“Dum anima est, spes esse” yang berarti “selama masih ada napas (jiwa), maka harapan itu ada”.
Begitu Marcus Tullius Cicero (106–43 SM) mengingatkan kita bersama. Negarawan dan orator Romawi itu sejatinya mengadopsi gagasan Yunani ke dalam budaya Romawi. Dalam suratnya kepada Atticus, ia menuliskan kalimat: “dum anima est, spes esse” yang berarti “selama masih ada napas (jiwa), maka harapan itu ada.”
Inti dari pepatah ini pertama kali ditemukan dalam karya penyair Yunani kuno bernama Theocritus.
Ia menulis: “Selagi ada kehidupan, di sana ada harapan, dan hanya orang mati yang tidak punya.” Pemikiran inilah yang mendasari lahirnya frasa modern menjadi “Dum spiro speroa” yang kurang lebih berarti selama aku bernapas, aku berharap.
Sebagai penggemar sepakbola, saya pun punya harapan: setidaknya timnas bisa mengangkat tropi kemenangan. Namun sepanjang nonton Timnas di ajang FIFA Asean Cup 2026, harapan itu selalu nyaris hilang. Lupa akan pepatah yang dikemukakan Cicero tadi.
Pertama, saat bertemu Malaysia, Timnas bermain 10 orang sejak menit ke-37 gegara Tom Haye kena kartu merah. Saat itu optimistis tergerus. Berat bermain 10 orang. Sayapun beranggapan Malaysia maju ke final. Ternyata, Timnas bisa menahan Malaysia 0-0. Masih ada harapan.
Kedua, saat laga versus Bangladesh. Di atas kertas, inilah peluang untuk jalan ke final. Namun apa daya, Malaysia justru menggulung Singapura 6-0. Kecil harapan Timnas untuk melaju ke final tatkala posisi skor masih 7-2. Harapan menipis, tapi waktu belum habis. Dalam hitungan satu menit, Timnas bisa bikin dua gol menjadi 9-2 dan melaju ke final.
Di balik angka 9-2 itu, ada peran sang pengganti yang menjadi pembeda. Dialah Egy Maulana Vikri. Masuk pada menit ke-73 menggantikan Ragnar Oratmangoen, Egy memberikan long through pass yang sangat akurat. Di sinilah penglihatan (vision) dan keputusan cepat Egy mengirim bola jauh ke sisi kiri pertahanan lawan berhasil dikejar Ole Romeny dan kemudian digocek sejenak untuk melepas umpan ke Mitchel Baker. Jadilah Timnas ke final.
Ketiga, saat laga final melawan Thailand semalam, harapan pun nyaris sirna. Walau Thailand main 10 orang saat menit terakhir, toh belum jaminan juara. Terbukti setelah Indonesia bikin gol via James, selang beberapa menit Thailand menyamakan kedudukan. Perpanjangan waktu saat posisi 1-1. Bahkan Thailand justru sempat unggul 2-1.
Dalam kondisi putus harapan ini, lagi-lagi ada peran Egy. Ia masuk di menit ke-101 babak perpanjangan waktu. Gol penyama kedudukan 2-2 diciptakan Elkan Baggott pada menit ke-116. Sekali lagi, di sini ada peran Egy. Ia kasih terobosan ke Ridho, ditendang ke gawang dan ditepis kiper. Bola rebound dituntaskan Baggott.
Dari sinilah tampak Egy Maulana Vikri terbukti menjadi pemain pembeda (game changer) bagi Timnas Indonesia. Meskipun sering bermain dengan menit yang terbatas di bawah asuhan pelatih John Herdman, kontribusi dan visi bermain Egy terbukti sangat efektif untuk mengubah jalannya pertandingan.
Egy memang bagian dari sebuah tim. Namun kontribusinya patut diapresiasi. Setidaknya, Egy membuat tim lebih kreatif saat buntu mencetak gol. Dan tatkala gol tercipta, semua bersorak gembira, timnas pun juara. Hiburan bagi rakyat yang sedang berjuang keras menghidupi diri. (*)
Toto TIS Suparto, wartawan senior
.
Egy memang bagian dari sebuah tim. Namun kontribusinya patut diapresiasi. Setidaknya, Egy membuat tim lebih kreatif saat buntu mencetak gol. Dan tatkala gol tercipta, semua bersorak gembira, timnas pun juara. Hiburan bagi rakyat yang sedang berjuang keras menghidupi diri. (*)
Toto TIS Suparto, wartawan senior












