JOMO: Rahasia Hidup Tenang Bebas FOMO dan Stres Digital

Ilustrasi hidup tenang dengan menerapkan JOMO, bebas dari FOMO dan stres digital. (Magnific/pvpproductions)

SOLO, Solokini.com — Fenomena Joy of Missing Out (JOMO) hadir sebagai penawar alami di tengah tingginya tren FOMO (Fear of Missing Out) dan stres digital masyarakat modern.

Tren psikologis ini mengajak seseorang untuk merasa puas dan bahagia dengan pilihan hidupnya saat ini, tanpa merasa khawatir tertinggal dari tren, acara, atau aktivitas orang lain di media sosial.

Apa Itu JOMO dan Mengapa Penting?

JOMO adalah kondisi psikologis ketika seseorang secara sadar memilih untuk fokus pada momen saat ini (present moment) dan melepaskan tekanan sosial untuk selalu terhubung secara digital.

Istilah JOMO pertama kali dipopulerkan oleh seorang pengusaha teknologi dan blogger asal Amerika Serikat, Anil Dash (2012), melalui esai pribadinya yang menekankan nikmatnya melepas keterikatan dari aktivitas digital.

Istilah ini kemudian dikembangkan secara mendalam oleh Christina Crook dalam bukunya The Joy of Missing Out: Finding Balance in a Wired World (2014), yang membahas bagaimana manusia bisa merebut kembali ruang hidupnya dari dominasi teknologi.

Selain itu, Tanya Dalton memperkuat gagasan ini dalam bukunya The Joy of Missing Out: Live More by Doing Less (2019), yang menekankan pentingnya menyederhanakan prioritas hidup untuk mencapai kesejahteraan.

Secara fundamental, JOMO merupakan lawan dari FOMO.

Berdasarkan penelitian akademis dari Andrew K. Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell (2013) yang diterbitkan dalam jurnal internasional Computers in Human Behavior, definisi FOMO adalah kecemasan bahwa orang lain mungkin mendapatkan pengalaman berharga saat seseorang tidak hadir.

Sebaliknya, JOMO mengubah persepsi tersebut: ketidakhadiran dalam suatu acara atau diskoneksi dari media sosial tidak lagi dipandang sebagai kerugian, melainkan sebagai kesempatan untuk memulihkan energi emosional.

Organisasi kesehatan mental resmi asal Inggris, Mind menyatakan, kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan terkurasi di media sosial dapat memicu gangguan kecemasan (anxiety) dan penurunan rasa percaya diri

 Dengan menerapkan JOMO, seseorang mengambil kembali kendali atas perhatian, waktu, dan energi mental mereka dari distraksi digital yang konstan.

Dampak Ne FOMO dan Dorongan Lahirnya JOMO

Kehidupan di era hiperkonektivitas menciptakan beban psikologis yang signifikan.

Lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO) menyoroti, penggunaan media sosial yang berlebihan dan tanpa batas jelas berkontribusi pada peningkatan angka kesepian (loneliness) serta gangguan kesehatan mental pada populasi global.

Baca Juga :  Mengenal Tradisi Sekaten Solo: Sejarah, Prosesi, dan Makna

Terdapat beberapa faktor utama yang melatarbelakangi mengapa transisi dari FOMO menuju JOMO menjadi sangat krusial saat ini, di antaranya:

  • Kelelahan Mental (Digital Burnout): Paparan notifikasi tanpa henti memicu otak untuk selalu dalam kondisi siaga (hyper-arousal).
  • Perbandingan Sosial yang Tidak Sehat: Peneliti Melissa G. Hunt, Marx, Lipson, dan Young dari University of Pennsylvania dalam studinya yang terbit di Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menemukan, membatasi penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari menghasilkan penurunan tingkat depresi dan kesepian yang sangat signifikan secara klinis.
  • Penurunan Kualitas Tidur: Penelitian dari Lissak yang dipublikasikan dalam jurnal akademis Environmental Research serta studi dalam Journal of Clinical Sleep Medicine (2018) menunjukkan, paparan cahaya biru (blue light) dan arus informasi menjelang tidur mengganggu produksi hormon melatonin, sehingga merusak siklus tidur alami.

Melalui pendekatan JOMO, individu diajak untuk memutus rantai ketergantungan ini dan membangun kembali hubungan yang sehat dengan teknologi.

