Cegah Gangguan Pendengaran Siswa, Perhati-KL Solo Gelar Skrining Digital di SMPN 5 Surakarta

Solokini.com, Solo – Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (Perhati-KL) cabang Solo menggelar aksi sosial pemeriksaan telinga di SMPN 5 Surakarta, Senin (9/3/2026).

Kegiatan ini dalam rangka memperingati World Hearing Day (Hari Pendengaran Sedunia) 2026 dengan tema “Dari Komunitas Ke Ruang Kelas: Kesehatan Telinga dan Pendengaran Untuk Seluruh Anak”.

Ketua Perhati-KL Solo, Dr. dr. Hadi Sudrajat, menyampaikan bahwa aksi ini bertujuan untuk mendeteksi dini gangguan pendengaran pada generasi muda.

Program ini dilakukan serentak di tiga jenjang pendidikan berbeda di Solo, yakni SMPN 5 Surakarta (Senin), MI Al Islam (Selasa), dan SMAN 9 Surakarta (Kamis).

Berbeda dari tahun sebelumnya, pemeriksaan kali ini memanfaatkan teknologi digital terbaru melalui aplikasi Screening Edge (Skrining H) yang dikembangkan oleh Universitas Padjadjaran.

Baca Juga :  Safari Kebaikan Ramadan, RS JIH Solo Santuni 50 Anak Yatim Jelang Milad ke-7

Teknologi ini memungkinkan pendeteksian gangguan pendengaran hanya dengan perangkat smartphone atau laptop.

“Target kami adalah minimal 200 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Hari ini di SMPN 5 ada sekitar 100 siswa yang diperiksa,” tutur Dr. Hadi.

“Selain skrining, kami juga melakukan penyuluhan dan pembersihan kotoran telinga langsung oleh ahlinya,” paparnya.

Dalam sesi edukasi, Dr. dr. Novi Primadewi, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp. NO.(K), M.Kes, menyoroti tiga faktor utama pemicu gangguan pendengaran pada anak sekolah.

Tiga faktor tersebut adalah infeksi telinga, penyumbatan serumen (kotoran telinga), serta dampak kebisingan digital (Noise-Induced Hearing Loss).

Dr. Novi memberikan peringatan khusus terkait tren penggunaan gawai di kalangan remaja.

“Anak-anak sering asyik main game online atau dengerin musik pakai headset terlalu keras,” ungkapnya.

Baca Juga :  Malam Ini, PB XIV Purboyo Gelar Tradisi Kirab Malam Selikuran Ramadan

“Jika saraf pendengaran sudah rusak, itu tidak bisa diobati, hanya bisa direhabilitasi. Maka edukasi cara aman menggunakan gawai sangat penting,” tegasnya.

Aksi sosial yang melibatkan 10 dokter spesialis dan tim Puskesmas Sibela ini mendapat respons positif dari para siswa.

Nindy, siswi kelas 7D SMPN 5 Surakarta, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai bahaya volume suara yang berlebihan pada perangkat elektronik.

“Senang karena jadi tahu masalah telinga yang sebelumnya kita tidak sadar. Tadi juga dijelaskan kalau suara game online yang terlalu bising itu bahaya buat telinga,” kata Nindy.

Melalui inisiatif ini, Perhati-KL Solo berharap angka gangguan pendengaran pada anak di Kota Solo dapat ditekan melalui deteksi dini, sehingga kendala komunikasi tidak menghambat proses belajar mengajar di ruang kelas.

Berita sebelumyaHeboh ASN Solo Sebar Data Pribadi Pembalap Rio Haryanto, Kini Disanksi Potong Gaji 9 Bulan
Berita berikutnyaMalam Ini, PB XIV Purboyo Gelar Tradisi Kirab Malam Selikuran Ramadan