SOLO, Solokini.com – Gelaran seni pertunjukan berskala internasional, Solo International Performing Arts (SIPA) 2026 akan kembali hadir, mengukuhkan Kota Surakarta (Solo) sebagai episentrum seni dan budaya dunia. Memasuki usia ke-18 tahun, SIPA terus menunjukkan konsistensi dalam merajut keberagaman budaya global melalui seni pertunjukan yang inklusif, inovatif, dan sarat akan nilai-nilai edukasi.
SIPA 2026 mengusung tema besar “Kinetic Kinship: Beyond Boundaries”. Tema ini merefleksikan keterhubungan antarmanusia dan budaya yang bergerak secara dinamis melampaui sekat-sekat geografis, tradisi, maupun batasan ekspresi artistik. Festival ini menjadi wadah ruang perjumpaan serta kolaborasi kreatif antara seniman lokal, nasional, hingga mancanegara.
Memperkuat Identitas Solo sebagai Kota Budaya Dunia
Direktur SIPA, Ayu Irawati Kusumorasri, menegaskan komitmen panjang festival ini dalam menguatkan ekosistem seni pertunjukan di Jawa Tengah, khususnya Kota Surakarta.
“Tepat pada tahun ke-18 perhelatan SIPA Festival ini hadir, kami berkomitmen penuh untuk menjadi festival budaya yang memperkuat status Kota Solo sebagai Kota Budaya. Tahun ini kami bekerja sama secara erat dengan Pura Mangkunegaran serta Pemerintah Kota Surakarta,” ujarnya dalam jumpa pers di Balai Kota Solo, Rabu (9/9/2026).
SIPA tak hanya menjadi panggung hiburan bagi penikmat seni, melainkan juga instrumen diplomasi budaya (cultural diplomacy) yang efektif. Melalui keterlibatan berbagai delegasi asing, festival ini menciptakan ruang dialog antarbudaya yang saling menghargai keunikan tradisi serta eksplorasi kontemporer masing-masing negara peserta.
SIPA 2026 turut dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk perwakilan delegasi luar negeri seperti Nomadart dari Korea Selatan, Seed Dance Company dari Taiwan, serta dukungan resmi dari Kedutaan Besar New Zealand yang hadir mendampingi para senimannya.
Partisipasi Lintas Negara dan Nusantara di SIPA 2026
Kekuatan utama perhelatan SIPA 2026 terletak pada ragam pengisi acara yang dihadirkan. Tahun ini, panggung megah SIPA diramaikan oleh delegasi dari 5 negara sahabat serta 9 daerah di Indonesia. Para seniman menyajikan berbagai disiplin seni pertunjukan, mulai dari seni tari kontemporer, musik etnik, hingga teater eksperimental.
Jadwal dan Lokasi Rangkaian Acara SIPA 2026
Untuk memastikan kenyamanan pengunjung dan alur acara yang terstruktur, panitia telah menyusun rangkaian agenda utama sebagai berikut:
- Welcome Dinner Delegasi (Rabu, 9 September 2026), acara penyambutan bagi seluruh seniman dalam dan luar negeri.
- Pertunjukan Utama / Main Show (Kamis–Sabtu, 10–12 September 2026) digelar secara terbuka di Pamedan Pura Mangkunegaran, Surakarta.
- SIPA Mart (Sabtu, 12 September 2026) di Sekretariat Bersama Kota Solo, menjadi ruang jejaring (networking) bisnis seni pertunjukan.
Line-up SIPA: dari Eksplorasi Tradisi hingga Kritik Sosial
Selama tiga hari berturut-turut, penonton akan dimanjakan dengan sajian mahakarya seni yang penuh dengan makna estetis dan refleksi sosial.
| Hari & Tanggal | Pengisi Acara / Delegasi Penampil |
| Hari Pertama
(10 September 2026) |
|
| Hari Kedua
(11 September 2026) |
|
| Hari Ketiga
(12 September 2026) |
|
Sorotan Delegasi Internasional: Kolaborasi Korea Selatan dan Taiwan
Dua delegasi mancanegara yang mencuri perhatian dalam jumpa pers adalah Nomadart dari Korea Selatan dan Seed Dance Company dari Taiwan. Kedua kelompok seni ini membawakan karya berkonsep matang yang menggabungkan tradisi, seni kontemporer, serta respons terhadap fenomena sosial terkini.
1. Nomadart (Korea Selatan): Memadukan Tari Kontemporer dan Seni Modern
Koreografer dari Nomadart, Choi Jae Hyuk, mengungkapkan rasa bangganya dapat berpartisipasi pertama kali di panggung SIPA Festival.
“Kami akan menghadirkan tarian yang menggabungkan tari kontemporer dan modern art dari Korea. Ini adalah pengalaman pertama kami tampil di Indonesia. Terima kasih kepada Ibu Ira selaku Direktur SIPA yang telah mengundang kami. Kami sangat berharap bisa kembali lagi ke Indonesia di masa mendatang,” ungkap Choi Jae Hyuk.
2. Seed Dance Company (Taiwan): Refleksi Keterasingan di Era Digital
Sementara itu, We-Jen, direktur sekaligus koreografer Seed Dance Company asal Taiwan, memaparkan karya bertajuk “Loss Connection”. Karya tarian ini mengangkat topik relevan mengenai dampak penggunaan gawai/smartphone terhadap fisik dan interaksi sosial manusia.
“Karya ‘Loss Connection’ ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali kehidupan di era yang sangat penuh dengan teknologi. Kami ingin menyampaikan bagaimana ketergantungan pada gawai mempengaruhi pergerakan tubuh dan keterhubungan antarmanusia,” jelas We-Jen.
Aksesibilitas Menonton: Gratis Secara Lintas Platform
Sebagai festival rakyat yang inklusif, panitia SIPA 2026 memastikan bahwa karya-karya seni berkelas dunia ini dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Warga Kota Solo dan sekitarnya dapat menyaksikan pertunjukan secara langsung tanpa dipungut biaya (gratis) di Pamedan Pura Mangkunegaran.
Bagi penikmat seni dari luar kota maupun mancanegara yang tidak dapat hadir secara fisik, panitia menyediakan fasilitas live streaming secara penuh melalui kanal resmi YouTube SIPA Festival.
Dengan hadirnya SIPA 2026, Kota Surakarta kembali membuktikan bahwa batas-batas negara bukan lagi penghalang untuk saling terhubung melalui keindahan seni dan budaya. Jangan lewatkan kemeriahan pesta seni pertunjukan internasional ini pada 10–12 September 2026 di Pamedan Pura Mangkunegaran!