Manfaat JOMO secara Psikologis dan Fisik

Menerapkan JOMO bukan berarti mengisolasi diri dari lingkungan sosial atau membenci teknologi. Sebaliknya, ini adalah bentuk penggunaan teknologi secara sadar (mindful technology use) yang memberikan dampak positif luas bagi kesehatan fisik dan mental.

Berikut ini manfaat JOMO secara psikologis dan fisik:

  1. Peningkatan Kesejahteraan Emosional (Well-Being): Dalam tinjauan psikologi yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA) serta platform ilmiah Psychology Today, mempraktikkan JOMO terbukti membantu menekan produksi hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh, yang berdampak pada ketenangan pikiran.
  2. Kualitas Hubungan Sosial yang Lebih Dalam: Ketika tidak terdistraksi oleh ponsel, seseorang dapat memberikan perhatian penuh (active listening) kepada keluarga, pasangan, atau teman saat berinteraksi langsung.
  3. Peningkatan Produktivitas dan Kreativitas: Dalam buku Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World (2016), Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer di Georgetown University menjelaskan, fokus tanpa gangguan adalah kunci utama untuk menghasilkan karya yang bernilai tinggi dan berpikir secara mendalam.
  4. Kesehatan Fisik yang Lebih Baik: Pengurangan durasi menatap layar (screen time) secara langsung berdampak pada berkurangnya ketegangan mata, perbaikan postur tubuh, dan kualitas tidur yang lebih lelap.
Baca Juga :  Apa Itu Podcast? Pengertian, Tren dan Generasi Baru Industri Media

Langkah Praktis Menerapkan JOMO dalam Kehidupan Sehari-hari

Memulai JOMO memerlukan komitmen bertahap. Para ahli perilaku dari American Psychological Association (APA) dan peneliti dalam jurnal Journal of Consumer Affairs (Chan dkk., 2022) menyarankan beberapa strategi praktis berikut untuk membangun kebiasaan baru ini, antara lain:

1. Lakukan Digital Detox Secara Berkala

Mulailah dari langkah kecil, seperti mematikan notifikasi aplikasi yang tidak krusial. Kamu juga dapat menetapkan area bebas ponsel (phone-free zones) di rumah, misalnya di kamar tidur atau meja makan.

2. Berlatih Mindfulness dan Kehadiran Utuh

Situs riset medis resmi Mayo Clinic merekomendasikan latihan pernapasan atau meditasi harian untuk melatih otak tetap fokus pada momen sekarang. Saat sedang menikmati makan siang atau berjalan kaki, usahakan untuk menikmati sensasi tersebut tanpa dorongan untuk mengambil foto atau membuat dokumentasi sosial.

3. Tetapkan Batasan Diri (Boundaries) yang Jelas

Belajarlah untuk berkata “tidak” pada undangan acara atau permintaan yang tidak sesuai dengan prioritas atau kapasitas energi kamu. Menolak sesuatu bukan berarti kamu bersikap egois, melainkan bentuk penghormatan terhadap kapasitas mental diri sendiri.

4. Evaluasi Penggunaan Media Sosial

Jernihkan feed media sosial kamu secara berkala. Berhentilah mengikuti (unfollow atau mute) akun-akun yang memicu rasa tidak aman, cemburu, atau kecemasan. Sebaliknya, ikuti akun yang memberikan inspirasi positif dan edukasi.

5. Alokasikan Waktu untuk Hobi Tanpa Layar

Sediakan waktu khusus untuk melakukan aktivitas manual atau luar ruangan, seperti membaca buku fisik, berkebun, melukis, berolahraga, atau memasak. Aktivitas analitik dan motorik ini terbukti secara medis mampu menurunkan tingkat stres secara alami.

Merangkul JOMO sebagai Gaya Hidup Modern

Menjalani Joy of Missing Out adalah sebuah proses yang membutuhkan kesadaran berkelanjutan. Di dunia yang terus menuntut kita untuk selalu cepat, responsif, dan terlihat aktif, memilih untuk melambat adalah sebuah bentuk keberanian dan kepedulian terhadap diri sendiri.

Dengan merangkul JOMO, kamu tidak benar-benar kehilangan apa pun. Sebaliknya, kamu mendapatkan kembali hal yang paling berharga: waktu, ketenangan pikiran, dan kebahagiaan sejati yang bersumber dari dalam diri sendiri.

Berita sebelumya7 Tempat Makan Cabuk Rambak Solo yang Masih Bertahan