Solokini.com, Solo – Naiknya Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono (PB) XIV bersama dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat peresmian revitalisasi Panggung Sanggbuwono itu dinilai melanggar tatanan adat Keraton Kasunanan Surakarta.
Kritikan tersebut disampaikan kubu SISKS Pakubuwono XIV Purboyo karena bangunan ikonik yang didirikan tahun 1728 itu dianggap sebagai tempat sakral dengan aturan khusus.
PB XIV Hangabehi dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon diketahui meninjau Panggung Songgobuwono sebagai bagian dari rangkaian finalisasi peresmian bangunan bersejarah tersebut pada Selasa (16/12/2025) malam. Usai pengguntingan pita bunga, mereka langsung masuk dan naik ke atas Panggung Sanggabuwono.
Menanggapi tudingan tersebut, PB XIV Hangabehi menegaskan bahwa kehadirannya di Panggung Songgobuwono semata-mata untuk melihat dari dekat hasil revitalisasi bangunan Panggung Sanggabuwono yang memiliki lima tingkat tersebut. Peninjauan itu juga sebagai bagian dari rangkaian finalisasi peresmian bagunan bersejarah itu.
“Itu bagian dari finalisasi peresmian nggih. Kan yang dalamnya diganti semua. Kalau kemudian tidak boleh melihat ke dalam kan ya gimana,” kata PB XIV Hangabehi usai shalat Jumat di Masjid Agung Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/12/2025).
Ia membantah anggapan bahwa tindakannya melecehkan adat Keraton. Menurutnya, seluruh bangunan di kompleks keraton memiliki kesakralan yang sama dan setiap proses pembangunan selalu disertai ritual adat.
“Ndak (menyalahi). Ndak ada pelecehan adat. Itu sudah ada sumpahnya dulu. Kan waktu pembangunan pastinya juga ada wilujengan untuk ritual izin ke atas. Yang namanya bangunan di keraton semuanya sakral,” ucapnya.
PB XIV Hangabehi juga menyampaikan bahwa keterlibatan pemerintah dalam revitalisasi bangunan keraton tetap mengikuti ketentuan adat, termasuk pelaksanaan prosesi rangkaian selamatan.
“Jadi kalau kita tidak ada peran pemerintah untuk membantu ikut revitalisasi ini ya tetap apapun pasti ada wilujengan izin toh. Yang mana semua kompleks sakral, tidak hanya Panggung Sanggabuwono,” kata dia.
“Maka dari itu kalau ada niat dari pemerintah untuk merevitalisasi keraton ya kita utamakan pasti bisa masuk untuk melihat kondisi yang ada di dalam tidak hanya yang diluar,” tambahnya.
Terkait anggapan bahwa hanya pihak tertentu yang diperbolehkan masuk Panggung Sanggabuwono, PB XIV Hangabehi menyatakan dirinya telah disumpah sejak masih menyandang gelar pangeran. “Saya sudah disumpah semenjak saya masih pangeran,” ucapnya.
Ia menambahkan, kunjungannya bersama Menteri Kebudayaan hanya sebatas melihat kondisi fisik bangunan setelah revitalisasi selesai dilakukan.
“Di dalam hanya melihat kondisi yang sudah dibangun. Kan lantai-lantainya diganti semua, kayu-kayu yang rapuh sudah diganti semua, sudah gitu aja. Pak Menteri melihat hasilnya seperti apa,” ujarnya.
Sebelumnya, Pangageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta dari kubu PB XIV Purboyo, GKR Panembahan Timoer, menyatakan bahwa pihaknya tidak dilibatkan terkait rencana naiknya PB XIV Hangabehi dan Menteri Kebudayaan ke atas Panggung Sanggabuwono..
Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap adat yang berlaku di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. “Kita tidak diajak rembugan (berbicara) masalah mereka akan naik (Panggung Sanggabuwono. Menurut saya itu sih pelecehan adat ya,” tegasnya.
Menurutnya, Panggung Sanggabuwono merupakan tempat sakral yang hanya boleh dimasuki raja serta pihak-pihak yang telah disumpah untuk keperluan upacara adat.
“Ya setahu kami itu tempat sakral yang dipergunakan hanya untuk raja dan orang-orang yang sudah disumpah raja untuk melakukan upacara,” bebernya.














