Apa Itu Skena? Arti, Sejarah, hingga Dampaknya bagi Budaya Populer

Festival Musik Latihan Pestapora Solo 2024 pada 15 Juni 2024 di Pamedan Mangkunegaran, Surakarta (Solo) menjadi salah satu event yang wajib dihadiri Agata dan anak skena Solo. (Pestapora.com)

SOLO, Solokini.com — Istilah “skena” telah menjadi salah satu kata yang paling sering terdengar dalam percakapan anak muda Indonesia, termasuk di kota Surakarta (Solo). Tidak hanya dalam obrolan sehari-hari, kata skena juga sering dipakai terutama di media sosial seperti TikTok, X (Twitter), dan Instagram.

Namun, masih banyak orang yang bingung mengenai arti sebenarnya, dari mana istilah ini berasal, hingga mengapa kata ini bisa viral.

Apa Itu Skena?

Secara etimologi, kata skena diserap dari bahasa Inggris scene (seperti dalam frasa music scene). Dalam konteks kebudayaan, skena merujuk pada kolektif atau lingkungan sosial tempat berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki minat, hobi, atau gaya hidup yang sama, khususnya di bidang musik, seni, dan fashion.

Di kalangan masyarakat Indonesia, muncul pula akronim humoris atau “bakronim” untuk mempermudah pemahaman kata skena.

Skena: Suka Cangkruk, Enak Ngobrol, Ajak-ajak (Suka nongkrong, asik diajak bicara, dan inklusif/mengajak teman lain).

Pergeseran Makna di Era Digital

Secara historis, skena berhubungan erat dengan komunitas musik independen (indie). Namun di media sosial belakangan ini, makna skena mengalami pergeseran stereotip yang merujuk pada gaya hidup (lifestyle) tertentu:

  • Gaya Berpakaian: Kaos oversized, celana komprang (baggy), sepatu boots (seperti Dr. Martens), dan membawa tote bag.
  • Kebiasaan: Nongkrong di kedai kopi (coffee shop), mendengarkan musik indie/senja, serta menggunakan laptop bertempelkan bermacam stiker.

Awal Muncul dan Sejarah Perkembangan

1. Akar Akademis dan Musik Global

Konsep music scene pertama kali dijelaskan secara akademis oleh sosiolog Will Straw (1991) dalam studinya “Systems of Articulation, Logics of Change: Communities and Scenes in Popular Music”.

Dalam buku tersebut, Straw mendefinisikan scene sebagai ruang kultural tempat berbagai praktik musik berinteraksi dan membentuk identitas kelompok tanpa terikat oleh batasan geografis yang kaku.

Baca Juga :  Apa itu Agata? Dari Subkultur Anak Gaul Surakarta hingga Ekonomi Kreatif

Selain itu, teori subkultur dari Dick Hebdige (1979) dalam bukunya “Subculture: The Meaning of Style” juga menjelaskan bagaimana kelompok anak muda menciptakan gaya busana dan musik sendiri sebagai bentuk ekspresi serta perlawanan terhadap arus utama (mainstream).

2. Perkembangan di Indonesia (Era 1990-an – 2000-an)

Di Indonesia, istilah skena mulai mengakar kuat sejak akhir 1980-an dan 1990-an melalui gerakan musik underground dan indie di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Komunitas ini mengusung etos DIY (Do It Yourself), di mana mereka memproduksi album sendiri, membuat majalah swadaya (zine), hingga menggelar konser secara mandiri.

Secara khusus, antropolog Brent Luvaas (2012) dalam bukunya “DIY Style: Fashion, Music, and Global Digital Cultures” meneliti fenomena ini di Indonesia.

Luvaas mendokumentasikan bagaimana kebudayaan DIY dan skena musik independen lokal berhasil melahirkan industri kreatif mandiri, seperti label rekaman indie dan clothing line lokal (distro). Gerakan ini membuktikan bahwa skena di Indonesia bukan sekadar gaya hidup, melainkan jaringan produksi budaya yang memadukan ekspresi musik, fesyen, dan teknologi digital.

3. Era Media Sosial (2020-an)

Masuknya algoritma media sosial membuat kata skena mengalami peyorasi (pergeseran makna menjadi lebih spesifik atau sekadar lelucon). Kata ini tidak lagi hanya dipakai oleh pegiat musik, melainkan oleh netizen umum untuk mengategorikan tren fashion dan estetika visual (aesthetic) anak muda urban.

Pentingnya Skena dalam Kebudayaan Populer

Skena memiliki peran penting dalam ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif di Indonesia termasuk di kota Solo. Berikut ini peran penting skena:

Baca Juga :  Aksi Sosial Kekeringan, Favehotel Solo Bersama TNI dan Komunitas Bagikan Sembako

Dimensi

Peran & Kontribusi Skena

Ruang Ekspresi Menjadi wadah bagi seniman, musisi, dan desainer independen yang tidak tertampung oleh industri mainstream.
Ekonomi Kreatif Mendorong tumbuhnya clothing line lokal, kedai kopi independen, rilisan fisik (kaset/piringan hitam), serta promotor acara lokal.
Identitas Sosial Memberikan rasa memiliki (sense of belonging) bagi individu yang merasa tidak cocok dengan budaya pop arus utama.

Dampak Skena: Positif dan Negatif

Seperti koin, adanya skena tentu menimbulkan dampak di masyarakat baik dari sisi gaya hidup hingga ekonomi kreatif. Berikut ini dampak positif dan negatif skena:

Dampak Positif

  1. Menghidupkan Industri Lokal: Menggerakkan ekonomi kreatif berbasis komunitas, seperti penjualan merchandise band lokal dan bisnis UMKM.
  2. Kreativitas Tanpa Batas: Melahirkan genre musik baru, eksperimen seni, dan tren mode yang unik.
  3. Solidaritas Komunitas: Membangun jaringan sosial yang kuat antar anggota kolektif dari berbagai daerah.

Dampak Negatif

  1. Fenomena Gatekeeping: Sebagian oknum di dalam skena sering melakukan snobbery atau membatasi akses. Yakni, mencegah orang awam menikmati karya tertentu jika dianggap tidak “cukup paham” atau tidak “cukup keren”.
  2. Stereotip dan Labeling: Pergeseran makna di media sosial membuat orang yang sekadar berpakaian dengan gaya tertentu langsung diberi label atau di-judge tanpa memahami esensi kebudayaannya.
  3. Pengkotak-kotakan (Exclusivity): Terkadang menciptakan batasan eksklusif antara “anak skena” dengan masyarakat umum.

Kesimpulan

Skena pada dasarnya adalah ekosistem sosial dan ruang kreatif berbasis minat bersama, terutama di dunia musik dan seni independen. Meskipun saat ini mengalami komodifikasi dan sering menjadi bahan lelucon di media sosial, kehadiran skena tetap menjadi salah satu penggerak utama dinamika budaya anak muda di Indonesia.

Berita sebelumyaGrand Mercure Solo Baru Rilis Sangsaka, Minuman Spesial Kemerdekaan RI