Momen Gusti Paundra dan GKR MN IX Saat Siraman dan Langkahan Dhaup Ageng

Momen keakraban Gusti Paundra memayungi GKP Mangkoenagoro IX dalam rangkaian prosesi Langkahan dan Siraman Dhaup Ageng Gusti Sura dan KPH Adimas, Kamis (5/11/2026).
Momen keakraban Gusti Paundra memayungi GKP Mangkoenagoro IX dalam rangkaian prosesi Langkahan dan Siraman Dhaup Ageng Gusti Sura dan KPH Adimas, Kamis (5/11/2026).

SOLO, Solokini.com – Kehadiran GPH Paundrakarna  atau Gusti Paundra menjadi salah satu momen menarik dalam prosesi Langkahan dan Siraman Gusti Sura di Pura Mangkunegaran, Kamis (5/11/2026). Bersama sang kakak, GRA Putri Agung Suniwati atau Gustu Menur , dan GKBRAy Adipati Paku Alam X, Gusti Paundra turut mengikuti rangkaian prosesi menjelang Hajad Dalem Dhaup Ageng Mangkunegaran.

Momen keakraban terlihat ketika Gusti Paundra memayungi GKP Mangkoenagoro IX dalam rangkaian acara tersebut. Kehadirannya juga memiliki makna tersendiri karena Gusti Sura akan melangsungkan pernikahan mendahului sang kakak yang belum menikah.

Baca Juga :  Filosofi Nyantri Kanjeng Dimas, Anak Bos Rosalia Indah Sebelum Sunting Gusti Sura

Prosesi Langkahan berlangsung pada Kamis pagi di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran. Dalam tradisi ini, Gusti Sura menjalani sungkeman kepada Gusti Paundra untuk memohon izin dan restu sebelum melangkah menuju kehidupan rumah tangga.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan bahwa Langkahan merupakan bentuk penghormatan seorang adik kepada kakaknya. Restu tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Gusti Sura dan calon suaminya memasuki jenjang pernikahan.

Setelah Langkahan, rangkaian dilanjutkan dengan Siraman. Prosesi diawali dengan sungkeman kepada para sesepuh keluarga sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan doa dan pangestu bagi Gusti Sura. Pada hari yang sama, Kanjeng Dimas juga menjalani Siraman di kediamannya masing-masing.

Baca Juga :  Atasi Resiko Pencemaran Air, Respati Akan Perluas Program Smart Sanitasi

Rangkaian kemudian ditutup dengan prosesi Dodol Dawet. Tradisi ini melambangkan kesiapan orang tua Gusti Sura untuk melepas putrinya memasuki kehidupan baru. Seluruh prosesi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hajad Dalem Dhaup Ageng yang telah dimulai sejak 3 November 2026 melalui Sungkeman dan Sengkeran.

Berita sebelumyaInvestor Pasar Modal RI Tembus 32 Juta, BEI Gelar CMSE 2026
Berita berikutnyaKA Batara Kresna Tambah Perjalanan Solo-Wonogiri Jadi 4 Kali PP, Ini Jadwalnya