Mengapa Oktober Identik dengan Halloween? Ini Sejarah & Asal-Usulnya!

Ilustrasi Halloween. (Magnific)

Solokini.com — Bulan Oktober identik dengan perayaan Halloween secara global yang jatuh pada malam tanggal 31 Oktober setiap tahun.

Setiap kali kalender memasuki bulan Oktober, atmosfer di berbagai belahan dunia berubah. Dedaunan berguguran, dekorasi bernuansa oranye dan hitam, labu-labu diukir membentuk wajah menyeramkan, hingga anak-anak dan orang dewasa bersiap mengenakan kostum unik. 

Secara teknis, Halloween hanya dirayakan pada satu malam di penghujung bulan. Namun, mengapa keseluruhan bulan Oktober terasa sangat identik dengan Halloween?

Keterikatan ini bukanlah hasil dari rekayasa pemasaran modern belaka. Melainkan akumulasi panjang dari tradisi agraris kuno, evolusi keagamaan abad pertengahan, hingga gelombang migrasi budaya yang membentuk budaya pop (pop-culture) global.

Yuk simak mengapa Oktober identik dengan Halloween.

Akar Sejarah Halloween

Menurut Profesor Nicholas Rogers dalam buku “Halloween: From Pagan Ritual to Party Night” (2002), penanggalan Halloween pada akhir Oktober berakar kuat dari festival kuno Celtic bernama Samhain (dibaca Sow-in).

Masyarakat Celt yang mendiami wilayah Britania Raya, Irlandia, dan Prancis Utara menggunakan sistem kalender berbasis musim dan astronomi.

Bagi mereka, akhir bulan Oktober, khususnya tanggal 31, merupakan batas linimasa antara dua musim utama, yakni, musim panas yang terang (light half) dan musim dingin yang gelap (dark half).

Sejarawan J.A. MacCulloch dalam karyanya “The Religion of the Ancient Celts” (1911) menjelaskan, Samhain bukan sekadar perayaan pergantian tahun agraris, melainkan sebuah masa liminal. 

Masa liminal adalah waktu di mana batas antara dunia manusia dan dunia roh dipercaya menjadi sangat tipis (thin veil).

Pada malam 31 Oktober, masyarakat Celt percaya bahwa jiwa para leluhur serta mahluk supranatural (Aes Sídhe) dapat melintasi alam semesta dan berjalan di bumi.

Untuk melindungi diri dari arwah yang jahat, mereka menyalakan api unggun besar (bonfire), menyembelih ternak untuk cadangan makanan musim dingin, dan mengenakan penyamaran berupa kulit atau kepala hewan.

Baca Juga :  Mengapa Orang Suka Maraton Nonton? Ini Analisis Psikologi & Tips Sehatnya

Praktik menyamarkan diri inilah yang menjadi cikal bakal tradisi mengenakan kostum Halloween pada akhir Oktober.

Kristenisasi Kalender dan Lahirnya Nama “Halloween”

Jack Santino, seorang profesor folklore dan studi budaya dari Bowling Green State University dalam kajiannya yang dipublikasikan oleh JSTOR Daily (2018) memaparkan kristenisasi tradisi pagan.

Menurutnya, pembentukan identitas Halloween di bulan Oktober semakin kokoh ketika Gereja Katolik mulai mengadopsi dan mengubah festival-festival pagan menjadi perayaan keagamaan resmi.

Pada abad ke-8, Paus Gregory III menetapkan tanggal 1 November sebagai All Saints’ Day (Hari Semua Orang Kudus atau All Hallows’ Day) untuk menghormati para martir dan orang suci.

Kebijakan penanggalan ini secara otomatis mengubah malam sebelum perayaan tersebut, yakni tanggal 31 Oktober, menjadi malam yang sakral yang dikenal sebagai All Hallows’ Eve.

Seiring berjalannya waktu dan pengucapan linguistik di wilayah Kepulauan Britania, istilah All Hallows’ Eve berevolusi menjadi Halloween.

