nurhastuti dan Tannisa Ardelia Fortuna, secara etimologi bahasa Jawa, Londo Ireng berarti “Belanda Hitam” (bahasa Belanda: Zwarte Hollanders).
Sebutan ini awalnya merujuk pada ribuan serdadu asal Afrika Barat (seperti Ghana/Elmina dan Burkina Faso) yang direkrut oleh militer kolonial Belanda (Koninklijk Nederlandsch–Indisch Leger / KNIL) antara tahun 1831 hingga 1872.
Melansir laman resmi Kemdikbud, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), serta kajian historis Peter Carey dalam buku “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785–1855”, pemicu utama perekrutan ini adalah pecahnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830).
Perang besar tersebut menguras kas keuangan Belanda hingga puluhan juta gulden serta menewaskan ribuan serdadu Eropa.
Sejarawan Ineke van Kessel dalam buku “Merchant, Soldier, Middleman: African Soldiers in the Netherlands East Indies Army 1831–1942” mencatat, untuk menutupi kekurangan pasukan yang kritis pasca-Perang Jawa, pemerintah kolonial mengontrak prajurit Afrika dari Fort Elmina (Pantai Emas/Ghana) dan memberikan status legal serta fasilitas militer yang setara dengan tentara asal Eropa.
Karena berseragam Belanda namun berkulit gelap, masyarakat lokal menyapa mereka dengan julukan Londo Ireng.
Pemukiman dan Pergeseran Makna
Menurut catatan pustaka sejarah sosial yang diterbitkan Kemendikbudristek terkait cagar budaya militer di Jawa Tengah, serta studi literatur M.C. Ricklefs dalam “Sejarah Indonesia Modern 1200–2008”, para tentara Afrika yang telah menyelesaikan masa kontraknya ada yang memilih menetap dan menikah dengan perempuan lokal.
Keturunan mereka sempat membentuk komunitas khas di Jawa, salah satunya di wilayah yang hingga kini dikenal sebagai “Kampung Afrikan” di Kelurahan Pangenjurutengah, Kabupaten Purworejo.
Seiring berjalannya waktu dan berakhirnya era kolonial, terjadi pemaknaan ulang terhadap istilah tersebut. Mengutip studi analisis sosiolinguistik dari jurnal-jurnal akademis sejarah Indonesia, istilah Londo Ireng bertransformasi menjadi ungkapan peyoratif atau kiasan.
Julukan ini kerap dialamatkan kepada orang pribumi berkulit gelap/cokelat yang dianggap memihak, menjadi mata-mata, atau bekerja demi keuntungan penjajah Belanda demi kepentingan perorangan.
Melalui pemahaman sejarah ini, kita dapat melihat bagaimana sebuah istilah militer abad ke-19 terus berkembang maknanya dalam perbendaharaan kata dan konteks sosial-politik di Indonesia hingga saat ini.














