Revolusi Batik Solo: Ubah Kain Tradisi Jadi Lifestyle Modern

Gelaran Royal High Tea & Talkshow bertajuk “Batik Naik Kelas” untuk menyambut Hari Batik Nasional di Lobby The Sunan Hotel Solo, Kamis (1/10/2026). (Dok)

SOLO, Solokini.com — Kain batik sering kali diperlakukan bak barang museum, diagungkan, disimpan rapi di lemari, dan hanya dikeluarkan saat menghadiri resepsi pernikahan atau acara resmi kenegaraan.

Namun, sebuah gerakan di Kota Surakarta (Solo) mencoba mendobrak stigma tersebut.

Batik tidak lagi sekadar busana ritual atau kain tua warisan leluhur. Melainkan telah bertransformasi menjadi statement fashion, bagian dari gaya hidup urban, sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif generasi muda.

Semangat transformasi ini mengemuka dalam gelaran Royal High Tea & Talkshow bertajuk “Batik Naik Kelas” yang diselenggarakan di Lobby The Sunan Hotel Solo, Kamis (1/10/2026).

Untuk menyambut Hari Batik Nasional, acara ini mengusung tema besar “Merawat Warisan, Menguatkan UMKM, Menembus Pasar Masa Depan”. Acara dibuka secara resmi oleh General Manager The Sunan Hotel Solo, RM Azmi.

Melalui pendekatan yang elegan dan modern, The Sunan Hotel Solo membuktikan bahwa diplomasi budaya dan penguatan UMKM bisa dikemas secara inklusif tanpa kehilangan esensi nilai tradisinya.

Mencanting Bersama yang dipimpin oleh Vanessa Respati Ardi dalam gelaran Royal High Tea & Talkshow bertajuk “Batik Naik Kelas” di Lobby The Sunan Hotel Solo, Kamis (1/10/2026). (Dok)

Strategi Kolaboratif: Menghubungkan Tradisi, Pembiayaan, dan Gen Z

Uniknya, ruang diskusi tidak hanya menyoroti batik dari sudut pandang estetika fashion semata, tetapi membedahnya secara lintas sektor.

Talkshow yang dipandu oleh Retno Wulandari, Strategic Advisor & Brand Director PT Graha Mulya Wirastama (owning company The Sunan Hotel Solo) ini menghadirkan empat sudut pandang strategis dari narasumber yang berbeda, meliputi:

  1. Perspektif Pemberdayaan Komunitas: Ketua TP PKK Kota Surakarta, Vanessa Respati Ardi, menekankan pentingnya peran keluarga dan komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan regenerasi pengrajin batik.
  2. Akses Permodalan & Digitalisasi: Branch Manager BTN KC Solo, Anita Septi Purwarini, memaparkan bagaimana akses pembiayaan yang tepat dan digitalisasi transaksi dapat mendorong pengrajin batik skala UMKM untuk bangkit dan menembus pasar global.
  3. Inovasi & Industrialisasi Produk: Owner Batik Gunawan Setiawan, Gunawan Setiawan, berbagi wawasan tentang menjaga kualitas canting tangan di tengah gempuran tren fast fashion, serta pentingnya adaptasi motif yang relevan dengan selera pasar modern.
  4. Resonansi Anak Muda: Putri Solo Persahabatan 2026, Husna Novia, menyuarakan bagaimana generasi muda dapat bangga mengenakan batik dalam keseharian mereka melalui pemaduan gaya (mix and match) yang kasual dan modern.
Baca Juga :  Rayakan Hari Batik Nasional, Ini Cara Unik Grand Mercure Solo Baru Rawat Tradisi

Kemeriahan acara tidak berhenti pada ruang diskusi semata.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan aksi simbolis Mencanting Bersama yang dipimpin oleh Vanessa Respati Ardi. Momen ini menjadi lambang nyata kolaborasi lintas generasi dan sektor untuk menjaga keberlanjutan garis-garis tradisi.

