
SOLO, Solokini.com — Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak pernah lepas dari gema merdu pertunjukan perangkat gamelan pusaka. Sebagai perayaan tahunan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, festival budaya dan spiritual ini menyedot perhatian ribuan warga lokal hingga wisatawan mancanegara.
Di balik kemeriahan tersebut, gamelan sekaten memegang peran sentral sebagai media syiar agama Islam, manifestasi filosofi sejarah Jawa, serta warisan seni pertunjukan karawitan yang sarat nilai spiritual.
Akar Sejarah dan Strategi Dakwah Kultural Wali Songo
Sejarah penggunaan gamelan sekaten bermula pada era Kesultanan Demak sekitar abad ke-16. Para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, mengadaptasi kesenian lokal yang digemari masyarakat Jawa saat itu sebagai sarana dakwah kultural yang harmonis tanpa konfrontasi.
Joko Daryanto melalui “Gamelan Sekaten dan Penyebaran Islam di Jawa” dalam Jurnal IKADBUDI (Vol. 4, No. 10, tahun 2015) menjelaskan, istilah Sekaten berakar dari kata bahasa Arab Syahadatain, yang merujuk pada dua kalimat syahadat sebagai kesaksian iman Islam.
Pada masa tersebut, penggunaan alunan instrumen gamelan berlaras pelog bernada nyaring di pelataran masjid bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat. Ketika masyarakat berkumpul untuk mendengarkan alunan gamelan, para ulama menuntun mereka secara perlahan masuk Islam melalui pembacaan dua kalimat syahadat.
Perjalanan tradisi ini terus dipertahankan secara turun-temurun dari era Demak, Kesultanan Pajang, Mataram Islam, hingga akhirnya kerajaan terbagi melalui Perjanjian Giyanti (1755). Sampai sekarang Keraton Kasunanan Surakarta (Kraton Surakarta) dan Kasultanan Yogyakarta terus melestarikan tradisi gamelan Sekaten.
Mengenal Dua Perangkat Gamelan Pusaka Keraton Surakarta
Kraton Surakarta memiliki dua set gamelan pusaka khusus yang termasuk dalam kategori gangsa pakurmatan (gamelan penghormatan). Kedua perangkat ini hanya dikeluarkan dan ditabuh saat perayaan Sekaten tiba, yaitu:
- Kanjeng Kyai Guntur Madu
Perangkat gamelan pusaka ini diletakkan di Bangsal Pradangga Selatan (Pradangga Kidul) Kompleks Masjid Agung Surakarta.
- Kanjeng Kyai Guntur Sari
Perangkat gamelan pendamping ini ditempatkan di Bangsal Pradangga Utara (Pradangga Lor) Kompleks Masjid Agung Surakarta.
Dalam karya etnometodologi karawitan yang ditulis oleh Mpu Karawitan Rahayu Supanggah berjudul Bothekan Karawitan (2002), disebutkan bahwa gamelan sekaten memiliki keunikan berupa fisik, bilah, serta struktur instrumen yang jauh lebih besar dan tebal dibandingkan gamelan karawitan pada umumnya.
Instrumen gamelan sekaten terdiri dari bonang (barung dan panembung), demung, saron, saron penerus, kempyang, gong ageng, serta bedhug. Berbeda dengan seni pertunjukan gamelan harian, gamelan sekaten tidak melibatkan instrumen pesinden, rebab, gambang, maupun suling.
Maestro seni R.M. Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi (2002) menerangkan, ketiadaan instrumen vokal dan dawai ini bertujuan untuk menciptakan bunyi gelombang suara yang mantap, berwibawa, dan sarat akan nilai sakral keagamaan.
Prosesi Ritual Miyos Gangsa hingga Puncak Grebeg Maulud
Rangkaian pembunyian gamelan sekaten melalui serangkaian tata cara adat yang ketat dan khidmat selama kurang lebih tujuh hari berturut-turut pada bulan Rabiul Awal (Mulud). Berikut ini rangkaian tata cara Gamelan Sekaten Solo:
- Miyos Gangsa (Keluarnya Gamelan Pusaka)
Rangkaian acara dimulai pada tanggal 5 Mulud dalam kalender Jawa. Kedua perangkat gamelan diboyong melalui prosesi kirab sakral oleh para abdi dalem niyaga dan prajurit keraton dari Kori Kamandungan Keraton Surakarta menuju Bangsal Pradangga di Masjid Agung Surakarta.
- Penabuhan Gamelan Bergantian
Setelah ditata di bangsal masing-masing, gamelan mulai ditabuh secara berkesinambungan siang dan malam. Pembunyian awal wajib mengumandangkan dua gendhing sakral, yaitu Ladrang Rambu dan Ladrang Rangkung. Berdasarkan riset etnomusikologi Prof. Dr. Sri Hastanto dan Sugeng Nugroho dalam buku Surakarta: Kehidupan Karawitan dan Gamelan Sekaten (1990) yang diterbitkan STSI Surakarta (sekarang ISI Surakarta), nama Rambu ditafsirkan berakar dari kata Arab Robbuna (Tuhan kami), sedangkan Rangkung merujuk pada kata Rochun (jiwa/ruh yang agung). Pengulangan kedua gendhing ini ditujukan sebagai bentuk kontemplasi keagamaan dan puji-pujian spiritual kepada Sang Pencipta.
- Penghentian Sementara Waktu Salat
Setiap kali kumandang azan berbunyi, penabuhan gamelan sekaten dihentikan secara mutlak sebagai bentuk penghormatan dan pematuhan ibadah salat.
- Kondur Gangsa dan Grebeg Maulud
Pada malam menjelang tanggal 12 Mulud, gamelan dikembalikan masuk ke dalam wilayah kedaton (Kondur Gangsa). Acara disusul dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung oleh Sentana Dalem dan Raja, sebelum akhirnya ditutup dengan puncak perayaan Grebeg Maulud ditandai pembagian Gunungan hasil bumi kepada masyarakat luas.
Sinergi Pelestarian Budaya dan Nilai Ekonomi Lokal
Perayaan Sekaten Solo tidak hanya membawa imbas spiritualitas dan edukasi sejarah, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian serta kepariwisataan daerah.
Hal tersebut diungkapkan dalam penelitian Edipeni Pramusinto dan Sri Mulyani Wahono yang berjudul “Keterkaitan antara Upacara Adat Tradisional Sekaten dengan Pengembangan Kepariwisataan di Kodya Surakarta” di Gemawisata: Jurnal Ilmiah Pariwisata (Vol. 16, No. 1, Januari 2020).
Kehadiran wahana rekreasi, kuliner tradisional seperti endog abang dan cabuk rambak, serta pasar malam di Alun-Alun Keraton Surakarta menjadikan momentum ini sebagai sarana hiburan rakyat yang menyatukan seluruh strata sosial masyarakat.
Pelestarian ritual penabuhan Gamelan Sekaten di Keraton Surakarta membuktikan bagaimana seni tradisi mampu bertahan melintasi zaman. Kombinasi estetika karawitan, kedalaman filosofi dakwah Islam Nusantara, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadikan tradisi ini sebagai identitas kebudayaan Jawa yang tetap relevan dan lestari hingga hari ini.












