Pamor Cafe, Mendefinisikan Ulang Senja di Terminal Tirtonadi Solo

Solokini.com, Solo – Di jantung hiruk-pikuk Terminal Tirtonadi, sebuah permata tersembunyi muncul dengan membawa nuansa baru bagi kultur kopi lokal, Pamor Cafe.

Pamor Café, tempat di mana kewibawaan filosofi Jawa bertemu dengan estetika kontemporer.

Bagi sebagian orang, terminal bus mungkin identik dengan kebisingan dan langkah kaki yang terburu-buru. Namun, di tangan Sekar Putri, pemilik Pamor Café, stigma tersebut dipatahkan.

Memilih lokasi yang “tak terduga” justru menjadi strategi jenius untuk menghadirkan pengalaman FnB yang benar-benar segar.

“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang unik. Banyak yang tidak menyangka ada coffee shop di dalam terminal,” ujar Sekar di sela Grand Opening Pamor Cafe, Jumat (6/3/2026).

Pamor menawarkan satu sudut pandang berbeda di Kota Solo, mengubah ritual minum kopi menjadi momen kontemplatif.

Nama Pamor tidak dipilih secara sembarang. Dalam khazanah budaya Jawa, “Pamor” merujuk pada wibawa, nilai, dan daya tarik yang terpancar dari dalam.

“Kami berharap kafe ini memiliki pesona yang mampu menarik orang untuk datang, berbagi cerita, dan merasakan koneksi yang bermakna dalam suasana yang hangat,” papar Sekar.

Meski mengusung konsep yang estetik dan berlokasi di ikon kota, Pamor Cafe tetap berpijak pada nilai aksesibilitas. Mereka membuktikan bahwa kualitas tidak selalu harus ditebus dengan harga selangit.

Pamor Cafe menawarkan minuman khas yakni Kopi Pamor, Winemor, dan Honeymor sebagai primadona bagi para pengunjung setianya.

Dengan rentang harga minuman antara Rp10.000 hingga Rp25.000, serta makanan mulai dari Rp18.000, Pamor menjadi destinasi inklusif bagi siapa saja.

Pamor Café dirancang untuk menjadi wadah kolektif dengan kapasitas mencapai 100 tempat duduk.

Baik solo traveler yang menunggu keberangkatan bus atau sekumpulan anak muda yang mencari ruang kreatif untuk berdiskusi, atmosfer yang ditawarkan sangatlah akomodatif.

Di tengah menjamurnya kedai kopi di Solo, Pamor Café muncul secara berani karena lokasinya serta kemewahan visual dan rasa dalam balutan kesederhanaan yang jujur.

Berita sebelumyaKonflik Timur Tengah Memanas, LDII Solo Pastikan 200 Jemaah Umrah di Tanah Suci Aman
Berita berikutnyaRamadan, BMM dan PNM Wonogiri Gandeng Solopeduli Salurkan Paket Cinta Yatim