Solokini.com — Apakah kamu sering tergoda melakukan maraton nonton hingga lupa waktu saat menyaksikan serial favorit di platform streaming?
Fenomena binge-watching ini kini menjadi tren gaya hidup yang sangat populer, mulai dari pecinta drakor (drama Korea), dracin (drama Tiongkok), anime, hingga maraton film berseri dalam satu malam.
Tanpa disadari, niat awal yang hanya ingin menyaksikan satu episode kerap berubah menjadi berjam-jam menatap layar. Kita tak sadar telah melakukan maraton nonton.
Fenomena ini bukan sekadar bentuk hiburan biasa.
Para ahli sains dan psikologi dari berbagai belahan dunia telah meneliti alasan mendalam di balik mengapa otak kita begitu mudah “terjerat” dalam maraton tayangan audiovisual ini.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan psikologis kita saat melakukan aktivitas ini?
Analisis Psikologis: Mengapa Maraton Nonton Sangat Adiktif?
Berikut ini beberapa alasan mengapa orang bisa kecanduan maraton nonton:
1. Pelepasan Dopamin dan Sistem Penghargaan Otak
Dr. Renee Carr, seorang psikolog klinis asal Amerika Serikat, dalam wawancara publikasinya di media NBC News dan ulasan psikologi media (Liberty University, 2019 / The Maine Campus, 2022) menjelaskan kaitan antara kesehatan mental dan perilaku menonton.
Menurut Dr. Renee Carr, binge-watching secara langsung memicu pelepasan neurotransmiter dopamin di otak. Dopamin adalah senyawa kimia yang memberikan rasa senang dan penghargaan (reward system).
Ketika kamu menikmati satu episode tayangan yang menarik, otak memproduksi dopamin yang memberi sinyal enjoyment dan relaksasi. Otak yang mendapatkan stimulus menyenangkan tersebut akan secara alami menuntut dorongan dopamin terus-menerus, sehingga muncul keinginan kuat untuk menekan tombol “Episode Selanjutnya”.
2. Kebutuhan Escapism dan Manajemen Stres
Peneliti Madison Pittman dan Kim Sheehan (2015) dalam jurnal internasional Journal of Retailing and Consumer Services yang juga diulas dalam literatur riset teknologi media “Binge watching: An exploration of the role of technology” (2015) memaparkan alasannya.
Menurut Pittman dan Sheehan, salah satu dorongan utama seseorang melakukan maraton nonton adalah escapism (pelarian sejenak dari realitas) dan pereda stres (stress relief).
Ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, kecemasan, atau rutinitas yang melelahkan, masuk ke dalam dunia fiktif serial memberikan ruang aman temporer. Cerita drama yang intens membuat perhatian berpindah penuh dari beban hidup pribadi menuju konflik karakter fiktif.
3. Fenomena Parasocial Relationship (Hubungan Parasosial)
Penelitian psikologi komunikasi media oleh para ahli, seperti studi dari Ramakrishnan Devasagayam dan Carroll Buff mengenai dampak durasi menonton jangka panjang, menunjukkan bahwa penonton sering kali mengembangkan parasocial relationship.
Ini adalah ikatan emosional satu arah di mana penonton merasa mengenal dekat, berempati, dan memiliki hubungan personal dengan karakter-karakter dalam tayangan.
Perasaan “terikat” pada nasib sang tokoh utama inilah yang membuat penonton merasa enggan atau bahkan merasa “bersalah” jika meninggalkannya begitu saja di pertengahan cerita.
4. Efek Zeigarnik dan Fitur Auto-Play Platform
Dalam psikologi, terdapat teori bernama Zeigarnik Effect, yang menjelaskan bahwa pikiran manusia cenderung mengingat tugas yang belum selesai atau menggantung lebih kuat daripada yang sudah tuntas.
Para kreator serial dan platform streaming memanfaatkan prinsip ini dengan menyajikan cliffhanger (akhir episode yang menggantung). Dikombinasikan dengan fitur auto-play yang memutar episode berikutnya dalam hitungan detik, kendali kontrol diri penonton berkurang signifikan sebelum otak sempat membuat keputusan rasional untuk berhenti.
Dampak Maraton Nonton Bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Meskipun memberikan efek relaksasi sesaat, studi dari Liese Exelmans dan Jan Van den Bulck yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine dengan judul “Binge Viewing, Sleep, and the Role of Pre-Sleep Arousal” (2017) menunjukkan, maraton nonton hingga larut malam berbanding lurus dengan penurunan kualitas tidur dan insomnia.
Paparan blue light dari layar menekan produksi hormon melatonin. Selain itu, keterikatan emosional dengan jalan cerita membuat otak berada dalam kondisi hyperarousal (terlalu waspada/terangsang), yang menyulitkan tubuh untuk masuk ke fase tidur nyenyak.
Perilaku ini juga berpotensi memicu rasa bersalah (post-binge regret), kelelahan mata, hingga gaya hidup sedenter yaitu kurang gerak atau malas gerak alias mager.
Tips Sehat Maraton Nonton Tanpa Mengorbankan Kesehatan
Hobi menonton tayangan favorit tetap bisa menyenangkan tanpa perlu mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Mengutip Researchgate dan Liberty University, berikut ini tips sehat maraton nonton:
- Matikan Fitur Auto-Play
Buka pengaturan akun platform streaming dan matikan fitur pemutaran otomatis (auto-play). Jeda waktu beberapa detik saat menentukan episode baru memberi waktu bagi otak rasional untuk memutuskan apakah kamu benar-benar ingin lanjut atau saatnya beristirahat.
- Gunakan Aturan “Berhenti di Tengah Episode”
Produser serial selalu menaruh kejutan atau pertentangan utama di akhir episode (cliffhanger). Trik terbaik untuk berhenti adalah mematikan tayangan di menit ke-20 atau ke-30 pada episode berikutnya, saat konflik dalam episode tersebut berada pada situasi yang relatif stabil.
- Terapkan Aturan 20-20-20 untuk Kesehatan Mata
Setiap 20 menit sekali, alihkan pandangan dari layar dan tatap objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Ini membantu melemaskan otot mata dan mengurangi risiko kelelahan mata (digital eye strain).
- Hindari Binge-Watching Sambil Makan (Mindless Eating)
Biasakan tidak menaruh camilan berkalori tinggi di dekat kamu saat maraton tayangan. Saat fokus teralih ke layar, kita cenderung makan secara tidak sadar (mindless eating), yang berisiko memicu konsumsi kalori berlebih.
- Tetapkan Batas Waktu dan Jaga Kebersihan Tidur (Sleep Hygiene)
Tentukan batas waktu maksimal, misalnya tidak lebih dari 2 episode per hari atau berhenti total 1 jam sebelum jam tidur ideal. Hindari membawa laptop atau menyalakan TV di atas tempat tidur agar otak tetap mengasosiasikan kasur sebagai tempat untuk beristirahat.
Lepas Stres Tak Harus Korbankan Kesehatan
Maraton nonton film, anime, drakor atau dracin pada dasarnya adalah bentuk hiburan yang wajar dan efektif untuk melepas penat. Kuncinya terletak pada kesadaran diri (mindfulness) dan keseimbangan, sehingga kepuasan emosional yang didapatkan tidak mengorbankan kualitas kesehatan.
Apakah kamu tipe penonton yang sanggup menyimak satu musim serial dalam satu malam, atau lebih suka menikmatinya episode demi episode setiap hari?













