SOLO, Solokini.com — Menjelang satu tahun operasionalnya di kawasan Solo Raya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencatat pertumbuhan kinerja operasional yang signifikan.
Perusahaan transportasi dan penyedia layanan mobilitas terdepan di Indonesia ini membukukan peningkatan permintaan layanan taksi rata-rata sebesar 17% pada setiap kuartalnya dari Q1 hingga Q3 tahun 2026.
Pertumbuhan ini didorong oleh kuatnya potensi pasar Solo Raya sebagai destinasi wisata budaya, kuliner, bisnis, hingga penyelenggaraan berbagai event dan konser berskala nasional maupun internasional.
Ekspansi Armada dan Penguatan Ekosistem Lokal (Kawan Blue Bird)
Sebagai bentuk komitmen dalam memenuhi tingginya aksesibilitas dan dinamika mobilitas warga lokal maupun wisatawan, Blue Bird telah meningkatkan jumlah armadanya di Solo Raya secara bertahap. Dari yang semula 26 unit pada awal peluncuran (25 November 2025) kini telah mencapai 100 unit armada.
Dalam menjalankan strateginya, Blue Bird menerapkan prinsip kolaborasi inklusif melalui program Kawan Blue Bird.
Di Solo Raya, Blue Bird merangkul dan bekerjasama dengan operator taksi lokal Kosti Solo untuk menjaga keberlanjutan ekosistem transportasi daerah serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Langkah kolaborasi serupa juga diterapkan Blue Bird di kawasan wisata dan kota besar lainnya seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung.
Kepala Operasi Bluebird Group Solo, Raden Nano, menjelaskan bahwa kemudahan aksesibilitas menjadi fokus utama operasional perusahaan.
“Kami memastikan pelanggan dapat menjangkau layanan Bluebird di berbagai lokasi strategis, mulai dari stasiun, kawasan hotel, pusat perbelanjaan, hingga rumah sakit. Kehadiran di titik-titik ini menjadi langkah untuk lebih dekat dengan kebutuhan konektivitas pelanggan ke berbagai tujuan perjalanan,” ujar Raden Nano, di Solo, Jumat (16/10/2026).

Saat ini, pangkalan dan titik layanan strategis Blue Bird di Solo Raya meliputi:
- Titik Transportasi: Stasiun Solo Balapan (penyediaan 6 armada taksi reguler) dan Bandara Adi Soemarmo (diwakili layanan sewa kendaraan Golden Bird).
- Pusat Perbelanjaan: Solo Paragon Mall dan kawasan Solo Baru.
- Jaringan Hotel & Restoran Partner: Alila Solo, Novotel, Swiss-Belhotel, Kim by Swiss-Belhotel, Harris Premier, Hotel Dana Marga, serta Restoran Pondok Indah Win.
Strategi Bisnis 3M dan Akselerasi Digital
Head of Communications & Community PT Blue Bird Tbk, Sekar Adisty, menegaskan bahwa keberhasilan ekspansi Blue Bird berlandaskan pada strategi utama 3M, yakni:
- Multi-Product / Super Mobility: Menghadirkan lini layanan lengkap untuk berbagai kebutuhan mobilitas, mulai dari taksi reguler (Blue Bird), sewa mobil harian/per jam (Golden Bird), shuttle antarkota (Cititrans/Akarna), pengiriman barang (Blue Bird Kirim), hingga segmen korporat dan lelang kendaraan (Carfix).
- Multi-Payment: Memberikan fleksibilitas pembayaran secara tunai, e-wallet, kartu kredit, QRIS, hingga fitur Easy Pay pada aplikasi.
- Multi-Channel: Kemudahan pemesanan via aplikasi MyBlueBird, street-hailing (pemberhentian di jalan), pangkalan resmi, call center, serta kemitraan ekosistem digital bersama Gojek dan BCA.
Akselerasi digital menjadi motor penggerak utama di Solo, di mana aplikasi MyBlueBird menyumbang 47% dari total pemesanan.
Pengguna memanfaatkan berbagai fitur unggulan seperti Fixed Price (kepastian tarif di awal), Advance Booking (pemesanan terjadwal), serta pengumpulan poin loyalitas (Easy Point).
Struktur Tarif Resmi Solo Raya
Untuk menjamin keterjangkauan dan kepastian biaya pengguna tanpa adanya lonjakan harga (price surge) saat cuaca buruk atau kondisi high demand, Blue Bird menerapkan skema tarif resmi sebagai berikut:
- Buka Pintu (Flag Fall): Rp7.500
- Tarif per Km: Rp5.500
- Tarif Minimum (Minimum Payment) di aplikasi: Rp29.000

Tiga Pilar Standarisasi Layanan dan Inklusivitas
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Sekar Adisty menyampaikan bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan kualitas layanan yang konsisten melalui Tiga Pilar Utama mencakup:
- Standarisasi Armada: Seluruh unit kendaraan wajib melalui pengecekan berkala dan perawatan rutin terpusat di pul (company–managed) untuk menjamin kondisi prima.
- Pengemudi Profesional: Pengemudi terverifikasi dan dibekali pelatihan kepribadian serta keselamatan, ditandai dengan penggunaan seragam batik khas Blue Bird.
- Sistem Mobilitas Terintegrasi: Seluruh armada terhubung dengan sistem pelacakan (tracking system) untuk menjamin ketepatan waktu serta keamanan barang penumpang yang tertinggal, bahkan untuk transaksi non-aplikasi/tunai.
Selain itu, Blue Bird juga memperhatikan aspek inklusivitas.
Seluruh pengemudi dibekali pemahaman dasar untuk melayani penumpang berkebutuhan khusus/disabilitas (seperti pengguna kursi roda), serta membuka skema kesepakatan pemesanan berlangganan khusus demi kenyamanan penumpang.
Visi Portofolio Hijau dan Transformasi Berkelanjutan
Didirikan sejak tahun 1972 (54 tahun lalu) oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, Blue Bird terus mentransformasi bisnisnya mengikuti perkembangan zaman. Mengantisipasi tren mobilitas yang dinamis dan mendukung keberlanjutan lingkungan (sustainability), Blue Bird secara nasional berfokus pada perluasan armada ramah lingkungan melalui Blue Bird Prime.
Hingga saat ini, armada Blue Bird Prime telah mencapai sekitar 700 unit secara nasional yang terdiri dari armada berbasis Hybrid (Innova Zenix Hybrid di area Jakarta) serta armada listrik penuh/EV (BYD e6 EV di Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Bali).
Dengan penguatan aksesibilitas, standarisasi layanan, dan pemanfaatan teknologi, Blue Bird Group berkomitmen untuk terus menjadi mitra mobilitas yang andal dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di Solo Raya dan seluruh wilayah Indonesia.