Dengan menempatkan hari raya keagamaan pada tanggal 1 November, gereja tidak menghapus tradisi Samhain, melainkan menyerap simbol-simbolnya.

Akibatnya, sepanjang bulan Oktober, masyarakat Eropa abad pertengahan secara bertahap bersiap menyambut rangkaian perayaan Allhallowtide (31 Oktober hingga 2 November), yang mencakup All Hallows’ Eve, All Saints’ Day, dan All Souls’ Day.

Migrasi Budaya dan Fenomena “Jack-o’-Lantern”

Ruth Edna Kelley dalam buku sejarah Halloween pertama, “The Book of Hallowe’en” (1919) mencatat migrasi Halloween dari Eropa ke Amerika Serikat.

Ia mencatat, migrasi massal warga Irlandia dan Skotlandia ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19 akibat Bencana Kelaparan Besar (Great Famine) membawa tradisi Oktober ini menyeberangi Samudra Atlantik.

Di Amerika, tradisi ini berakulturasi dengan budaya lokal dan hasil panen musim gugur. Salah satu contoh adaptasi ikonik yang menguatkan citra bulan Oktober adalah Jack-o’-Lantern, labu kuning yang diukir membentuk wajah seram dengan lilin di dalamnya.

Di tanah asalnya (Irlandia dan Skotlandia), masyarakat mengukir lobak (turnip) atau kentang untuk menakut-nakuti roh jahat yang berkeliaran di malam Samhain.

Baca Juga :  Apakah Pasanganmu Green Flag? Simak 5 Tanda Hubungan Sehat Ini

Namun, ketika tiba di Amerika Serikat pada bulan Oktober, para imigran menemukan bahwa buah labu (pumpkin) lokal jauh lebih besar, lebih lunak, dan lebih mudah diukir.

Karena labu memasuki masa panen raya tepat pada bulan Oktober di Belahan Bumi Utara, warna oranye labu dan nuansa coklat daun gugur secara alami menjadi estetika visual utama yang mendefinisikan bulan Oktober hingga saat ini.

Komersialisasi Budaya Pop dan “SpookySeason”

Pada pertengahan abad ke-20, perayaan Halloween yang dulunya sarat akan ritual magis dan religius mulai bertransformasi menjadi kegiatan sosial masyarakat yang ramah anak dan keluarga.

Aktivitas trick-or-treat (meminta permen dari rumah ke rumah dengan kostum) mulai dipromosikan secara masif oleh produsen makanan ringan di Amerika Serikat sejak dekade 1950-an.

Industri hiburan Hollywood juga memegang peranan kunci dalam mengunci citra bulan Oktober sebagai “bulan Halloween”.

Melalui perilisan film-film horor legendaris, seperti franchise film Halloween karya John Carpenter (1978), industri media memanfaatkan bulan Oktober sebagai momen puncak untuk meluncurkan konten-konten bertema horor, supranatural, dan misteri.

Pengaruh media sosial modern semakin memperkuat konsep Spooky Season (musim seram). Di mana masyarakat di berbagai negara menganggap seluruh bulan Oktober, bukan hanya tanggal 31, sebagai waktu untuk merayakan estetika gotik, dekorasi labu, maraton film horor, dan pesta kostum.

Kesimpulan

Identitas bulan Oktober yang begitu lekat dengan Halloween merupakan hasil perpaduan unik. Antara siklus alam agraris, kepercayaan masyarakat kuno Celtic terhadap alam gaib, rekayasa penanggalan keagamaan abad pertengahan, serta komersialisasi media pop modern.

Dari festival api unggun Samhain di bukit-bukit Irlandia kuno hingga kemeriahan pesta kostum di kota-kota besar dunia saat ini. Bulan Oktober telah memancarkan pesona kultural tersendiri sebagai transisi menuju musim dingin yang penuh misteri.

Berita sebelumyaTaman Sriwedari Ditata, Wali Kota Solo Bakal Kembalikan Konsep Kebon Rojo
Berita berikutnya7 Hotel Dekat Stasiun Balapan Solo, Istirahat Nyaman Usai Perjalanan