Tak kalah memukau, hadir pula sesi Batik Moment berupa peragaan busana koleksi Batik Saseti. Peragaan ini sukses membuktikan bahwa ketika dipadukan dengan desain yang tepat, batik mampu tampil sangat fleksibel, elegan, dan relevan sebagai lifestyle outfit.

Acara kemudian ditutup dengan Royal High Tea, jamuan khas The Sunan Hotel Solo yang mencairkan suasana sekaligus menjadi ruang networking strategis antara pelaku UMKM, komunitas kreatif, perbankan, dan pemerintah.

Memahami Hari Batik: Sejarah Singkat dan Pengakuan Dunia

Langkah The Sunan Hotel Solo mendorong batik “naik kelas” selaras dengan nilai historis peringatan Hari Batik Nasional. Peringatan ini bukan sekadar perayaan tahunan tanpa makna, melainkan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Fashion show dalam Gelaran Royal High Tea & Talkshow bertajuk “Batik Naik Kelas” untuk menyambut Hari Batik Nasional di Lobby The Sunan Hotel Solo, Kamis (1/10/2026). (Dok)

Sejarah Singkat Batik Indonesia

Secara etimologi, kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, yaitu “amba” yang berarti menulis, dan “titik” yang berarti titik.

Teknik pewarnaan rintang menggunakan malam (lilin) ini telah berkembang pesat di Pulau Jawa sejak zaman Kerajaan Majapahit, lalu terpelihara erat di lingkungan keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Pada mulanya, motif batik sarat akan simbolisme filosofis dan hierarki sosial. Motif-motif tertentu seperti Parang Rusak atau Kawung dahulu hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan dan raja.

Baca Juga :  Wisuda Ke-59 UNIBA Surakarta, Lantik 204 Lulusan Termasuk Pejabat dan Tokoh Publik Jateng

Namun seiring berjalannya waktu, teknik dan penggunaan batik menyebar luas ke masyarakat umum, berakulturasi dengan berbagai budaya luar (seperti Tionghoa, Arab, dan Eropa). Hingga melahirkan aneka ragam batik pesisir dan batik modern seperti yang kita kenal sekarang.

Kapan Batik Diakui Sebagai Warisan Budaya Dunia?

Tonggak sejarah terpenting batik di mata dunia terjadi pada tanggal 2 Oktober 2009.

Pada hari bersejarah tersebut, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi menetapkan Batik Indonesia ke dalam daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Mirip Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam sidang Intergovernmental Committee yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

UNESCO menilai bahwa teknik, simbolisme, dan kebudayaan yang melekat pada batik Indonesia telah menyatu erat dengan identitas masyarakat Indonesia sejak lahir hingga meninggal dunia.

Keputusan penetapan pada tanggal 2 Oktober inilah yang kemudian diabadikan oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 33 Tahun 2009 sebagai Hari Batik Nasional.

Menjaga Warisan dengan Menciptakan Nilai Baru

Inisiatif The Sunan Hotel Solo melalui kegiatan Royal High Tea & Talkshow ini menjadi bukti bahwa menjaga warisan budaya tidak cukup hanya dengan membanggakan masa lalu. Pelestarian sejati butuh langkah nyata untuk menghidupkan, mengembangkan, dan menciptakan nilai-nilai ekonomi serta sosial yang baru.

Ketika batik berhasil diintegrasikan ke dalam industri pariwisata, perhotelan, perbankan, dan gaya hidup anak muda, maka kain warisan leluhur ini tidak akan pernah usang ditelan zaman. Dari Solo untuk dunia, batik telah berhasil membuktikan posisinya: bukan lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian penting dari masa depan.

Berita sebelumya7 Cafe Baru di Solo yang Bisa Jadi Tempat Nongkrong Kekinian
Berita berikutnyaRayakan Hari Batik Nasional, Ini Cara Unik Grand Mercure Solo Baru Rawat Tradisi