Solokini.com — Apakah benar puber kedua terjadi pada pria saat memasuki usia paruh baya? Secara medis, fenomena yang sering disebut “puber kedua” pada pria sebenarnya adalah mitos biologis.
Karena kondisi klinis yang dialami pria usia 40 tahun ke atas bukanlah lonjakan hormon remaja, melainkan Andropause atau Late-Onset Hypogonadism (LOH) yaitu penurunan kadar hormon testosteron secara bertahap.
Berbeda dengan pubertas masa remaja yang ditandai oleh lonjakan hormon reproduksi dan pematangan organ seksual, pria yang memasuki usia paruh baya justru mengalami penurunan fungsi reproduksi dan penurunan kadar hormon androgen secara konstan.
Perbedaan Pubertas Remaja dan Andropause
Istilah puber kedua sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan perubahan perilaku, krisis usia paruh baya (midlife crisis), atau perubahan fisik pada pria paruh baya. Namun, mekanismenya berlawanan dengan pubertas asli.
Pada masa remaja, lonjakan hormon Luteinizing Hormone (LH) memicu produksi testosteron masif pada testis. Sebaliknya, kondisi paruh baya justru dicirikan oleh penurunan fungsi sel Leydig secara perlahan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Alan J. Wein, Louis R. Kavoussi, Alan W. Partin, dan Craig A. Peters dalam buku teks medis “Campbell-Walsh Urology” (Edisi ke-11, 2015), kadar testosteron total pada pria dewasa mengalami penurunan fisiologis secara alami sebesar 1% hingga 2% per tahun setelah melewati usia 30 tahun.
Mengapa Sering Disamakan dengan Menopause?
Istilah male menopause sering dibandingkan dengan menopause pada wanita.
Namun, sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Malcolm Carruthers dalam bukunya “The Male Menopause: Exploring the Syndrome Called Andropause” (2001), sebutan ini kurang tepat secara terminologi medis.
Menopause pada wanita ditandai oleh penghentian fungsi ovarium secara mendadak dan permanen.
Sebaliknya, penurunan testosteron pada pria terjadi sangat perlahan (insidious) dan tidak pernah menghentikan fungsi organ reproduksi secara total. Pria tetap dapat memproduksi sperma dan memiliki keturunan hingga usia tua.
Gejala Fisik dan Psikologis Penurunan Testosteron
Ketika kadar testosteron total turun di bawah batas klinis, pria dapat mengalami serangkaian gejala fisik, seksual, dan emosional.
Berdasarkan rujukan literatur endokrinologi karya Ronald S. Swerdloff dan Christina Wang dalam buku “Textbook of Male Endocrinology” (2002) serta studi “European Male Ageing Study (EMAS)” oleh F. C. Wu dkk., indikator utama kondisi Late-Onset Hypogonadism meliputi:
- Gejala Seksual: Penurunan libido (gairah seksual), penurunan frekuensi ereksi spontan di pagi hari, serta disfungsi ereksi.
- Perubahan Komposisi Tubuh: Penurunan massa dan kekuatan otot, peningkatan penumpukan lemak di area perut (visceral), dan penurunan kepadatan mineral tulang.
- Gejala Mental dan Emosional: Perubahan suasana hati (mood swings), kelelahan kronis, penurunan daya ingat, serta kecenderungan depresi ringan.
Banyak pria menganggap perubahan emosi atau perilaku impulsif di usia 40–50 tahun sebagai bentuk “puber kedua” atau pencarian jati diri. Padahal, secara medis, hal tersebut dipicu oleh kombinasi fluktuasi hormon dan stres psikologis masa transisi paruh baya (midlife transition).
Faktor Gaya Hidup yang Mempercepat Penurunan Hormon
Penurunan testosteron tidak hanya disebabkan oleh faktor penuaan alami.
Berdasarkan penjelasan Dr. Abraham Morgentaler dalam bukunya “Testosterone for Life: Recharge Your Vitality, Sex Drive, Muscle Mass, and Overall Health” (2008), beberapa kondisi kesehatan dan pola hidup dapat mempercepat terjadinya penurunan hormon androgen, antara lain:
- Obesitas: Jaringan lemak berlebih memiliki aktivitas enzim aromatase tinggi yang mengonversi testosteron menjadi estrogen.
- Diabetes Tipe 2 dan Sindrom Metabolik: Resistensi insulin terbukti mengganggu produksi androgen pada sel-sel testis.
- Stres Kronis dan Kurang Tidur: Peningkatan hormon kortisol akibat stres dapat menghambat sekresi testosteron alami.
- Konsumsi Alkohol dan Merokok: Mempercepat kerusakan sel Leydig pada testis yang bertugas memproduksi hormon.
Penanganan dan Evaluasi Medis
Pria yang mengalami gejala andropause disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah berupa analisis panel hormon (Total Testosterone, Free Testosterone, dan SHBG) di pagi hari.
Bila terbukti mengalami defisiensi testosteron secara klinis, dokter spesialis endokrinologi atau andrologi dapat mempertimbangkan Terapi Pengganti Testosteron (Testosterone Replacement Therapy / TRT).
Namun, sebagaimana ditegaskan oleh J. Larry Jameson dan Leslie J. De Groot dalam buku “Endocrinology: Adult and Pediatric” (Edisi ke-7, 2015), terapi hormon memerlukan evaluasi medis yang sangat ketat karena pemberian tanpa indikasi tepat dapat memicu risiko gangguan kardiovaskular dan gangguan kesuburan.
Sebagai langkah awal, intervensi gaya hidup seperti latihan beban (resistance training), kecukupan asupan nutrisi zinc dan vitamin D, serta manajemen tidur tetap menjadi solusi utama dalam menjaga kestabilan hormon pria.













