5 Patung Ikonik Kota Solo, Sejarah, Filosofi dan Lokasinya

Patung Slamet Riyadi, salah satu patung ikonik Kota Solo.

SOLO, Solokini.com — Kota Surakarta (Solo) menyimpan nilai sejarah perjuangan bangsa yang terekam jelas melalui monumen dan patung yang berdiri di berbagai penjuru kota.

Setiap patung tidak hanya berfungsi sebagai penanda ruang publik atau estetika kota, melainkan sebagai media edukasi sejarah yang mencerminkan peristiwa penting kemerdekaan, simbol pergerakan nasional, serta penghormatan terhadap tokoh pahlawan.

Berdasarkan arsip sejarah pemerintah daerah, Kemendikbud Ristek (Cagar Budaya), dan publikasi kebudayaan resmi, berikut adalah pembahasan mengenai monumen dan patung ikonik Kota Solo beserta sejarah dan nilai filosofinya.

 

1. Monumen Patung Brigjen Slamet Riyadi

  • Nama / Judul Resmi: Monumen Patung Brigjen Slamet Riyadi
  • Lokasi: Bundaran Gladag, Jalan Slamet Riyadi, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta
  • Tahun Pembangunan & Peresmian: Pembangunan dimulai tahun 2006 dan diresmikan pada 12 November 2007

Sejarah dan Makna Filosofi

Monumen Patung Brigjen Slamet Riyadi berdiri kokoh di titik nol kilometer atau kawasan bundaran Gladag, pintu masuk utama menuju Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Mengutip Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta serta Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Surakarta, patung ini dibangun untuk mengenang jasa pahlawan nasional asal Solo, Brigadir Jenderal (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi adalah pahlawan yang memimpin pertempuran gerilya Serangan Umum Surakarta pada 7–10 Agustus 1949 melawan pasukan Belanda. Monumen ini memiliki tinggi patung 7 meter yang terbuat dari perunggu dan ditopang oleh landasan (pedestal) setinggi 4 meter.

Patung ini menggambarkan sosok Slamet Riyadi dalam seragam militer lengkap, memegang pistol di tangan kanan, dan menunjuk ke arah utara. Sikap tersebut melambangkan semangat komando, keberanian, serta ketegasan seorang pemuda yang gugur di usia sangat muda (23 tahun) saat menjalankan tugas negara di Ambon pada 1950.

2. Tugu Lilin Penumping (Tugu Kebangkitan Nasional)

  • Nama / Judul Resmi: Toegoe Peringatan Pergerakan Kebangsaan 1908–1933 (Tugu Kebangkitan Nasional / Tugu Lilin Penumping)
  • Lokasi: Jalan Kebangkitan Nasional / Jalan dr. Wahidin No. 1, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan, Surakarta
  • Tahun Pembangunan & Peresmian: Gagasan disepakati Mei 1933, peletakan batu pertama pada awal Desember 1933, dan selesai dibangun pada 1933–1934

Sejarah dan Catatan Validasi

Masyarakat perlu membedakan antara dua Tugu Lilin yang pernah ada di Solo, yaitu:

  1. Tugu Lilin Pajang: Merupakan tugu pembatas wilayah di persimpangan tiga Pajang yang roboh akibat tertabrak kendaraan pada September 2023 dan tidak dibangun kembali di lokasi pertigaan.
  2. Tugu Lilin Penumping: Merupakan bangunan cagar budaya utama yang asli dan bersejarah, yang hingga saat ini masih berdiri kokoh dan terawat di Kelurahan Penumping.
Baca Juga :  Apa Itu Green Jobs? Pengertian, Contoh Profesi, dan Peluang Karier

Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Solo dan Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Tugu Lilin Penumping diprakarsai oleh Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Saat Kongres di Surakarta pada Mei 1933, Tugu Lilin didirikan untuk memperingati 25 tahun lahirnya organisasi Boedi Oetomo (1908–1933).

Arsitektur tugu digarap oleh Ir. Soetedjo dengan bentuk menyerupai batang lilin yang menyala di bagian puncaknya sebagai simbol penerang jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

Saat prosesi peletakan batu pertama awal Desember 1933, dilakukan penanaman gumpalan tanah dan air yang diambil dari berbagai penjuru Nusantara di bawah pondasi tugu sebagai cikal bakal simbol persatuan Indonesia.

3. Monumen 45 Banjarsari

  • Nama / Judul Resmi: Monumen Perjuangan ’45 Banjarsari
  • Lokasi: Taman Monumen 45 Banjarsari, Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta
  • Tahun Pembangunan & Peresmian: Peletakan batu pertama 31 Oktober 1973 dan diresmikan pada 10 November 1976 oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam

Sejarah dan Nilai Filosofis

Monumen Perjuangan ’45 Banjarsari terletak di tengah area terbuka hijau Taman Banjarsari. Bangunan berupa tugu beton setinggi 17 meter ini dikelilingi oleh relief dan patung-patung perunggu.

