SOLO, Solokini.com — Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena digital baru muncul dan memengaruhi kesehatan mental jutaan pengguna gawai di seluruh dunia. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah doomscrolling (atau doomsurfing).
Secara harfiah, doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita buruk, tragis, atau menakutkan secara terus-menerus di media sosial atau platform berita daring, meskipun konten tersebut membuat penggunanya merasa cemas, sedih, atau tertekan.
Asal-usul dan Evolusi Istilah Doomscrolling
Istilah doomscrolling pertama kali populer di platform media sosial Twitter (sekarang X) pada sekitar tahun 2018. Namun, lonjakan penggunaannya terjadi secara masif pada awal tahun 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda secara global.
Lembaga kamus terkemuka seperti Merriam-Webster dan Oxford Languages kemudian mencatat doomscrolling sebagai salah satu kata kunci yang mendefinisikan perilaku digital modern. Kebiasaan ini tidak berhenti setelah pandemi berakhir; krisis iklim, konflik geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi global terus memicu dorongan manusia untuk memantau berita negatif tanpa henti.
Mengapa Kita Terjebak dalam Doomscrolling?
Mengapa otak manusia terus menelusuri kabar buruk meskipun hal itu terasa menyiksa? Menurut para peneliti, ada beberapa faktor psikologis dan teknologis yang mendasarinya:
- Bias Negativitas (Negativity Bias)
Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman ketimbang berita positif. Nenek moyang manusia yang selalu waspada terhadap bahaya memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Di era modern, kewaspadaan alami ini beralih ke layar ponsel pintar. - Kebutuhan Mengontrol Ketidakpastian
Saat situasi dunia terasa kacau atau tidak menentu, orang cenderung mencari lebih banyak informasi untuk meraih rasa kendali (sense of control). Ironisnya, semakin banyak berita buruk yang dibaca, makin besar rasa tidak berdaya yang muncul. - Algoritma Media Sosial dan Dorongan Dopamin
Platform digital dirancang untuk memaksimalkan durasi layar (screen time). Algoritma rekomendasi cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat, seperti amarah atau ketakutan, karena konten jenis ini terbukti menghasilkan interaksi tertinggi. - Siklus Umpan Balik Dopaminergik
Pencarian informasi merangsang pelepasan dopamin di otak. Kebiasaan terus menggeser layar (scrolling) memberikan harapan implisit bahwa “di usapan berikutnya” kita akan menemukan kepastian atau solusi, menciptakan lingkaran adiksi digital. B. Sharma dkk. (2022) dalam studi pengembangan The Doomscrolling Scale untuk American Psychological Association (APA), konsumsi berita negatif secara habitual ini didorong oleh pencarian informasi berulang yang tak terkontrol.
Dampak Psikologis dan Neurologis Doomscrolling
Dampak dari konsumsi berita negatif secara kronis telah dibuktikan oleh berbagai studi ilmiah internasional:
- Hiperaktivitas Amigdala & Hipersekresi Kortisol
Penelitian neurologis menunjukkan bahwa paparan informasi krisis yang konstan memicu hiperaktivitas pada amigdala—pusat pemroses rasa takut di otak. Hal ini mengaktifkan poros HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal axis) yang menyebabkan pelepasan hormon stres (kortisol) secara berlebihan. - Penurunan Kesejahteraan Mental dan Depresi
Studi yang dipublikasikan oleh Seydi Ahmet Satici dkk. (2023) dalam jurnal Applied Research in Quality of Life (Springer) menunjukkan, doomscrolling secara signifikan berhubungan langsung dengan peningkatan psychological distress (tekanan psikologis) dan social media addiction, serta menurunkan tingkat kepuasan hidup (life satisfaction) dan kesejahteraan mental (mental well-being). - Kecemasan Eksistensial dan Dampak Emosional Langsung
Penelitian oleh Kathryn Buchanan, Lara B. Aknin, S. Lotun, dan Gillian M. Sandstrom (2021) yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE (“Brief exposure to social media during the COVID-19 pandemic: Doomscrolling has negative emotional consequences, but kindness-scrolling does not”) membuktikan, paparan singkat terhadap berita buruk di media sosial langsung memicu penurunan emosi positif dan peningkatan emosi negatif secara signifikan. Sebaliknya, melihat konten kebaikan (kindness-scrolling) tidak membawa dampak emosional buruk tersebut. - Ulasan Sistematis Literatur Global
G. Avcı (2026) dalam ulasan ilmiahnya di Journal of Social Media Research (“Emerging evidence on doomscrolling: A scoping review of empirical studies”) memetakan 50 studi empiris global dan menyimpulkan bahwa doomscrolling secara konsisten dikaitkan dengan gangguan kecemasan (anxiety), depresi, stres kronis, hingga penurunan produktivitas kerja dan gangguan persepsi risiko. - Beban Kognitif Berlebih (Cognitive Overload) & Gangguan Tidur
Arus informasi buruk yang berulang membebani memori kerja (working memory) dan menurunkan kinerja area prefrontal cortex. Akibatnya, seseorang akan mengalami kabut otak (brain fog), penurunan daya konsentrasi, serta gangguan tidur (sleep deprivation) akibat kombinasi paparan sinar biru (blue light) dan lonjakan adrenalin sebelum tidur.
Strategi Praktis Menghentikan Kebiasaan Doomscrolling
Memutus rantai doomscrolling tidak berarti Anda harus menjadi orang yang acuh terhadap isu sosial atau dunia. Kuncinya adalah beralih dari konsumsi pasif berlebihan ke konsumsi informasi yang berkesadaran (mindful consumption).
- Tetapkan Batas Waktu Harian (App Limits)
Gunakan fitur pembatas waktu aplikasi bawaan smartphone untuk membatasi akses media sosial maksimal 30–45 menit per hari. - Jauhkan Ponsel dari Kamar Tidur
Hindari kebiasaan melihat ponsel 1 jam sebelum tidur dan 1 jam setelah bangun pagi. Gunakan jam weker fisik alih-alih alarm ponsel. - Kurasi Sumber Informasi
Unfollow atau bisukan (mute) akun media sosial yang secara konsisten membagikan konten sensasional atau provokatif. Utamakan membaca rangkuman berita harian dari media berita tepercaya daripada mengikuti arus linimasa secara real-time. - Imbangi dengan Kindness-Scrolling
Sebagaimana direkomendasikan dalam penelitian Buchanan dkk. (2021), imbangi asupan informasi dengan secara sengaja mencari konten positif, inspiratif, atau aksi kebaikan sosial untuk menetralkan bias negativitas pada otak. - Terapkan Teknik Grounding dan Aktivitas Fisik
Saat mulai merasa cemas saat memegang ponsel, segera letakkan gawai dan lakukan olahraga ringan, berjalan-jalan outdoor, atau latihan pernapasan untuk menurunkan kadar kortisol.













