Solokini.com – Hari Kesadaran Epilepsi Internasional atau yang populer disebut Purple Day diperingati setiap tanggal 26 Maret rutin tiap tahun.
Tujuan peringatan Purple Day adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengidap epilepsi di seluruh dunia.
Peringatan tahunan ini menjadi momen penting untuk mengedukasi publik mengenai gangguan saraf yang sering kali masih diselimuti mitos dan stigma negatif di tengah masyarakat.
Banyak yang mengira epilepsi adalah penyakit yang menular atau bahkan gangguan psikologis.
Namun, melansir dari Epilepsy.org.uk, epilepsi sebenarnya adalah kondisi neurologis yang memengaruhi otak dan menyebabkan kejang berulang.
Penting untuk dipahami bahwa mengalami satu kali kejang tidak serta-merta membuat seseorang didiagnosis epilepsi.
Dokter biasanya baru menetapkan diagnosis jika terdapat kemungkinan besar pasien akan mengalami kejang di masa mendatang.
Kondisi ini bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Ada yang bersifat sementara, namun bagi sebagian orang, ini menjadi perjuangan seumur hidup.
Data menunjukkan betapa krusialnya dukungan kita bagi para penyintas. Sebab, diperkirakan sebanyak 50 juta orang dari populasi dunia yang hidup dengan epilepsi saat ini.
Rasio perkiraan orang yang menderita kondisi epilepsi ini 1 dari 100.
Penderita epilepsi memiliki risiko kematian dini hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibanding populasi umum, sering kali diperburuk oleh diskriminasi sosial yang mereka alami.
Perlu ditekankan, epilepsi tidak menular dan bukan merupakan gangguan psikologis.
Tahukah Anda bahwa gerakan global ini dimulai dari keberanian seorang gadis kecil?
Mengutip Purpleday.org, ide Purple Day dicetuskan pada tahun 2008 oleh Cassidy Megan.
Didorong oleh perjuangan pribadinya melawan epilepsi, Cassidy ingin menciptakan sebuah gerakan yang membuat para penyintas merasa tidak sendirian.
Langkah kecil Cassidy disambut hangat oleh Asosiasi Epilepsi Maritim pada tahun yang sama.
Setahun kemudian, mereka menggandeng Yayasan Anita Kaufmann untuk meluncurkan Hari Ungu ke kancah internasional.
Kini, setiap tanggal 26 Maret, jutaan orang, mulai dari tokoh dunia, sekolah, hingga pelaku bisnis, mengenakan warna ungu sebagai bentuk solidaritas.
Tujuannya sederhana namun mulia, yakni mematahkan mitos, menghapus stigma, dan merangkul mereka yang selama ini berjuang dalam diam.