Melansir Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, monumen tersebut melukiskan kisah perjuangan rakyat Surakarta mempertahankan kemerdekaan, terutama peristiwa Serangan Umum Surakarta 1949.

Berdasarkan Portal Informasi Wisata Provinsi Jawa Tengah, sisi utama monumen menampilkan tiga figur patung yang mewakili unsur penegak kemerdekaan:

  1. Prajurit TNI (mewakili pertahanan militer)
  2. Laskar Rakyat / Pejuang (mewakili partisipasi rakyat)
  3. Wanita / Palang Merah (mewakili logistik, medis, dan kemanusiaan)

Angka-angka fisik monumen dirancang sarat simbol kemerdekaan: tinggi tugu 17 meter (tanggal kemerdekaan), relief terdiri dari 8 panel (bulan Agustus), dan bentuk pondasi bersisi 45 (tahun 1945).

4. Patung Soekarno Membaca

  • Nama / Judul Resmi: Monumen Patung Ir. Soekarno (Plaza Manahan)
  • Lokasi: Jalan Adi Sucipto, Kompleks Plaza Stadion Manahan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta
  • Tahun Pembangunan & Peresmian: Diresmikan pada 28 Oktober 2016 (pukul 00.00 WIB tepat Hari Sumpah Pemuda) oleh Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo

Sejarah dan Nilai Filosofis

Berbeda dari patung Presiden Pertama RI Ir. Soekarno di daerah lain yang umumnya menampilkan gestur berdiri menunjuk atau berpidato, Patung Soekarno di Plaza Manahan menampilkan figur Bung Karno dalam posisi duduk bersila sambil membaca buku.

Baca Juga :  Hari Perlindungan Pembela HAM Nasional: Pentingnya Ruang Aman Kemanusiaan

Berdasarkan publikasi resmi Pemkot Solo, patung perunggu setinggi 3 meter ini dirancang oleh pematung asal Yogyakarta, Agus Widodo.

Pose membaca dipilih berdasarkan konsep filosofis untuk menginspirasi generasi muda mengenai pentingnya literasi, membaca, dan penguasaan ilmu pengetahuan sebagai syarat utama kemajuan suatu bangsa.

Penempatan patung di kawasan pusat olahraga Stadion Manahan menjadikannya salah satu penanda ruang publik favorit masyarakat Solo.

5. Patung Obor Manahan

  • Nama / Judul Resmi: Patung Obor Olahraga Manahan
  • Lokasi: Sisi Utara Kompleks Stadion Manahan, Jalan Adi Sucipto, Surakarta
  • Tahun Pembangunan & Peresmian: Pembangunan awal sekitar tahun 1990-an (dilakukan relokasi penataan ulang kawasan pada Desember 2022)

Sejarah dan Nilai Filosofis

Arsip Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Surakarta menyebutkan bahwa Patung Obor dirancang sebagai simbol kebangkitan olahraga dan gelora semangat generasi muda di Kota Surakarta.

Kota Solo memiliki sejarah panjang dalam olahraga nasional, salah satunya sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama pada tahun 1948 di Stadion Sriwedari.

Visual patung ini menampilkan kobaran api obor yang menjulang tinggi di atas pedestal beton bertingkat.

Mengutip Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan Surakarta, patung ini sebelumnya berdiri di bundaran jalan depan Stadion Manahan.

Namun pada akhir tahun 2022, Pemkot Solo memindahkan posisinya ke dalam area utara Kompleks Stadion Manahan agar nilai estetikanya tetap terlihat jelas dan terintegrasi dengan fasilitas olahraga pascapembangunan Overpass Manahan.

Ringkasan Monumen dan Patung Ikonik Solo

Nama Monumen / Patung Lokasi Tahun Peresmian Pengelola / Sumber Data Resmi
Monumen Patung Brigjen Slamet Riyadi Bundaran Gladag, Jl. Slamet Riyadi 2007 BPPD Surakarta & Pemkot Surakarta
Tugu Lilin Penumping (Kebangkitan Nasional) Jl. Kebangkitan Nasional, Penumping 1933 BPCBs / Kemendikbud Ristek / Pemkot Surakarta
Monumen 45 Banjarsari Taman Banjarsari 1976 Pemkot Surakarta & Pemprov Jateng
Patung Soekarno Membaca Plaza Stadion Manahan 2016 Pemkot Surakarta
Patung Obor Manahan Kompleks Stadion Manahan 1990-an (Relokasi 2022) Dispora Kota Surakarta

 

Keberadaan patung dan monumen bersejarah ini membuktikan bahwa Kota Solo bukan hanya pusat seni dan kebudayaan keraton, melainkan kota pejuang yang merekam setiap fase penting perjalanan bangsa Indonesia.

Mulai dari pergerakan nasional awal abad ke-20, perang mempertahankan kemerdekaan, hingga pembangunan karakter literasi dan olahraga modern.

Berita sebelumyaRekomendasi 5 Toko Seragam Sekolah Rating Tinggi dan Lengkap di Solo
Berita berikutnya7 Hotel Dekat Bunderan Pasar Nongko Solo, Nyaman buat Semua Budget